Showing posts with label me. Show all posts

Mau tsurhat..
Alhamdulillah acara walimahan kakak kemaren berjalan lancar dan semoga penuh berkah, aamiin.

Berasa aku yang nikah, apa-apanya ikut ngurus dan malah jadi tau butuhnya apa aja. Semua sudah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga dengan penuh mengharap ridhoNya, acara dapat terlaksana sesuai rencana.

Dimulai dari awal ya.. alhamdulillah ga pake pacar-pacaran :P ta'aruf berjalan dengan lancar (dari tadi berjalan-jalan mulu) -_-

Ta'arufnya gimana?

Dikenalin temen, yang insyaallah beliau dapat dipercaya, dan tau seluk beluk kedua calon.

Yakin itu yang tepat?
Bismillah.. kita niatkan segalanya lillahi ta'ala, berdoa, husnudzan ilallah, jika masih bimbang bisa istikharah.

Ngambil kata-kata dari temen, "berdoa itu gratis kog!" Jadi mulai sekarang, berdoalah sebanyak-banyaknya.. minta jodoh lah, rejeki lah, apapun boleh. Asal jangan lupa untuk berdoa agar hati ini senantiasa diniatkan lurus, semata-mata mengharap ridhoNya, bukan yang lain..

"Jika di dunia ini tidak ada yang menghargainya, yakinlah bahwa di langit ada yang memberkahinya.."

Jika sudah fixed dan yakin, yaudah datengin deh orangtua. Ngomong serius, rapat, persiapan, hari H. Sah. Alhamdulillah.

Jika sudah sampai tahap ini, ada baiknya jangan ngurek-urek kekurangan dan kejelekannya. Tiap manusia pasti punya kog sisi negatif dan kelam, dan kalo dicari ga kan ada habisnya.

Ibarat nih, kemaren aku beli mau beli hape. Udah nyari review dan speaifikasi leno*o sama a*us. Tapi pas disana, ternyata Allah berkehendak lain, jodohku adalah sams*ng. Trus kalo hape udah di tangan, mau diapain? ya dipake dong.. liat lagi spesifikasinya, cari keunggulannya, manfaatkan sebaik-baiknya. Jangan terus menggerutu & menyesali. Toh dengan kayak gitu hapenya ga bakalan berubah "cling" jadi len atau as.

Got it?

Intinya.. sabar, syukur, istighfar.
Sabarlah dengan kekurangan yang kita (aku, kamu, dia, mereka, kalian) miliki. Belajar untuk lebih baik lagi jika kekurangan itu memang harus diarahkan ke sisi yang positif.
Bersyukurlah dengan keadaan kita saat ini, apa yang kita miliki sekarang. Pertahankan hafalan, kebaikan hati, husnudzan, dan sifat-sifat positif yang kita latih pada diri dan hati kita sendiri.
Istighfar jika setitik saja ada prasangka terhadap orang lain. Doakan kebaikan untuk kita semua, agar dijauhkan dari keburukan jiwa.

Selanjutnya.. ternyata ada satu hal yang "lupa" aku persiapkan. Yaitu, ditinggalin kakak.. :'(
Ya.. sama sekali ga nyangka kalo ditinggalin sama orang yang selama ini selalu bareng, sakitnya tuh.. di awal doang, selanjutnya, berganti jadi senyuman haru.

Disanalah ladang surgamu sekarang, my beloved sister :*
Barakallahulakuma wa baraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fii khair :') :')

------------------------

Setitik perjalanan yang dilalui oleh adek-adek yang punya kakak, trus ditinggal nikah. Ya, setitik aja..

Assalamu'alaikum
Selamat datang di Galeri Mueeza

Mueeza Facebook Fanpage



Ada apa disini?
Ada produk baru, namanya pasmina pet syar'i. Terinspirasi dari orang-orang yang pengen pake pasmina tapi pipinya bulet dan ga pede kalo tanpa pet, hehee..

