Dhaif, Hadits ‘Perbedaan Adalah Rahmat’

Tiap kali terjadi perbedaan di kalangan umat Islam, hampir selalu orang mengutip hadits “ikhtilafu ummati rahmatun“, perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat. Padahal, menurut ahli hadits, hadis tersebut sangat lemah (dhaif), tidak memiliki dasar, dan tidak dikenal di kalangan para ulama hadits.

Menurut Al-Albani dalam “Silsilah al Ahadits adh Dhaifah” (1/141), hadits “Perbedaan umatku adalah rahmat” tersebut tidaklah memiliki dasar.

Para ahli hadits berupaya meneliti tentang sanadnya, namun mereka semua tidak mendapatkannya, kecuali perkataan Suyuthi di dalam “al Jami’ ash Shoghir”: ”Barangkali ia diriwayatkan didalam beberapa kitab para Hufazh yang belum sampai kepada kita.” Dan ini jauh menurutku (Al Albani) jika ada dari beberapa hadits Nabi saw yang hilang dan ini tidak pantas diyakini oleh seorang muslim.

Al-Manawiy menukil dari as Subkiy, dia mengatakan, hadits tersebut tidak dikenal di kalangan para ulama hadits dan aku tidak menemukan bahwa hadits itu memiliki sanad yang shahih, lemah, atau maudhu’. Hal itu ditegaskan oleh Syeikh Zakaria al Anshariy didalam catatannya tentang “Tafsir al Baidhowi” (2/92). (as Silsilah adh Dhaifah juz I hal 134).

Dari sisi substansi, makna hadits ini juga dikritik oleh para ulama. Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata: “Perselisihan bukanlah rohmat, persatuan itulah yang rahmat, adapun perselisihan maka ia adalah kejelekan dan kemurkaan sebagaimana dikatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud.” (Syarh Mandhumah Al-Ha’iyah hlm. 193).

Al-Allamah Ibnu Hazm menjelaskan, “perbedaan adalah rahmat” itu selain bukan hadits, juga perkataan merusak. Katanya: “Dan ini adalah perkataan yang paling rusak. Sebab, jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzab. Ini tidak mungkin dikatakan seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan adzab”.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani juga berkata: “Termasuk diantara dampak negatif hadits ini adalah banyak diantara kaum muslimin yang terus bergelimang dalam perselisihan yang sangat runcing diantara madzhab empat, dan mereka tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan hadits yang shohih sebagaimana perintah para imam mereka, bahkan menganggap madzhab seperti syariat yang berbeda-beda! Mereka mengatakan hal ini padahal mereka sendiri mengetahui bahwa di antara perselisihan mereka ada yang tidak mungkin disatukan kecuali dengan mengembalikan kepada dalil, inilah yang tidak mereka lakukan! Dengan demikian mereka telah menisbatkan kepada syari’at suatu kontradiksi! Kiranya, ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ini bukanlah dari Allah bila mereka merenungkan firman Allah tentang Al-Qur’an:

“Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)

Ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa perselisihan bukanlah dari Allah, lantas bagaimana kiranya dijadikan sebagai suatu syari’at yang diikuti dan suatu rahmat. Wallahu a’lam.


(http://zonaislam.net/?p=13052)

0 komentar: