lagi-lagi tentang amanah…


“Berbahagialah seorang hamba yang memegang tali kudanya di jalan Allah, rambutnya acak-acakan, dan dua kakinya berdebu. Bila ia (ditugaskan) di pos penjagaan, ia tetap di pos penjagaan, dan bila (ditempatkan) di barisan belakang, ia tetap di barisan belakang tersebut..” (Fathul Bari 6/95, no. 2887)


Wahai Rasulullah”… seru Abu Dzar al-Ghifar. Sesosok sahabat yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuannya dan kesolehannya “tidakkah engkau memberiku jabatan?” Kemudian Rasulullah menepuk pundak Abu Dzar, lalu beliau bersabda, ”Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau itu lemah, sedangkan jabatan itu amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajiban yang diembankan kepadanya.” (Muttafaqun `Alaihi)

Di lain kesempatan, Rasulullah berkata ”Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (H.R. Muslim).

Sungguh, berbicara masalah amanah itu takkan terlepas dari bagaimana kita menyikapi setiap kontribusi yang akan diberikan ketika sudah memegang amanah. Setidaknya ada dua poin penting yang harus diperhatikan dalam menyikapi amanah. Pertama, amanah/jabatan merupakan sarana untuk bisa menegakkan kalimatullah di muka bumi ini dan yang kedua adalah kita harus menilai diri sendiri apakah sanggup untuk menerima amanah tersebut. Jangan sampai kita meminta amanah yang kita sendiri tidak mampu untuk mengembannya. Hanya menginginkan posisi strategis agar dipandang baik dan dihargai dimata manusia, atau bahkan lebih parah lagi hanya untuk melengkapi daftar kesuksesan planning agar bisa di tulis di dalam curriculum vitae, sebuah capaian yang sangat rendah sekali bila kita berharap yang seperti itu. Karena hidup ini pada hakikatnya hanyalah untuk Allah semata, bukan untuk dihargai di mata manusia. Keistiqomahan dan keikhlasan seorang hamba dalam meniti jalan yang di ridhai-Nya akan membawanya akan pada suatu kondisi dimana mereka tidak peduli dengan seberapa banyak tepukan tangan manusia yang ditujukan untuknya, atau seberapa sering bisik pujian terdengar di telinganya. Yang ia inginkan hanya keridhaan Allah semata. Karena mereka yang ikhlas dan istiqomah akan tetap dikenal langit, meskipun sama sekali tidak dikenal dibumi.

Khalid bin Walid, seorang sahabat yang dikenal sangat piawai dalam memimpin perang, hampir semua peperangan yang dipimpin olehnya selalu meraih kemanangan . Namun suatu ketika Khalifah Umar justru membuat keputusan sangat tegas, yakni mencopot jabatan Khalid Bin Walid sebagai pemimpin panglima perang sekaligus tidak memerintahkan beliau terlibat dalam pertempuran yang sedang dipimpinnya. Umar menggantikannya dengan panglima baru yaitu Abu Ubaidah. Dengan ikhlas Khalid menerima alasan itu. Oleh Khalifah Umar Ibn Khattab Khalid dikirim ke front timur pertempuran tanpa pangkat apa-apa. Mungkin ada bisikan syetan untuk selalu menggoda keikhlasan Khalid menerima keputusan tersebut, akan tetapi Khalid bin Walid tegas menjawab pertanyaan heran, mengapa mau-maunya ia bertempur dibawah komando orang lain sementara ia dimakzulkan (dicopot) dari posisi panglima? Ia berjihad karena Allah, bukan karena Umar. Ia tetap beramal dengan giat di bawah komando Abu Ubaidah yang menggantikannya, tanpa menggerutu dan tanap ataupun kecewa.

