Showing posts with label siroh. Show all posts
"PERLOMBAAN ABU BAKAR ASH SHIDIQ & UMAR BIN KHATHAB radhiyallaahu 'anhum DALAM KEBAIKAN"



Pada masa Khulafaur Rasyidin radhiallahu ‘anhum, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan membantu orang yang membutuhkan dan menolong orang yang teraniaya.

Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhuma termasuk orang yang gigih bersaing di dalam amal kebaikan yang mulia ini, yang pelakunya mendapatkan kebaikan besar di dunia dan banyak pahala di akhirat.

Ada sebuah kisah yang terjadi pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Pada saat itu Umar mengawasi apa yang dilakukan oleh Abu Bakar. Lalu dia melakukan dua kali lipatnya sehingga dia mendapatkan kebaikan dan berbuat lebih dari Abu Bakar dalam hal kebaikan.

Suatu hari, Umar mengawasi Abu Bakar di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat itu Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan Abu Bakar kecuali rahasia urusan gubuk tersebut.

Hari-hari terus berjalan, Abu Bakar tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar masih belum mengetahui apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya.

Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan mata kepalanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya di situ.
Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapatkan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan apa yang dilihatnya, dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu.

Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?” Nenek menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makanan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku.”

Umar menekuk kedua lututnya dan kedua matanya basah oleh air mata. Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh, engkau telah membuat lelah khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar.”

Maa syaa Allah... Semoga bermanfa'at.
Wallaahu a'lam bish shawwab.
Assalamu'alaikum wr wb.



Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka,
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya.
“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya.
Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namannya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.
Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, "Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaannya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.
“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini"

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika.
Labbaika la syarika laka labbaika.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.
laa syarika laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah
Ya Allah aku rindu melihat kabah
Ijinkan aku datang…..
ijinkan aku datang ya Allah..

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.
“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ya sayang”
“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”
"Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh.
Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit.
Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan “tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.
Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.
Dalam hati saya : Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim? Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.
Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.
“Ini masakan untuk mu”
"Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.”
"Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”
Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mAta. Fi kitab irsyadul ibad ila sabiila rosyad.

Wassalamu'alaikum wr wb
Sahabat nabi saw adalah insan yang paling mulia selepas nabi kerana pengorbanannya dalam membantu berjuang bersama nabi saw, jasa mereka tidak mampu dibayar melainkan jannah Allah swt. Firman Allah swt dalam Quran:
Dan orang-orang yang terdahulu – yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari orang-orang “Muhajirin” dan “Ansar”, dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan (iman dan taat), Allah reda akan mereka dan mereka pula reda akan Dia, serta Ia menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah ayat: 100) 
Tafsir Ibnu Katsier :
Allah Swt memberitahu tentang redha-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk islam dari golongan Muhajirin dan Ansar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik- baiknya. Bagi mereka itu semuanya Allah menyediakan kehidupan di surga dengan segala nikmat dan kebahagiaannya.
Beserta dengan ini marilah bersama mengenal mereka dengan mengungkap kisah sahabat ra pada minngu ini mengenai kisah Abu Hurairah ra, yaitu Bapaknya para Kucing.