Bahannya woolpeach yang lembut dan jatuh, insyaallah ga nerawang.


Warna yang dipesan sesuai stok kain yang tersedia (update)

Before and After
FREE PIN untuk pembelian 3 pcs

Dapatkan pula gambar-gambar 'handmade', alias (belajar) desain sendiri, hehee
Semoga bermanfaat :D
 ^Barakallahu fii kum^

Bismillah..
tampilan baru nih

Kalo mau liat lengkapnya, buka aja salah satu artikel. Nanti kamu bakal liat widget-widget seperti biasanya di sebelah kanan, hehee..

Oh iya.. mau liat daftar artikel? scroll ke bawah ya


^Happy Blogging^

Mungkin banyak diantara kita menjumpai orang pandai, sukses dan terkenal. Namun ketika ditanya bagaimana detilnya hingga dia bisa meraih kesuksesan tersebut itu, dia cenderung menutupinya atau hanya membagikan sedikit saja. Entah apa alasannya, mungkin karena takut tersaingi, takut lihat orang mengikuti jejaknya, atau apalah…

Ada cerita lain, seorang yang pandai atau sukses namun dia hanya mau membagikan ilmunya kepada beberapa teman dekatnya, komunitasnya, atau bisa dibilang pilih-pilih teman. Padahal bukan tidak mungkin banyak orang lain disekitarnya ingin ikut merasakan belajar atau menyerap ilmu darinya.

Kira-kira, hal ini bisa mengundang iri, nelangsa, atau sakit hati orang lain nggak ya?

Kisah lainnya lebih unik lagi, ada orang pandai dan sukses yang mau membagikan ilmunya asalkan ada uang. Yah, jadi kepada siapa saja yang memiliki uang dan mau membayarnya, maka kepada merekalah ilmu tersebut akan dibagikan. Bagi yang banyak uangnya, mungkin bukan masalah, tapi bagaimana dengan seseorang yang berkeinginan kuat untuk belajar, sedangkan dia tidak memiliki uang untuk membayar?

Teman, mungkin benar ilmu itu mahal harganya. Ilmu itu butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Ilmu itu sangat berharga, dan apalah itu…

Namun ingat temanku, Ilmu itu datangnya dari siapa? Semua ilmu, kecerdasan, dan kelebihan yang kalian miliki datangnya  dari Allah SWT.  Bayangkan jika Allah mencabut sedikit syaraf dalam otak kalian, sehingga kalian tidak memiliki kemampuan untuk mengingat apapun, apakah kalian masih bisa menyombongkan ilmu yang kalian miliki? Apakah kalian bisa membanggakan kelebihan yang dulu kau punyai?

Selama masih ada kesempatan berbagi, berbagilah teman! Sebarkanlah ilmu yang bermanfaat kepada orang-orang disekitarmu tanpa tebang pilih. Berbagilah hingga akan lebih banyak lagi orang-orang yang mengikuti jejak kesuksesanmu.

Ancaman Allah pada orang yang pelit berbagi Ilmu

Teman, ingatlah ancaman Allah terhadap orang yang pelit ilmu dalam hadits berikut, yang artinya :

Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya, maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka. (HR Abu Dawud)

Dalam Hadits diatas Allah melaknat manusia yang pelit berbagi ilmu. Orang pelit berbagi ilmu ibarat orang yang menimbun harta kekayaan, sementara orang di sekitarnya mengalami kelaparan. Maukah kalian disebut seperti itu? Jadi teman, tidak ada alasan apapun untuk pelit berbagi ilmu! Bagikan ilmumu sehingga bermanfaat bagi orang lain, lalu nikmatilah hasilnya kelak di akhirat.
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh (HR. Muslim no. 1631)
Semoga tulisan diatas bermanfaat dan membuat kita lebih semangat lagi dalam berbagi ilmu dan kemampuan kita kepada orang lain.