Di sini kita belajar bahwa dimanapun posisi kita, entah sebagai pemimpin ataupun yang dipimpin, kita harus memiliki jiwa leadership, siap untuk berkontribusi saat menjadi seorang pemipin. Pun begitu juga ketia kita hrus menjadi bagian dari orang-orang yang dipimpin. Karena kepemimpinan itu hanyalah jabatan formal yang suatu saat akan berganti dan diserahkan kepada orang lain. Saya teringat sebuah sms dari salah seorang teman bahwa menjadi orang penting itu baik, akan tetapi lebih penting lagi untuk menjadi orang yang baik.”

Kontribusi dan karya para sahabat tidak dibatasi oleh jabatan formal mereka. Apapun posisinya, mereka saling bahu membahu menyebarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat Arab kala itu. Mereka tidak menjadikan posisi/jabatan sebagai alasan untuk berkontibusi atau tidak.

Bila sebuah amanah kemuaidan dijadikan sebuah komoditi untuk meraih kekuasaan atau materi (dunia), maka itulah awal dari hancurnya sebuah bangsa. “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya.” Begitulah ancaman Rasulullah SAW. Lalu seperti apa bentuk amanah yang disia-siakan itu? Kemudian beliau melanjutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks kelembagaan Dakwah kampus, mungkin sering kita mendengar ada seorang aktifis dakwah yang kecewa karena tidak mendapat amanah tertentu atau tidak menempati posisi strategis di fakultasnya. Hingga kondisi tersebut membuatnya menjauh dari lingkungan lembaga tersebut dan bahkan lama-kelamaan akan menjauhi dakwah ini. Kita mungkin perlu membaca lagi sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh al-Hakim, “Barangsiapa yang mengangkat seseorang (untuk suatu jabatan) karena semata-mata hubungan kekerabatan dan kedekatan, sementara masih ada orang yang lebih tepat dan ahli daripadanya, maka sesungguhnya dia telah melakukan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman”. (H.R. al-Hakim).

Boleh jadi seseorang tidak mendapat amanah formal dikampus karena memang bukan kualifikasi kompetensinya atau beum saatnya untuk menerima amanah tersebut. Karena kesiapan diri itu harus mencakup seluruh elemen seorang aktifis dakwah, baik itu kesiapan fisik, mental, fikrah, dan hati.

Diantara kesiappan-kesiapan tersebut, yang harus lebih diperhatikan oleh seorang aktifis dakwah adalah kesiapan hati. Ia harus siap untuk menata hatinya. Mengemban amanah dengan penuh keikhlasan hanya untuk mencari ridha Allah semat. Ia juga harus siap bila ternyata amanah yang diimpi-impikan tersebut tidak menghampirinya. Amanah itu memang ibarat musuh, jangan dinanti jangan cari. Akan tetapi bila ia sudah datang menghampiri, jangan pergi dan melarikan diri.

Kita juga perlu belajar dari Shirah Khulafaur Rasyidin, dimana sepeninggal Abu Bakar, ia menunjuk Umar Ibn Khattab sebagai penggantinya. Bukan Utsman bin Affan yang secara usia lebih tua dari Umar. Bila dilihat dari usia keislamannya pun, Usman termasuk bagian dari Assabiqunal Awwalun. Sahabat-sahabat mulia yang pertama kali masuk Islam. Berbeda dengan Umar Ibn Khattab yang keislamannya baru beberapa tahun kemudian dan sebelumnya menjadi musuh besar dakwah Islam.

Disini kita diajarkan pula bahwa usia ‘akademik’ seorang tidak menjadi alasan untuk menghambat penentuan apakah seseorang itu layak atau tepat untuk diberikan amanah. Karena pada dasarnya amanah itu diberikan tidak hanya pada orang yang terbaik, akan tetapi pada orang yang tepat.

Semoga kita bisa memahami bahwa amanah itu bukan untuk dicari, bukan untuk diimpi-impikan, akan tetapi buatlah diri ini siap untuk menerima amanah itu. Mempersiapkan diri bukan berarti kita harus mendapat amanah tersebut. Karena bila pola pikir seperti itu, maka yang timbul adalah kekecewaan ketika yang terjadi tidak sesuai dengan harapan.

Wallahu a’lam



(http://salamic.wordpress.com/)

0 komentar:

maul's articles