Tokoh kita ini biasanya berpuasa sunah tiga hari setiap awal bulan Qamariah (bulan Arab dalam peninggalan Hijri), mengisi malam harinya dengan membaca Al-Quran dan solat tahajud. Akrab dengan kemiskinan, beliau sering mengikatkan batu ke perutnya, bagi menahan lapar. Dalam sejarah beliau dikenal sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadith. Dialah Bapaknya para Kucing (Abu Hurairah), begitu orang mengenalnya.
Kenapa beliau dikenal sebagai “Bapak Kucing”? Di waktu jahiliyah namanya dulu Abdu Syamsi ibn Shakhr Ad-Dausi, dan tatkala beliau memeluk Islam, beliau diberi nama oleh Rasul saw dengan Abdurrahman. beliau sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seekor kucing, yang selalu diberinya makan, digendongnya, dibersihkannya dan diberinya tempat. Kucing itu selalu menyertainya seolah-olah bayang bayangnya. Inilah sebabnya beliau digelar sebagai “Bapaknya para Kucing”.
Penghafal Hadits Terbesar Sepanjang Masa
Shahabat mulia Abu Hurairah adalah seorang perawi agung yang paling banyak meriwayatkan hadith. Dia mempunyai bakat yang luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan. Abu Hurairah r.a. mempunyai kelebihan dalam seni menghafal apa yang didengarinya, ingatannya mempunyai keistimewaan dalam segi menghafal dan menyimpan. Didengarnya, lalu terpatri dalam ingatannya, hampir tidak pernah beliau melupakan satu kata atau satu huruf pun dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia bertambah dan masa saling berganti. Oleh karena itulah, beliau telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah saw sehingga termasuk antara sahabat yang terbanyak menerima dan menghafal Hadith, serta meriwayatkannya.
Sewaktu datang zaman pemalsuan hadith yang dengan sengaja masyarakat membuat hadith-hadith palsu, seolah-olah ianya berasal dari Rasulullah saw. Mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalahgunakan keterangannya dalam meriwayatkan Hadith dari Nabi saw, hingga sering kali mereka mengeluarkan sebuah “hadith”, dengan menggunakan kata-kata: — “Berkata Abu Hurairah… ”
Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan keterangan Abu Hurairah dan kedudukannya selaku penyampai Hadith dari Nabi saw menjadikan ianya satu keraguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usaha dengan susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadith yang telah membaktikan hidup mereka untuk berkhidmat kepada Hadith Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya.
Di sana Abu Hurairah berhasil meloloskan diri dari jaringan kepalsuan dan penambahan yang sengaja hendak diselundupkan oleh kaum perusak ke dalam Islam, dengan mengkambinghitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya.
Beliau adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan yang mengkagumkan yang telah diciptakan. Dari seorang hamba upahan menjadi perawi hadith agung.
Dari seorang yang teronta-ronta di tengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan panutan. Dan dari seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang disusun, menjadi orang yang beriman kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Inilah Abu Hurairah ra sekarang bercerita dan berkata: “Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin. Aku menerima upah sebagai pembantu pada Busrah binti Ghazwan demi untuk mengisi perutku! Akulah yang melayani keluarga itu bila mereka sedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya bila sedang bepergian. Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah panutan ummat.!”
Islamnya Abu Hurairah
Jika dibandingkan Nabi saw, umurnya lebih muda sekitar 30 tahun. Dia lahir di Daus, sebuah desa miskin di padang pasir Yaman. Hidup di tengah kabilah Azad, beliau sudah yatim semenjak kecil, yang membantu ibunya menjadi penggembala kambing.
Abu Hurairah ra datang kepada Nabi saw di tahun yang ke tujuh Hijrah sewaktu beliau berada di Khaibar, beliau memeluk Islam karana dorongan kecintaan dan kerinduannya terhadap Islam. Dan semenjak beliau bertemu dengan Nabi Saw; dan berbai’at kepadanya, hampir-hampir beliau tidak pernah berpisah daripada nabi kecuali pada ketika waktu tidur. Begitulah berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah saw yakni sejak beliau memeluk agama islam hingga wafatnya Nabi, pergi jauh disisi Yang Maha Tinggi. Kita katakan: “Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan, sampai kepada perbuatan dan pendengaran!’
Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat kesempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan yang penting dalam berbakti kepada Agama.
Ketika itu pahlawan perang dikalangan sahabat amat banyak walhal ahli feqah, juru da’wah dan para guru amat sedikit. Tetapi lingkungan dalam masyarakat ketika itu amat memerlukan tulisan dari penulis. Di masa itu golongan manusia pada umumnya bukan hanya terbatas pada bangsa Arab saja bahkan termasuk juga benua eropah tidak mampu menulis. Dan tulisan itu belum Lagi merupakan bukti kemajuan terhadap masyarakat dikala itu.
Walaupun Abu Hurairah bukanlah seorang penulis, beliau hanya seorang ahli hafal yang mahir, di samping memiliki kesempatan atau mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan itu, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak punya perniagaan yang akan diurus.
Beliau menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang terakhir masuk Islam, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti Rasul terus menerus dan secara tetap menyertai majlisnya. Kemudian disadarinya pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, serta semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan do’a Rasul, agar pemilik bakat ini diberi Allah berkat.
Beliau telah menyiapkan dirinya dan menggunakan bakat dan kemampuan yang kurnia Ilahi untuk memikul tanggung jawab dan memelihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian.
Abu Hurairah bukan tegolong dalam barisan penulis, tetapi sebagaimana telah kita utarakan, beliau adalah seorang yang beketerampilan dalam bidang hafalan dengan mempunyai daya ingatan yang kuat. Karana beliau juga tidak punyai tanah yang akan diushakan atau perniagaan yang akan disibukkan, ini telah memberikan peluang untuknya berdamping dengan nabi saw, baik dalam perjalanan mahupun dikala menetap.
Begitulah beliau mempermahir dirinya dengan ketajaman daya ingatnya untuk menghafal Hadith-hadith Rasulullah saw. Sewaktu Rasul telah pulang ke Rafikul’Ala (wafat), Abu Hurairah terus-menerus menyampaikan hadith, yang menyebabkan sebahgian sahabatnya merasa hairan sambil tertanya-tanya di dalam hati, dari mana datangnya hadith-hadith ini.
Abu Hurairah telah memberikan penjelasan untuk menghilangkan rasa kecurigaan dan keraguan kepada sahabat lain, beliau berkata: “Tuan-tuan telah mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali mengeluarkan hadith dari Nabi saw. Dan tuan-tuan katakan pula orang-orang Muhajirin yang lebih dahulu daripadanya masuk Islam, tidak ada menceritakan hadith itu? Ketahuilah, bahwa sekalian sahabatku orang-orang Muhajirin itu, mereka sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedang sahabat-sahabatku dari orang Anshar sibuk degan tanah pertanian mereka. Sedang aku adalah seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain tidak. Dan aku tahu seandainya mereka lupa adalah karena kesibukan mereka.
Dan Nabi saw pernah berbicara kepada kami di suatu hari, berkata beliau: “Siapa yang membentangkan serbannya hingga selesai ucapanku, kemudian dia mengambil serban ke dirinya, maka ia tidak akan terlupa dedikitpun dari apa yang telah didengarnya dari padaku!”
Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengari daripadanya! Demi Allah kalau tidaklah karana adanya ayat di dalam Kitabullah nescaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikitpun melainkan! Ayat itu ialah:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam Kitab mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh para pengutuk (Malaikat-malaikat) !”
Demikianlah Abu Hurairah menjelaskan rahasia kenapa hanya ia seorang diri yang banyak mengeluarkan riwayat dari Rasulullah saw. Yang pertama: karena ia melowongkan waktu untuk menyertai Nabi lebih banyak dari para shahabat lainnya.
Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang kuat, yang telah diberi berkat oleh Rasul, hingga ia jadi semakin kuat. Ketiga, ia menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan hadits-hadits ini, merupakan tanggung jawabnya terhadap Agama dan hidupnya. Kalau tidak dilakukannya berarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalai yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalaiannya!
Oleh sebab itulah ia harus saja memberitakan, tidak suatupun yang boleh menghalanginya dan tidak jua seorangpun boleh melarangnya, hingga pada suatu hari Amirul Mu’minin Umar berkata kepadanya: “Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari Rasulullah! kalau tidak, akan kukembalikan kau ke tanah Daus. !” (yaitu tanah kaum dan keluarganya).
Tetapi larangan ini tidaklah mengundang suatu tuduhan bagi Abu Hurairah, hanyalah sebagai pengukuhan dari suatu pandangan saja oleh Umar, yaitu agar orang-orang Islam dalam jangka waktu tersebut, tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali Al-Quran hingga ia melekat dan mantap dalam hati sanubari dan fikiran.
Kerana Al-Quran adalah kitab suci Islam, Undang-undang Dasar dan risalah lengkap dan terlalu banyak mnceritakan tentang Rasulullah saw yang teristimewa. Tambahan lagi sewaktu wafatnya baginda Nabi saw, saat baru tercetusnya usaha menghimpunkan Al-Quran, maka ditakuti jika dihafal hadith pada ketika itu ianya akan mengundang campur aduk terhadap hadith dan quran!
Oleh karena ini, Umar berpesan: “Sibukkanlah dirimu dengan Al-Quran karena dia adalah kalam Allah.” Dan katanya lagi: “Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!”
Dan sewaktu beliau mngutus Abu Musa al-Asy’ari ke Irak beliau berpesan kepadanya: “Sesungguhnya anda akan mendatangi suatu kaum yang dalam mesjid mereka terdengar bacaan Al-Quran seperti suara lebah. maka biarkanlah seperti itu dan jangan anda bimbangkan mereka dengan hadith-hadith, dan aku menjadi pendukung anda dalam hal ini!”
Al-Qur’an sudah dihimpun dengan jalan yang sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dirembesi oleh hal-hal lainnya. Adapun hadits, maka Umar tidak dapat menjamin bebasnya dari pemalsuan atau perubahan atau diambilnya sebagai alat untuk mengada-ada terhadap Rasulullah SAW dan merugikan Agama Islam.
Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi beliau juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga beliau tak mahu menyembunyikan suatu pun dari Hadits dan ilmu selama diyakininya bahwa menyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan.
Demikianlah, setiap ada kesempatan untuk menumpahkan isi dadanya berupa Hadith yang pernah didengar dan ditangkapnya tetap jua disampaikan dan dikatakannya.
Hanya terdapat pula suatu hal yang merisaukan, yang menimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah ini, karena sering kali beliau berucap berkenaan Haditsnya maka akan adanya tukang hadits yang lain yang akan menyebarkan Hadits-hadits dari Rasul saw dengan menambah-nambah dan melebih-lebihkan hingga para sahabat merasa sulit terhadap sebahgian besar dari Hadith-hadithnya. Orang yang sering berbuat demikian adalah Ka’ab al-Ahbaar, seorang Yahudi yang masuk Islam.
Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan menghafal dari Abu Hurairah. Maka dipanggilnya beliau dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengkabarkan hadith-hadith dari Rasulullah saw. Sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balik dinding. Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali dan dimintanya membacakan sekali lagi Hadith-hadith tersebut yang telah ditulis sekretarinya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah walau sepatah kata pun!
beliau berkata tentang dirinya, — “Tak ada seorang pun dari sahabat-sahabat Rasul yang lebih banyak menghafal Hadith dari padaku, kecuali Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, karena beliau pandai menuliskan sedangkan aku tidak.” Dan Imam Syafi’i mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah: — “beliau seorang yang paling banyak menghafal di antara seluruh perawi Hadith yang sesamanya.” Sementara Imam Bukhari menyatakan pula: –“Ada delapan ratus orang atau lebih dari shahabat tabi’in dan ahli ilmu yang meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah.”
Demikianlah Abu Hurairah ra tidak ubah bagai suatu perpustakaan besar yang telah ditaqdirkan kebijaksanaannya dan keabadiannya bagi menyampaikan risalah dari baginda nabi rasulullah saw.