Ketika apa yang kita alami tidak sesuai dengan keinginan..
Ketika apa yang kita harapkan belum dikabulkan..
Apakah lantas itu berarti Allah tidak sayang?
Sama sekali bukan..

Bukan berarti ilmu yang pernah kita timba namun ternyata berbeda dengan bidang yang saat ini digeluti, itu sia-sia..
Sama sekali bukan..

Bukan berarti biaya yang telah orang tua keluarkan untuk membiayai kita itu sia-sia..
Sama sekali bukan..

Jika kita mengeluh "hanya" karena apa yang dipelajari tidak sesuai dengan aplikasi, bukankah itu sebenarnya kita mengesampingkan anugerah dari Allah? bukankah itu artinya kita tidak bersyukur? 


Allah dengan segala ke-Maha Besar-an Nya telah menganugerahkan potensi kepada setiap manusia.
Kita hanya perlu menggali dan mengasahnya. Ya, seluruh potensi yang ada di setiap manusia, jika diimbangi dengan ilmu, serta kesyukuran, makan tidak ada istilah "ilmunya sia-sia".
Bismillah..
Lagi suka belajar desain nih, walopun nyarinya yang gratisan :D

VIDEO


1. Windows Movie Maker 


Software ini cukup mudah digunakan, tinggal siapin foto sama audio. Tapi jangan lupa ditata dulu konsepnya, kata-katanya. Dipas-pasin tuh gambar sama audionya, biar enak diliat.



2. VideoScribe by Sparkol



Software ini menarik, apalagi untuk orang awam seperti saya XD
Seru coba-coba icon yang ada, apalagi gratis trial 7 hari. Tapi walopun trial, Video yang udah jadi ternyata ga bisa disimpen atau diconvert ke format lain. 
Udah lama bikin dan ga bisa disimpen itu rasanya... 
Sampe browsing cari-cari yang jual murah ni software (tetep cari yang murah), apalagi kalo ada yang mau ngasih gratisan.
Tapi itu dulu, sekarang udah lumayan tenang karena udah nemu cracknya.
Meskipun tetep trial, alias setelah 7 hari harus log in dengan email lain, alhamdulillah bisa disimpen :D




PICTURE

1. Canva



Aplikasi online ini sangat-sangat membantu bagi amatiran seperi saya. Ada banyak referensi dan pilihan desain yang bisa kamu coba. Dan yang terpenting ini GRATIS! eh engga ding, pake kuota internet :3



2. Pixlr



Sama seperti canva, aplikasi ini online. Buat yang mau ngedit-edit gambar yang udah ada, disini ada beberapa fitur untuk mempercantik.



Baru empat ini yang dipelajari.. next mungkin inkscape, indesign, apalagi ya? :D

Tahukah engkau dimana ia bersemayam?
Dialah saudaramu... kemana ia melangkah?
Sanggupkah matamu memandangnya?
Sedang matanya tak sanggup menatapmu

Saudaramu hidup laksana sejarah
Berjalan beriringan mengikuti langkah
Tanpa bahasa yang dapat menyapa
Bercucur air mata jika bersua

Jika bumi menghimpitnya
Hanya hatimu tempat mengadu
Engkau bermurah hati tanpa pamrih
Memupus duka nestapa yang dia derita
Engkau memikul beban berat tanggungannya
Ketika letih pilu merasuk kedua belah bahunya

Masih berfikir untuk pergi???
Sedangkan Allah begitu banyak memberikan gambaran indahnya kita bersatu

Jika bumi menghimpitnya
Hanya hatimu tempat mengadu
Engkau selimutkan tirai disekujur tubuhnya

Ketika syaithan datang memperdaya
Engkau tersenyum bangga dengan ranum bak buah yang merah

Engkau bahagia pula dengan kesuburan
Ladang dunia saudaramu

Jika bumi menghimpitnya
Hanya hatimu tempat mengadu

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.

