Nilai Manusia Di Mata Manusia

Jika dengar judul di atas, apa yang terlintas di benak kalian? Sejujurnya segala ini tentang manusia yang suka menilai manusia lain. Tidak salah untuk menilai karena mungkin penilaian itu bisa membuat kita muhasabah diri, menilai kekurangan diri sendiri. Tapi kebanyakan manusia yang menilai sekarang ini adalah penilaian yang menemukan kelemahan dan bukannya membangun.
Jika ada salah & khilaf, tegurlah dengan cara baik. Rasulullah SAW juga menggunakan cara yang penuh hikmah & bijaksana. Bukankah lebih baik jika sesuai cara yang dianjurkan Rasulullah SAW itulah sebaik-baik petunjuk?



Husnuzon (bersangka baik)
Cobalah untuk menegur dengan cara baik. Sering diberi penekanan tentang ukhwah. Fahamkah kalian dengan apa yang dimaksud dengan 'ukhwah'? Tahukah kalian rukun-rukun ukhwah? Kita harus mengurangi prasangka karena kebanyakan prasangka itu adalah dusta & dosa. Cobalah untuk selalu bersangka baik dengan sahabat karena manusia itu tidak sempurna, ada khilafnya. Jika kalian merasakan kalian benar-benar hebat, pasti kalian lebih arif tentang segala hal dasar dalam ukhwah karena kalian merupakan insan-insan yang dibekali ilmu agama yang tinggi. Wallahu'alam








Menilai = Muhasabah
Amat bersyukur karena kalian bijak menilai manusia lain. Segalanya menunjukkan kalian prihatin akan insan sekeliling. Tapi menilai itu biarlah dengan cara yang baik. Jangan hanya karena kesalahan yang kecil yang mampu diubah, habis segala kebaikan yang dilakukan dinafikan. Jika melihat insan lain memiliki kekurangan, seharusnya kalian bersyukur karena tidak seperti mereka. Jika melihat insan lain itu memiliki kelebihan, muhasabahlah kekurangan yang ada pada diri kalian itu. Jika dilihat hamba Allah itu tidak seperti yang diharapkan, kalian seharusnya mendoakan perubahannya ke arah kebaikan. Bukannya kalian mengeluarkan kata-kata seperti .. 

"... ... Tapi pada hakikatnya, debu pun tidak ada ... .."
 

Apakah yang dimaksud dengan 'debu' tersebut? Pahala kah? Dosa kah? Istiqomah kah?

Jangan dipungkiri kebaikan
Biar seburuk apa pun kesalahan seseorang, jangan dinilai & dinafikan kebaikan yang dilakukannya. Yang baik tetap baik. Yang buruk tetap buruk. 2 benda yang signifikan bedanya. Jangan menyamakan 2 hal tersebut. Tidak perlu dikeluarkan kalimat seperti ..
 

"... Hebat berkata-kata di fb, berdakwah .. jangan berpura-pura untuk publisitas murahan .." 

MasyaAllah .. kata-kata ini yang memang tak layak untuk insan hebat seperti kalian keluarkan dari bibir yang selalu berzikir memuji Allah, hati yang selalu ingat pada Allah, zahiriah yang selalu kuat bermunajat pada Allah, spiritual yang bersih dari noda.
 

Biarkan jika benar-benar hamba Allah itu hebat berkata-kata di Facebook. Setidaknya masih ada kebaikan yang dilakukannya. Masih lagi hatinya hidup untuk menyadarkan manusia akhir zaman kini. Mungkin jua kata-katanya itu untuk peringatan dirinya sendiri. Memang diakui kalian memang insan-insan yang hebat tapi janganlah kebaikan hamba Allah yang lain yang ingin mengubah dirinya ditolak. Bersyukurlah dengan apa yang kalian ada.
 

Berdakwah merupakan lingkup yang penuh ranjau. Alhamdulillah karena hamba Allah itu masih mau berdakwah meskipun hanya di Facebook. Siapalah kita untuk menentukan siapa yang berhak berdakwah atau tidak. Puas hatikah kalian jika hamba Allah itu menyebarkan hal lagha semata di Facebook?
 

Jika benar dia tidak mengamalkan apa yang didakwahkan, itu urusan dirinya dengan Allah yang Maha Adil & Maha Mengetahui. Dia akan dipertanyakan tentang praktek yang tidak seiring kata-katanya. Tidak perlu kalian khawatirkan tentang itu. Sedarlah bahwa Allah itu Maha Adil.
 

Publisiti murahan. Satu lagi frase yang cukup 'mengejutkan' untuk disampaikan dari mulut insan-insan sehebat kalian. Tahukah kalian apa sebenarnya yang terjadi pada hamba Allah itu? Mungkin hamba Allah itu sedang lemah, jadi dia ingin berdakwah di Facebook sebagai peringatan & semangat untuk dirinya. Tidak ada istilah publisiti murahan yang patut dikeluarkan. Mungkin hamba Allah itu sedang berjihad. Hanya Allah yang tahu apa yang terjadi pada orang itu. Belajarlah untuk memahami insan lain.

Penilaian Allah itu Adil
Manusia sama saja di sisi Allah cuma yang membedakan adalah tingkat keimanan & ketakwaan. Allah akan mengangkat mereka itu beberapa derajat. Allah saja yang lebih tahu tentang apa yang terjadi. Iman, semangat, kekuatan manusia itu ada seluruh naiknya. Semoga kita semua sama-sama bermuhasabah diri pada kekurangan & kelebihan masing-masing. Banyakkan berdoa untuk orang lain bukan banyak berharap untuk orang lain menjadi seperti apa yang kita inginkan. Masing-masing ada 'life story'masing-masing. Banyakkan berhusnuzon.


Konklusi:
1. Husnuzon itu tanda eratnya ukhwah.
2. Menilai biarlah dengan niat muhasabah.
3. Setiap orang ada kelebihan, kekurangan. Jangan dipungkiri kebaikan yang dilakukan.
4. Penilaian Allah Maha Adil, kita belum cukup hebat untuk menilai orang lain.
5. KEJARLAH REDHA ALLAH BIARPUN dengan kemurkaan MANUSIA, TAPI JANGAN DIKEJAR KEREDHAAN manusia dengan kemurkaan Allah.
6. Semoga kita sama-sama diterima di sisi Yang Maha Pencipta.

Ma Fi Qalbi Ghairullah (Dalam hatiku cukuplah ada Allah)
Segala yang sekedar sharing & peringatan buat diri ini. Maaf atas segala kekurangan. Terima kasih atas segala kesempatan. Semoga ridha Allah selalu mengiringi kita .. wallahu'alam ~



(http://pagisyawal.blogspot.com/2010/10/nilai-manusia-di-mata-manusia.html)

NB:
when i was galau dengan apa yang aku lakukan selama ini, dan ternyata.. lebih baik aku diam.
Diam bukan berarti tidak peduli.
I love u all, guys.
Mohon maaf atas segala 'cubitan' yang mungkin terlalu sakit bagimu. Dan apabila hal itu terulang, semoga semata-mata karena Allah Ta'ala.. tidak pernah ada niatan buruk dengan segala artikel yang telah kuberikan padamu.


"Ketika kita menginginkan orang lain untuk memahami kita, cobalah untuk memahami apa yang dipikirkan oleh orang lain itu sehingga kita dapat mengetahui apa sebenarnya niatan orang tersebut melakukan hal ini kepada kita." (maul)

0 komentar:

maul's articles