PUTRI-PUTRI RASULULLAH
Para ulama sepakat bahwa jumlah putri Rasulullah ada 4 orang, semuanya terlahir dari rahim ummul mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha.

1. Zainab binti Rasulullah
Zainab radhiallahu ‘anha menikah dengan anak bibinya, Halah binti Khuwailid, yang bernama Abu al-Ash bin al-Rabi’. Pernikahan ini berlangsung sebelum sang ayah diangkat menjadi rasul. Zainab dan ketiga saudarinya masuk Islam sebagaimana ibunya Khadijah menerima Islam, akan tetapi sang suami, Abu al-Ash, tetap dalam agama jahiliyah. Hal ini menyebabkan Zainab tidak ikut hijrah ke Madinah bersama ayah dan saudari-saudarinya, karena ikatannya dengan sang suami.

Beberapa lama kemudian, barulah Zainab hijrah dari Mekah ke Madinah menyelamatkan agamanya dan berjumpa dengan sang ayah tercinta, lalu menyusullah suaminya, Abu al-Ash. Abu al-Ash pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama mertua dan istrinya. Keluarga kecil yang bahagia ini pun bersatu kembali dalam Islam dan iman. Tidak lama kebahagiaan tersebut berlangsung, pada tahun 8 H, Zainab wafat meninggalkan Abu al-Ash dan putri mereka Umamah.

Setelah itu, terkadang Umamah diasuh oleh kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadis disebutkan beliau menggendong cucunya, Umamah, ketika shalat, apabila beliau sujud, beliau meletakkan Umamah dari gendongannya.

2. Ruqayyah binti Rasulullah
Ruqayyah radhiallahu ‘anha dinikahkan oleh Rasulullah dengan sahabat yang mulia Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Keduanya turut serta berhijrah ke Habasyah ketika musyrikin Mekah sudah sangat keterlaluan dalam menyiksa dan menyakiti orang-orang yang beriman. Di Habasyah, pasangan yang mulia ini dianugerahi seorang putra yang dinamai Abdullah.

Ruqayyah dan Utsman juga turut serta dalam hijrah yang kedua dari Mekah menuju Madinah. Ketika tinggal di Madinah mereka dihadapkan dengan ujian wafatnya putra tunggal mereka yang sudah berusia 6 tahun.

Tidak lama kemudian, Ruqoyyah juga menderita sakit demam yang tinggi. Utsman bin Affan setia merawat istrinya dan senantiasa mengawasi keadaannya. Saat itu bersamaan dengan terjadinya Perang Badar, atas permintaan Rasulullah untuk mejaga putrinya, Utsman pun tidak bisa turut serta dalam perang ini. Wafatlah ruqayyah  bersamaan dengan kedatangan Zaid bin Haritsah yang mengabarkan kemenangan umat Islam di Badar.

3. Ummu Kultsum binti Rasulullah
Setelah Ruqayyah wafat, Rasulullah menikahkan Utsman dengan putrinya yang lain, Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha. Oleh karena itulah Utsman dijuluki dzu nurain (pemilik dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki sahabat lainnya.