By:
Mba Iin, ketua ODOJ 2012

Nikmatilah gejolak yang ada dihatimu..
Saat ingin marah,
Saat datang kedengkian,
Saat dicela,
Saat ketidakpuasan menyergap,
Saat kekecewaan memuncak..
Nikmatilah dengan senyuman, istighfar.. berdoa.. mendoakan.. :)
Jangan mau dikalahkan oleh setan dalam mengendalikan hati..
Setiap manusia pasti pernah mengalami fluktuasi dalam hal keimanan, adakalanya naik dan sebaliknya..
Jika "range"nya terlalu jauh, ketika kita jatuh pasti amatlah sakit..
Tugas kita adalah senantiasa belajar dari pengalaman yang ada, baik yang dirasa sendiri ataupun dialami oleh orang lain..
Ubahlah "range" fluktuasi keimanan kita agar lebih kecil, sedikit demi sedikit..
Dan jangan lupa untuk senantiasa mengulang doa ini :)

Tertulis dalam Al Qur’an Surah Al Hadid ayat 20-23 yang Mulia:
  • Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(20)
  • Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.(21)
  • Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(22)
  • (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (23)
Bagi yang belum pernah mengetahui ayat ini, mungkin akan tercengang betapa Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Bijaksana telah Memberikan sebuah resep kehidupan yang sangat bermanfaat bagi hamba-hambaNya yang beruntung mendapatkan keimanan.
Ayat-ayat yang sangat indah jika dilantunkan oleh seorang Qari bersuara merdu yang faham cara membacanya.
Allah SWT Membuat MAKLUMAT dalam Al Qur’an dengan kata-kata ”I’lamu” (57:20), yang mana maklumat ini merupakan sebuah pernyataan resmi, serius dan berbobot atas sebuah informasi penting bagi manusia. Isi maklumat tersebut adalah penjelasan tentang hakekat kehidupan dunia bagi manusia. Yaitu bahwa ia (kehidupan dunia) hanyalah permainan. Sebagaimana yang namanya permainan, maka dunia tidaklah pantas disikapi dengan keseriusan dan kesungguhan dalam melayani tuntutannya. Allah Menjelaskan pula bahwa beberapa hal (sebagai contoh) dari apa-apa yang dianggap sebagai hal-hal penting dalam kehidupan dunia, sebenarnya semua itu hanyalah bagaikan fatamorgana.

Di ayat selanjutnya (57:21) Allah SWT langsung menganjurkan manusia untuk bersikap sebaliknya tehadap apa yang merupakan kebalikan/lawan dari kehidupan dunia, yaitu kehidupan akhirat. Jika terhadap kehidupan dunia manusia hendaknya mensikapinya hanya sebagai permainan dan selayaknya tanpa sikap serius apalagi berusaha keras, maka terhadap kehidupan akhirat yang merupakan kebalikan atau lawan dari kehidupan dunia, hendaknya manusia bersikap serius dan bahkan berkompetisi. Allah sekaligus juga Menjanjikan luasnya akhirat dan ampunan yang disediakan.
Ayat berikutnya (57:22) memberikan informasi penting lain yang terkait dengan dua ayat sebelumnya. Yaitu tentang takdir. Bahwa nasib manusia, baik atau buruk, bahkan setiap peristiwa yang terjadi di atas panggung dunia ini, pada hakekatnya sudah ditentukan sebelumnya. Keterangan ini memberikan perspektif yang jelas tentang kedudukan ujian hidup manusia, bahwa ujian hidup berupa senang maupun susah sudah ditentukan sebelumnya sehingga manusia tak perlu menyesali atau memaksakan kehendak. Sikap yang pas dalam menghadapi takdir memang bukan hal mudah. Terutama ketika menghadapi peristiwa yang sangat menyedihkan, atau sangat berat, manusia benar-benar harus menempatkan dirinya dengan se-tepat-tepatnya. Manusia harus mengambil sikap bersabar atas ujian dan tetap bersangka baik pada Allah padahal ia sedang susah atau gundah. Itulah ujian, semua ujian memang diadakan untuk menguji sampai ke titik-titik batas kesanggupan.

Manusia hidup tak pernah mengenal statis. Selalu saja ada dinamika hidup menyertainya. Tidak ada seorang manusia di dunia ini yang tak diuji dengan baik dan buruk di dunia ini, apakah ia suka atau tidak. Dalam berbagai ayat-ayatNya Allah SWT sudah Memaklumatkan bahwa setiap manusia akan diuji, hanya saja mungkin tidak semua manusia mensikapi musibah dan nikmat dengan sikap yang sama. Ada orang yang optimis yang cenderung menghadapi kesulitan hidup dengan optimisme, sehingga ia senantiasa berusaha mencari jalan keluar, bahkan menganggap kesulitan sebagai tantangan. Ada pula manusia pesimis yang cenderung bersikap negatif terhadap apa saja, selalu mengeluh dan merasa susah.
Sudah sifat manusia untuk berkeluh kesah jika menghadapi kesulitan. Bahkan manusia mudah sekali merasa berputus asa dan kehilangan akal maupun kesabaran. Rentang sikap manusia terhadap musibah dapat dimulai dari sekedar keluhan kecil hingga kehilangan kewarasan karena emosi sedih atau marah yang tak terkendali. Seorang yang merasa bahwa kesulitan atau musibah yang dihadapinya adalah hal kecil, ia akan mensikapinya dengan santai dan memiliki banyak kesempatan untuk berpikir guna mengatasi kesulitan tersebut. Orang ini memusatkan perhatiannya pada penyelesaian masalah, dan ia mengaktifkan otaknya untuk berusaha mencari jalan keluar. Lain halnya jika seseorang merasa musibah yang dihadapinya terlalu berat atau besar bagi dirinya, ia akan tenggelam dalam masalah, bertolak belakang dengan orang pertama tadi yang berusaha mengatasi masalahnya dengan menggunakan otaknya, orang kedua ini malah tenggelam di dalam masalah. Perasaannya-lah yang menenggelamkan dirinya.
Perasaan manusia, persepsi manusia atas sesuatu bukanlah alat ukur obyektif. Perasaan manusia dapat saja berlebihan, sedangkan persepsinya mungkin saja keliru. Dalam menghadapi musibah, ada orang yang merasa ujian itu tak sanggup ia hadapi. Ia menganggap ujian tersebut terlalu berat baginya. Ini persepsinya sendiri. Padahal Allah SWT sudah Menyatakan dalam Al Qur’an bahwa seseorang tak akan dibebani lebih dari kadar kesanggupannya (2:286). Allah Yang Maha Tahu telah Mengukur kadar kesanggupan orang tersebut dan ia sesungguhnya mampu menghadapinya, namun ia telah menyesatkan dirinya dengan mempersepsikan musibah tersebut terlalu besar atau berat bagi dirinya. Persepsi ini kemudian dilanjutkan dengan prasangka buruk terhadap Allah, menyangka bahwa Allah tidak adil, menyangka bahwa Allah telah menghukum dirinya dengan kehinaan dan musibah. Sekali lagi ini adalah persepsi manusia yang keliru.
Allah SWT memberi gambaran orang-orang yang salah persepsi terhadap musibah dan nikmat sebagai berikut:
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. QS Al Fajr 15-16.