Utsman dan Ummu Kultsum bersama-sama membangun rumah tangga hingga wafatnya Ummu Kultsum pada bulan Sya’ban tahun 9 H. Keduanya tidak dianugerahi putra ataupun putri. Ummu Kultsum dimakamkan bersebelahan dengan saudarinya Ruqayyah radhiallahu ‘anhuma.

4. Fatimah binti Rasulullah
Fatimah radhiallahu ‘anha adalah putri bungsu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia dilahirkan lima tahun sebelum kenabian. Pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Pasangan ini dikaruniai putra pertama pada tahun ketiga hijriyah, dan anak tersebut dinamai Hasan. Kemudian anak kedua lahir pada bulan Rajab satu tahun berikutnya, dan dinamai Husein. Anak ketiga mereka, Zainab, dilahirkan pada tahun keempat hijriyah dan dua tahun berselang lahirlah putri mereka Ummu Kultsum.

Fatimah adalah anak yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gaya bicara dan gaya berjalannya. Apabila Fatimah datang ke rumah sang ayah, ayahnya selalu menyambutnya dengan menciumnya dan duduk bersamanya. Kecintaan Rasulullah terhadap Fatimah tergambar dalam sabdanya,

فاطمة بضعة منى -جزء مِني- فمن أغضبها أغضبني” رواه البخاري

“Fatimah adalah bagian dariku. Barangsiapa membuatnya marah, maka dia juga telah membuatku marah.” (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد، وفاطمة بنت محمد، ومريم بنت عمران، وآسية بنت مُزاحمٍ امرأة فرعون” رواه الإمام أحمد

“Sebaik-baik wanita penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, Asiah bin Muzahim, istri Firaun.” (HR. Ahmad).

Satu-satunya anak Rasulullah yang hidup saat beliau wafat adalah Fatimah, kemudian ia pula keluarga Rasulullah yang pertama yang menyusul beliau. Fatimah radhiallahu ‘anha wafat enam bulan setelah sang ayah tercinta wafat meninggalkan dunia. Ia wafat pada 2 Ramadhan tahun 11 H, dan dimakamkan di Baqi’.


PUTRA-PUTRA RASULULLAH

1. Al-Qashim bin Rasulullah

Rasulullah berkunyah dengan namanya, beliau disebut Abu al-Qashim (bapaknya Qashim). Qashim lahir sebelum masa kenabian dan wafat saat usia dua tahun.

2. Abdullah bin Rasulullah

Abdullah dinamai juga dengan ath-Thayyib atau ath-Thahir. Ia dilahirkan pada masa kenabian.

3. Ibrahim bin Rasulullah
Ibrahim dilahirkan pada tahun 8 H di Kota Madinah. Dia adalah anak terakhir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dilahirkan dari rahim Maria al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha. Maria adalah seorang budak yang diberikan Muqauqis, penguasa Mesir, kepada Rasulullah. Lalu Maria mengucapkan syahadat dan dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Usia Ibrahim tidak panjang, ia wafat pada tahun 10 H saat berusia 17 atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih dengan kepergian putra kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda,

“إن العين تدمع، والقلب يحزن، ولا نقول إلا ما يُرْضِى ربنا، وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون” رواه البخاري

“Sesungguhnya mata ini menitikkan air mata dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rab kami. Sesungguhnya kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari).


Kalau kita perhatikan perjalanan hidup Rasulullah bersama anak-anaknya, niscaya kita dapati pelajaran dan hikmah yang banyak. Allah Ta’ala mengaruniakan beliau putra dan putri yang merupakan tanda kesempurnaan beliau sebagai manusia. Namun Allah juga mencoba beliau dengan mengambil satu per satu anaknya sebagaiman dahulu mengambil satu per satu orang tuanya tatkala beliau membutuhkan mereka; ayah, ibu, kakek, dan pamannya. Hanya anaknya Fatimah yang wafat setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah juga tidak memperpanjang usia putra-putra beliau, salah satu hikmahnya adalah agar orang-orang tidak mengkultuskan putra-putranya atau mengangkatnya menjadi Nabi setelah beliau. Bisa kita lihat, cucu beliau Hasan dan Husein saja sudah membuat orang-orang yang lemah terfitnah. Mereka mengagungkan kedua cucu beliau melebih yang sepantasnya, bagaimana kiranya kalau putra-putra beliau dipanjangkan usianya dan memiliki keturunan? Tentu akan menimbulkan fitnah yang lebih besar.

Hikmah dari wafatnya putra dan putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sebagai teladan bagi orang-orang yang kehilangan salah satu putra atau putri mereka. saat kehilangan anaknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar dan tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridhai Allah. Ketika seseorang kehilangan salah satu anaknya, maka Rasulullah telah kehilangan hampir semua anaknya.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya.


Sumber

Oleh : Ust. Musyafa Ahmad Rahim, Lc. MA

Banyak orang menyangka, bahkan ada yang meyakini bahwa hubungan antara ummul mukminin Aisyah (RA) dengan Ali bin Abi Thalib (RA) sangatlah buruk. Mereka ber-ilusi bahwa hubungan buruk itu terjadi dimulai dari peristiwa Hadîtsul Ifki pada tahun 6 H dan puncaknya terjadi pada Waq`atul Jamâl (perang unta) pada tahun 35 H.
Bahkan seorang profesor di sebuah universitas Islam membuat pernyataan nyinyir di satu sisi dan ngesok di sisi yang lain saat menyatakan: “saya saja yang jelek begini tidak pernah ribut dengan mertua saya”. Pernyataan ini dilontarkan oleh si profesor dalam mengomentari peristiwa perang antara amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (RA) dengan ummul mukminin Aisyah (RA).

Bagaimana data-data sejarah yang valid bercerita tentang masalah ini?
Untuk mengetahui klarifikasi terkait masalah ini, ada baiknya seorang muslim/ah membaca kitab: عائشة أم المؤمنين (Aisyah Ummul Mu'minin) sebuah ensiklopedi besar yang khusus berbicara tentang ummul mukminin Aisyah (RA). Ensiklopedi ini ditulis oleh sekumpulan para ulama dibawah supervisi DR Alawi bin Abdul Qâdir As-Saqqâf dan telah mendapatkan banyak sekali apresiasi dari para ulama dan aktifis dakwah lainnya.
Diantara isi ensiklopedi ini terdapat penjelasan tentang hubungan antara ummul mukminin Aisyah (RA) dengan amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (RA).
Konten penjelasan dari ensiklopedi itu adalah sebagai berikut:Intinya, hubungan antara ummul mukminin Aisyah (RA) dengan Ali bin Abi Thalib (RA) adalah hubungan yang sangat baik, baik pada zaman Rasulullah SAW masih hidup, maupun setelah Rasulullah SAW wafat. Meskipun diantara keduanya terkadang, sekali lagi terkadang, terjadi perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah, dan meskipun diantara keduanya pernah terjadi “suatu peperangan”. Data-data sejarah yang valid berikut menjelaskan demikian:

1. Pada suatu hari, setelah terjadinya Waq`atul Jamâl, datanglah amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (RA) mengunjungi ummul mukminn Aisyah (RA), maka Ali pun bertanya: “apa kabar mu wahai ibunda?”. Maka ummul mukminin Aisyah (RA) menjawab: “Alhamdulillah dalam keadaan baik”. Maka Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (RA) berkata: “Semoga Allah SWT memberikan pengampunan kepadamu wahai ibunda”. (Ath-Thabarani dalam kitab Tarikh [3/55]). Lihat pula: al-Bidayah wan-Nihayah karya Ibn Katsir [10/468]).

2. Imam Ibn Jarir ath-Thabari menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib-lah yang memberikan isyarat kepada beberapa pasukannya agar unta yang dinaiki oleh ummul mukminin dilumpuhkan dan dibunuh saat terjadi Waq`atul Jamâl. Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (RA) menyeru kepada mereka: اُعْقُرُوا الْجَمَلَ؛ فَإِنَّهُ إِنْ عُقِرَ تَفَرَّقُوْا (lumpuh dan bunuh itu unta yang dinaiki oleh ummul mukminin, sebab, kalau unta itu terbunuh, niscaya pasukan yang ada di sekelilingnya akan membubarkan diri) [Tarikh Thabari 3/47].
Tafsir atas perintah Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (RA) ini adalah agar ummul mukminin Aisyah (RA) dalam keadaan selamat, sebab, saat itu unta dan penumpangnya, yaitu ummul mukminin Aisyah (RA) menjadi pusat sasaran anak panah dari pasukan “gelap” yang menyusup di barisan Ali dan yang menyusup di barisan ummul mukminin. Dan benar saja prediksi Ali bin Abi Thalib (RA), bahwa begitu unta tersebut terbunuh dan ummul mukminin terselamatkan, bubarlah pasukan yang mengelilinginya.

3. Secara simultan, saat amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (RA) mengeluarkan perintah isyarat untuk membunuh unta yang dinaiki oleh ummul mukminin Aisyah (RA), Ali juga memerintahkan kepada Muhammad bin Abu Bakar, yang tidak lain adalah saudara kandung ummul mukminin Aisyah (RA) dengan dibantu oleh beberapa orang lainnya, agar Muhammad bin Abu Bakar membawa pergi haudaj (“rumah” di atas unta) yang di dalamnya ada ummul mukminin Aisyah (RA) untuk dibawa pergi menjauh dari pasukan kedua belah pihak, dan Ali bin Abi Thalib memerintahkan kepada Muhammad bin Abi Bakar agar memeriksa haudaj kalau-kalau ada anak panah atau senjata lainnya yang bisa melukai ummul mukminin Aisyah (RA). ([Tarikh Thabari 3/73], [al-Bidayah wan-Nihayah 10/468]).

4. Pada saat Waq`atul Jamâl telah selesai, dan ummul mukminin Aisyah (RA) hendak meninggalkan kota Bashrah (sebuah kota di Iraq), untuk kembali ke Madinah, amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (RA) mengirimkan segala yang diperlukan oleh ummul mukminin, mulai dari kendaraan yang akan dinaiki, perbekalan, barang-barang lain yang diperlukan, dan juga pengawalan. Juga 40 wanita Bashrah dari “tokoh-tokoh” wanita Bashrah serta menunjuk Muhammad bin Abu Bakar, saudaranya, agar dia yang menjadi pimpinan pengawal perjalanan ummul mukminin Aisyah (RA). Dan pada saat hari keberangkatan tiba,amirul mukminin Ali bin Abi Thalib mendatangi tempat pemberangkatan ummul mukminin Aisyah (RA). Setelah semuanya siap, ummul mukminin keluar dari “rumah” tempat keberangkatan, dan berpamitan dengan semua yang hadir, dan berpamitan juga dari amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (RA) seraya berkata: “wahai putraku, jangan lah ada di antara kita yang saling mencela, demi Allah, apa yang pernah terjadi antara aku dan Ali di masa lalu (di masa hidup Rasulullah SAW), tidak lain hanyalah “peristiwa” antara seorang perempuan dengan keluarga (mantu), dan demi Allah, aku bersaksi bahwa Ali termasuk ahlul khair”. Maka Ali (RA)-pun berkata: “Demi Allah, apa yang ibunda katakan itu benar, tidak terjadi apa-apa antara diriku dengannya kecuali seperti itu, dan sungguh, dia (ummul mukminin) adalah seorang istri nabi kalian di dunia dan di akhirat”.
Kemudian ummul mukminin Aisyah berangkat melakukan perjalanan, dan Ali bin Abi Thalib (RA) mengantarnya sampai beberapa mil jauhnya.Kalau saja ummul mukminin Aisyah (RA) ada permusuhan dengan Ali bin Abi Thalib (RA), niscaya tidak akan mengucapkan kata-kata seperti itu, dan kalau saja amirul mukminin Ali bn Abi Thalib (RA) ada permusuhan dengan ummul mukminin Aisyah (RA), niscaya ia tidak akan membenarkan ucapan ummul mukminin Aisyah (RA). (Kisah lengkap point ini diceritakan oleh Saif bin Umar dalam kitabnya: al-Fitnah wa Waq`atul Jamal, hal. 183. Lihat pula Tarikh Thabari [4/544], al-Muntazhim karya Ibnul Jauzi [5/94], al-Kamil karya Ibnul Atsir [2/614], al-Bidayah wan-Nihayah [10/472]), Nihayatul Arab karya an-Nuwairi [20/50]).