Pahala dari Allah jika kita bersabar adalah tanpa batas.
So, kenapa masih ada pernyataan "sabar itu ada batasnya"?
Inilah contoh gambaran persepsi manusia yang salah terhadap tindakan Allah ”Menguji” manusia. Ya, baik nikmat kesenangan maupun kesulitan statusnya adalah sama-sama ”ujian”. Yang disebut sebagai ”ujian” pastilah mengandung keharusan untuk manusia tersebut bersikap tertentu, dan tidak menghendaki manusia bersikap sebaliknya.
Secara implisit ayat-ayat tadi (89: 15-16) juga memberikan semacam sindiran bagi manusia-manusia yang telah menempatkan perhiasan dunia berupa rezki, kedudukan dan kesenangan sebagai tolok ukur ”baik” atau ”buruk”. Yaitu orang-orang yang mengukur keberuntungan atau kemalangan manusia hanya berdasarkan hal-hal duniawi ataumatter oriented.
Allah SWT Menghendaki agar manusia bersikap pas atau tepat terhadap apa yang ia hadapi dan apa yang ia dapatkan di dunia ini. Allah Menghendaki kita sebagai manusia mensikapi semua itu dengan sikap tenang, stabil, tetap imbang dan tidak kehilangan orientasi hidup yang sesungguhnya yaitu orientasi menuju akhirat. Ini tercermin di ayat 23 Surah Al Hadid, yaitu: (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Jangan berduka cita dan jangan terlalu gembira di dunia ini, baik dalam menghadapi susah maupun senang. Bersikaplah tetap stabil dan imbang (balance) karena pada hakekatnya dunia ini hanya fatamorgana. Segala kesulitan dunia hanyalah kesulitan yang menipu, karena jika disikapi dengan sabar maka kesulitan tersebut merupakan karunia Allah yang memberikan kita kesempatan untuk banyak-banyak bersabar dan bertaubat, yang mana itu baik bagi kita, baik bagi akhirat kita. Sedangkan segala kesenangan dan nikmat dunia juga hanya tipuan belaka, sebab boleh jadi mengandung fitnah atau bahaya besar bagi kita karena boleh jadi kita menjadi sombong atau berlebihan sehingga kita terjatuh ke dalam dosa dan kemurkaan Allah di akhirat kelak. Na’udzubiLlahi min dzalik.
Manusia yang mampu bersikap sebagaimana tuntunan ayat ini hanyalah manusia-manusia yang sudah mampu memahami tiga ayat sebelum ini, yaitu ayat 20, 21 dan 22 dari Surah Al Hadid di atas.
Muslim disebut Muslim karena kelekatannya pada sikap penyerahan diri pada Allah SWT. Islam artinya ”berserah diri”. Islam adalah jalan hidup yang menuntut penganutnya untuk menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah. Tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk memiliki sikap atau pendapatnya sendiri dalam persoalan-persoalan penting dalam hidupnya. Jika non-Muslim (orang kafir) menganggap dirinya berhak memiliki sikap dan pendapatnya sendiri tentang hidup, musibah senang dan bahagia, Muslim harus bertanya kepada agamanya apakah arti itu semua. Oleh karena itulah ia dapat disebut ”Muslim” yang artinya berserah diri.
Seorang Musim harus memahami apakah hakekat dunia, maupun bagaimana mensikapinya menurut apa kata Allah, bukan apa kata nafsu dan keinginan manusia belaka. Berikut adalah sebagian dari poin-poin penting untuk difahami:
  1. Allah SWT pasti akan menurunkan ujian kepada setiap orang, oleh karena itu selama ia hidup di dunia hendaknya ia selalu bersiap menghadapi ujian-ujian Allah baik atau buruk.
  2. Allah Mengatakan dalam surat Al Fajr di atas dan banyak ayat-ayat lain baik dalam Al Qur’an maupun bimbingan Hadits Nabi SAW bahwa keadaan ”baik” maupun ”buruk” yang diberikan kepada manusia adalah sama-sama ujian. Nikmat maupun musibah adalah sama-sama alat uji keimanan bagi manusia yang mengaku beriman.
  3. Dalam mensikapi kedua jenis ujian tersebut manusia hendaknya selalu memasang sikap imbang, yang pada dasarnya kembali kepada acuan sikap untuk bersyukur dan bersabar. Bersyukur ketika merasakan nikmat dan bersabar ketika merasa sempit atau susah.
  4. Diantara mutiara kehidupan yang sangat berharga yang sepatutnya ita ambil sebagai sikap dalam menghadapi ujian hidup ada di ayat-ayat yang ditulis di awal tulisan ini, yang intinya adalah sikap netral terhadap dunia: supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Hendaknya perasaan kita tidak berlebihan, baik ketika mendapatkan musibah maupun ketika mendapatkan nikmat.
  5. Sikap imbang atau netral di atas dapat terbentuk ketika kita sudah terlebih dahulu memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah tipuan-tipuan fatamorgana belaka, dan bahwa akhiratlah kehidupan yang sesungguhnya.
Mudah-mudahan uraian singkat ini dapat memberikan gambaran bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi dunia fana ini. Wallahua’lam
Sumber
Jadikan kekurangan dan kelebihan yang dimiliki sebagai ladang amal.. Ladang untuk melatih kesyukuran.. Ladang untuk melatih kesabaran..
Meski sedikit, latihlah hati untuk cermat mengelolanya agar dapat menggapai ridho Allah.. Meski sedikit, semoga bisa menjauhkan dari tetesan api neraka.. Meski sedikit, semoga bisa menambah sebutir pasir yang akan dibangun menjadi rumah di surgaNya kelak..
Aamiin :)