5. Di saat acara “perpisahan” yang dihadiri banyak orang itu terjadi, ada dua orang hadirin yang mencela ummul mukminin. Yang satu mengatakan: “Semoga Allah SWT membalas pembangkanganmu wahai ummul mukminin!”. Dan yang satunya berkata: “Wahai ummul mukminin, bertaubat lah kamu kepada Allah, sebab kamu telah berbuat salah”.Berita atas peristiwa celaan ini sampai kepada amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (RA), maka Ali memerintahkan kepada al-Qa`qâ` bin `Amr untuk menangkap kedua orang itu, lalu kepada masing-masing dari keduanya, Ali bin Abi Thalib memerintahkan agar masing-masingnya didera dengan cambuk sebanyak seratus kali dalam keadaan bertelanjang dada. (al-Kamil [2/614], Nihayatul Arab [20/50]).

6. Tentang berkecamuknya Waq`atul Jamâl itu sendiri sebenarnya adalah karena ulah dari kalangan yang terlibat dalam pembunuhan amirul mukminin Utsman bin Affan (RA), di mana mereka membelah diri dalam dua bagian, sebagian menyusup ke dalam pasukan Ali bin Abi Thalib (RA) yang lalu menyerang pasukan Aisyah, dan sebagiannya lagi menyusup ke dalam pasukan Aisyah yang lalu menyerang pasukan Ali. Dan mereka melakukan keributan itu di sekitar unta yang dinaiki oleh ummul mukminin Aisyah (RA) untuk memancing orang-orang di luar mereka agar berperang. Mereka berusaha membunuh ummul mukminin Aisyah (RA), namun, kemudian amirul mukminin Ali bin Abi Thalib (RA) mengetahui siasat mereka itu, dan yang lalu memerintahkan pembunuhan unta dan penyelamatan ummul mukminin seperti tersebut di atas.

7. Di luar peristiwa Waq`atul Jamâl, hubungan diantara kedua sahabat nabi yang mulia ini sangat lah baik, masing-masing dari keduanya memuji yang lainnya, baik dari sisi ilmu, agama dan keshalihan.

Semoga sedikit kutipan yang saya bahasakan ulang ini memberi pemahaman yang benar, Aamiiin...

Inilah True Story yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab.

Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata,

"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!" "Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".
Umar segera bangkit dan berkata,

"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat', ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan tegas,
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?" pemuda lusuh balik bertanya.
"Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al Farisi yang berkata..
"Salman?" hardik Umar marah, "Kau belum mengenal pemuda ini,

Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.

Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.
Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
"Itu dia!" teriak Umar, "Dia datang menepati janjinya!".
Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
"Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku.." ujarnya dengan susah payah, "Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak.. waktu..".
"Kupacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana.."
"Demi Allah", ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, "Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?"

��"Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria.. tepat janji.." jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru,
lalu ia bertanya, "Lalu kau Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

��"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya", Salman menjawab dengan mantap.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
"Allahu Akbar!" tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak,
"Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu".
Semua orang tersentak kaget.
"Kalian.." ujar Umar, "Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?" Umar semakin haru.

��"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya" ujar kedua pemuda membahana.
"Allahu Akbar!" teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.

Begitupun kita disini, di saat ini..
sambil menyisipkan sebersit rasa iri karena tak bisa merasakannya langsung bersama saudara-saudara kita pada saat itu..

"Allaahu Akbar...". Laa Ilaa haa Illa Anta Subhaanaka innii kuntu minazhzzhaalimiin

Nabi Ayyub As  berkata , yang diabadikan oleh Al Quran, “Ya Allah , sungguh aku telah ditimpa penyakit,” (Quran 21:83), dan menggambarkan penghormatan kepada Allah dengan Ke-Maha SifatNya: ”Padahal Engkau adalah yang paling penuh belas kasihan dari orang-orang yang penuh belas kasihan”.

Dan kemudian dia tidak berdoa untuk situasinya harus segera diubah, ia sabar menanggung kesulitan, dan tidak membuat saran kepada Tuhan-Nya, dengan rasa hormat kepada-Nya.

Dengan demikian ia adalah contoh bagi hamba yang sabar, hatinya tidak menjadi tertekan dalam kesulitan, dan ia tidak menjadi gelisah ketika ia menderita ‘kesesakan’ seperti orang yang menderita di sepanjang waktunya.

Sebaliknya ia terlalu malu untuk meminta Rabb-nya untuk menghapus kesulitan, tapi ia serahkan kesedihan itu sepenuhnya kepada-Nya, yang Maha Mengetahui pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan yang diminta.
Dan pada saat ketika Ayyub menghadapi Rabb-nya dengan kekuatan iman tersebut dan sikap hormatnya terhadap Tuhannya, saat itulah jawaban Allah mengalirkan rahmatNya di akhir ujiannya..

Saya teringat dengan seorang tabi'in yaitu Uwais Al Qarni. Kata Rasulullah saw, dia tidak dikenal penduduk bumi tetapi sangat terkenal di langit. Hidupnya terbilang miskin, tapi tak pernah membuatnya menjadi lalai dalam beribadah atau membantu sesamanya. Jika ia mempunya rizki lebih, ia tak segan membagikannya kepada tetangganya yang sama-sama kesusahan.

Pekerjaannya hanya seorang pengembala, uang yang dihasilkannya digunakan untuk keperluan ia dan Ibunya sehari-hari. Siang hari ia bekerja sambil berpuasa, sedangkan malam hari ia gunakan untuk shalat dan bermunajat kepada Allah. Pakaian yang ia punya hanya yang melekat di tubuhnya saja.

Sedari kecil ia tak pernah mengenyam pendidikan formal, pendidikan hanya ia dapat dari kedua orangtuanya. Ia seringkali dicap sebagai anak bodoh. Tapi ia tak pernah memperdulikannya dan tetap semangat membantu sesama.

Ia juga seorang anak yang sangat taat pada Ibunya. Ia hidup di zaman Rasulullah saw tapi belum pernah bertemu langsung dengan Rasulullah saw. Namun karena kecintannya pada Rasulullah saw, ia meminta izin kepada ibunya untuk berangkat ke Madinah. Kurang lebih empat ratus kilometer ia berjalan kaki dari Yaman hingga tiba di kediaman Rasulullah saw, sayangnya Rasulullah saw saat itu tidak berada di rumah karena sedang berada di medan perang. Ia di hinggapi rasa bingung, ia ingin sekali bertemu Rasulullah saw tapi di satu sisi ia teringat akan pesan ibunya untuk tidak berlama-lama meninggalkannya. Akhirnya ia pun pulang tanpa bertemu dengan seseorang yang amat dicintainya.
***

Di atas adalah sekelumit kisah dari seorang tabi'in mulia Uwais Al Qarni.

Terkesan dengan julukannya, tidak di kenal penduduk bumi tapi terkenal di langit. Ia hanya berusaha menyibukan diri beribadah dan membantu orang lain, bukan menyibukan diri untuk menjadikannya seorang yang hanya terkenal di bumi saja.

Bagi kita yang kini terlihat biasa saja atau bahkan terlupa, seringkali di ejek (bukan karena perbuatan buruk) jangan pernah merasa bersedih. Jika kita sudah melakukan hal-hal baik dan terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Di bumi kita tanpa gelar tapi yakinlah bahwa kelak penduduk langit akan mengelu-elukan kita.
Di dunia, kita diberi ujian kemiskinan, selama hal itu tidak membuat kita lalai akan segala perintah Allah. Maka bersiaplah akan balasan yang dijanjikan Allah berupa Surga bagi orang-orang yang bersabar. Dan kekayaan abadi ada di Akhirat nanti bukan di Bumi ini.

Di Dunia, kita terlihat bodoh dan jauh dari ilmu, meskipun sebenarnya kita adalah makhluk yang sedang belajar segala hal. Tanpa ada manusia yang mengetahui proses belajar kita. Abaikan saja penglihatan mata orang-orang yang menatap sinis. Sungguh penilaian Allah jauh lebih penting.

Semoga kita bisa belajar dari keteguhan Uwais Al Qarni untuk tidak menatap dunia adalah segalanya. Hingga akhir hidupnya -Uwais yang sering diejek- pada pemakamannya banyak dihadiri makhluk berpakaian putih (malaikat) dan selepas disemayamkan, kuburannya langsung lenyap. Ruhnya langsung dibawa oleh malaikat.
***

Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Aku pergi ke tempat Uwais al-Qarni, aku mendapati beliau sedang duduk setelah selesai menunaikan shalat Shubuh.”

Aku berkata (pada diriku), “Aku tidak akan mengganggunya dari bertasbih. Setelah masuk waktu Zhuhur, beliau mengerjakan shalat Zhuhur. Dan begitu masuk waktu Ashar beliau shalat Ashar. Selesai shalat Ashar beliau duduk sambil berdzikir hingga tiba waktu Maghrib. Setelah shalat Maghrib beliau menunggu waktu Isya’, kemudian shalat Isya’.

Selesai shalat Isya’ beliau mengerjakan shalat hingga menjelang Shubuh. Setelah shalat Shubuh beliau duduk dan tanpa sengaja tertidur. Tiba-tiba saja beliau terbangun. Ketika itu aku mendengar dia berkata, ‘Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari mata yang senang tidur, dan perut yang tidak merasa kenyang’.”


(http://www.eramuslim.com/oase-iman/kiptiah-biasa-di-bumi-tak-biasa-di-langit.htm)

Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”. Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu Ialu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya.

Orang itu Ialu berkata: “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.

Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.

“Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:

“Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita.

Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka orang Arab itu pula berkata:

“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengan-Nya!” kata orang Arab badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirah-Nya,’ jawab orang itu. ‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanan-Nya!’

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:

“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah rnengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti!” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.


(http://situslakalaka.blogspot.com/2011/01/tangisan-rosulullah-menggoncangkan-arsy.html)

Kisah berikut ini adalah cerita mengenai sepenggal episode perjalanan dua orang sahabat dalam dalam mencari Ridho Allah SWT. Penggalan kisah ini terjadi ketika keduanya sedang dalam perjalanan Hijrah dari Makkah menuju Madinah.

Di sebuah goa di tengah-tengah gurun pasir tak bertepi, seseorang rela mengorbankan nyawanya demi sahabat yang dicintainya karena Allah SWT. Kisah yang terjadi di dalam Gua Tsur ini, mengajarkan kepada kita tentang arti kesetiaan dan keagungan pengorbanan para sahabat untuk Rasulullah SAW.

Dan tiba2 seekor ular mendesis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yg terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali Ia menarik kedua kakinya untuk menjauh. Namun, keinginan itu segera dienyahkan dari benaknya, tak ingin Ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah SAW. Abu Bakar meringis ketika ular itu mematuk pergelangan kakinya, sakit. Tapi kakinya tetap saja tak bergerak.

Sang ular kemudian bergerak pergi dalam hening setelah beberapa lama melilit kaki Abu Bakar. Kini Abu Bakar merasakan panas di sekujur tubuhnya. Rupanya bisa ular itu segera menjalar sangat cepat. Hingga tanpa sengaja, ia nyaris tak sanggup menahan rasa sakit dan air matanya pun menetes mengenai pipi Rasulullah SAW yang tengah berbaring.

"Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?" susra lirih Rasulullah SAW memenuhi udara dalam Gua.

"Tentu saja tidak, wahai Rasulullah. Saya ridho dan ikhlas mengikuti kemana pun Engkau pergi," Kata Abu Bakar sembari masih menahan rasa sakit.

"Lalu mengapakah Engkau meneteskan air mata?" tanya Rasululah menyelidik.

"Seekor ular baru saja menggigit saya, wahai putra Abdullah. Ternyata bisanya menjalar begitu cepat," terang Abu Bakar.

Lalu Rasulullah SAW menatap Abu Bakar penuh keheranan dan tak seberapa lama bibir manisnya bergerak. "Mengapa engkau tidak menghindarinya?"

"Saya khawatir bila gerakan saya membangunkanmu dari tidur lelap," jawab Abu Bakar sendu. Sebenarnya ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air matanya, hingga mengenai pipi Rasulullah dan membuatnya terjaga.

"Sungguh bahagia aku memiliki seorang sahabat sepertimu. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan," sabda Rasuullah SAW yang dengan penuh kasih sayang dan tanpa menunggu waktu, segera meraih pergelangan kaki sahabatnya yang baru saja digigit ular.

Dengan mengagungkan nama Allah, Nabi mengusap bekas gigitan ular di Abu Bakar dengan ludahnya.

Maha suci Allah, seketika rasa sakit itu tak lagi terasa. Abu Bakar segera menarik kakinya karena malu, sementara Rasulullah SAW masih memandangnya dengan penuh rasa sayang.

Goa Tsur terletak di luar kota Makkah, di sebelah arah menuju Madinah yang berjarak kurang lebih 600 km.


(http://situslakalaka.blogspot.com/2010/10/goa-inisaksi-kesetiaan-dan-persahabatan.html)
Khalid bin Walid adalah seorang panglima perang yang termasyhur dan ditakuti di medan tempur. Ia mendapat julukan "Pedang Allah yang Terhunus". Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang karirnya.

Khalid termasuk di antara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi Khalid, adalah istri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Awalnya Khalid bin Walid adalah panglima perang kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Pada saat Perang Uhud, Khalid yang melihat celah kelemahan pasukan Muslimin yang menjadi lemah setelah bernafsu mengambil rampasan perang dan turun dari Bukit Uhud, langsung menghajar pasukan Muslim pada saat itu. Namun justru setelah perang itulah Khalid masuk Islam.

Ayah Khalid, Walid bin Mughirah dari Bani Makhzum adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa di antara orang-orang Quraisy. Dia orang yang kaya raya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka’bah. Pada masa ibadah haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.

Suku Bani Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, merekalah yang mengurus gudang senjata dan tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit. Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang lebih dibanggakan seperti Bani Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam di lembah Abu Thalib, orang-orang Bani Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.
Ketika Khalid bin Walid masuk Islam, Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat membela panji-panji Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan Khalid diangkat menjadi panglima perang dan menunjukkan hasil kemenangan atas segala upaya jihadnya.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid ditunjuk menjadi panglima pasukan Islam sebanyak 46.000, menghadapi tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Dia sama sekali tidak gentar menghadapinya, dia hanya khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya karena pengangkatannya dalam peperangan yang dikenal dengan Perang Yarmuk itu.

Dalam Perang Yarmuk jumlah pasukan Islam tidak seimbang dengan pihak musuh yang berlipat-lipat. Ditambah lagi, pasukan Islam yang dipimpin Khalid tanpa persenjataan yang lengkap, tidak terlatih dan rendah mutunya. Ini berbeda dengan angkatan perang Romawi yang bersenjata lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak. Bukan Khalid namanya jika tidak mempunyai strategi perang, dia membagi pasukan Islam menjadi 40 kontingen dari 46.000 pasukan Islam untuk memberi kesan seolah-olah pasukan Islam terkesan lebih besar dari musuh.

Strategi Khalid ternyata sangat ampuh. Saat itu, taktik yang digunakan oleh Romawi terutama di Arab utara dan selatan ialah dengan membagi tentaranya menjadi lima bagian; depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Heraklius telah mengikat tentaranya dengan besi antara satu sama lain. Ini dilakukan agar mereka jangan sampai lari dari peperangan.

Kegigihan Khalid bin Walid dalam memimpin pasukannya membuahkan hasil yang membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan Islam yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah itu.

Perang yang dipimpin Khalid lainnya adalah perang Riddah (perang melawan orang-orang murtad). Perang Riddah ini terjadi karena suku-suku bangsa Arab tidak mau tunduk lagi kepada pemerintahan Abu Bakar di Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Rasulullah, dengan sendirinya batal setelah Rasulullah wafat.

Oleb sebab itu, mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan. Maka Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid untuk menjadi jenderal pasukan perang Islam untuk melawan kaum murtad tersebut, hasilnya kemenangan ada di pihak Khalid.

Masih pada pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai Al-Hirah pada 634 M. kemudian Khalid bin Walid diperintahkan oleh Abu Bakar meninggalkan Irak untuk membantu pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid.

Ada kisah yang menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Hal ini ditunjukkannya saat Khalifah Umar bin Khathab mencopot sementara waktu kepemimpinan Khalid bin Walid tanpa ada kesalahan apa pun. Menariknya, ia menuntaskan perang dengan begitu sempurna. Setelah sukses, kepemimpinan pun ia serahkan kepada penggantinya, Abu Ubaidah bin Jarrah.

Khalid tidak mempunyai obsesi dengan ketokohannya. Dia tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan. Itu dianggapnya sebagai sebuah perjuangan dan semata-mata mengharapkan ridha Sang Maha Pencipta. Itulah yang ia katakan menanggapi pergantiannya, "Saya berjuang untuk kejayaan Islam. Bukan karena Umar!"

Jadi, di mana pun posisinya, selama masih bisa ikut berperang, stamina Khalid tetap prima. Itulah nilai ikhlas yang ingin dipegang seorang sahabat Rasulullah seperti Khalid bin Walid.

Khalid bin Walid pun akhirnya dipanggil oleh Sang Khaliq. Umar bin Khathab menangis. Bukan karena menyesal telah mengganti Khalid. Tapi ia sedih karena tidak sempat mengembalikan jabatan Khalid sebelum akhirnya "Si Pedang Allah" menempati posisi khusus di sisi Allah SWT.


(http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/08/09/lpnl8x-kisah-sahabat-nabi-khalid-bin-walid-si-pedang-allah)