Ya ayyuhal ikhwah, dalam sebuah firman-Nya, Allah Ta’ala menyeru,
Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imron, 3:200)

Juga seperti firman-Nya berikut,
Artinya, “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. al-Baqarah, 2:45-46)
Dalam kedua ayat tersebut diatas, Allah Ta’ala mewajibkan kepada setiap hamba-Nya untuk selalu bersabar dalam menjalankan ketaatan dan ketika menjauhi kemaksiatan, serta ketika tengah mendapat kesulitan dan juga bersabar ketika hendak mencapai suatu tujuan. Rasulullah saw dahulu juga mencontohkan sikap terpuji tersebut seperti pada hadits berikut,

ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﺫَﺍ ﺣَﺰَﺑَﻪُ ﺃَﻣْﺮٌ ﻓَﺰَﻉَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ .

Artinya, “Kebiasaan Rasulullah ketika menghadapi kesukaran adalah segera melakukan sholat.” (HR. Abu Dawud, Ahmad)

Demikian juga seperti yang dikatakan oleh Hudzaifah ra,
Artinya, “Ketika aku kembali kepada nabi saw pada malam perang Ahzab (Khandaq), sedang pada saat itu nabi berselimut sambil sholat, dan kebiasaan nabi saw apabila menghadapi kesukaran adalah beliau sholat.”

Sementara Ali bin Abi Thalib ra mengatakan,


ﻟَﻘَﺪْ ﺭَﺃَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺑَﺪْﺭٍ ﻭَﻣَﺎ ﻓَﻴْﻨَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﺼَﻠِّﻰ ﻭَ ﻳَﺪْﻉُ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺻْﺒَﺢَ .

Artinya, “Pada malam akan terjadi perang Badar, tidak seorangpun diantara kami melainkan ia tidur, kecuali nabi saw, ia melakukan sholat dan berdo’a hingga pagi.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Bahwa untuk mencapai kebahagiaan di akhirat, Muqatil bin Hayyan menjelaskan—haruslah bersabar ketika mengerjakan kewajiban dan sholat, maka sabar itu sendiri  ialah berusaha keras dan tidak mengenal jenuh, tidak malas dan tidak berhenti, serta menahan diri dari maksiat, karena itu Allah mengiringkannya dengan sholat sebagai ibadah yang mulia dan utama.

Menurut Sa’id bin Jubair bahwa sabar itu adalah pengakuan seorang hamba bahwa penderitaan yang dirasakannya itu datangnya dari Allah, dan adakalanya seseorang mengeluh sambil menahan derita dan ‘memaksa’ diri untuk bersabar, maka itupun juga disebut sabar.

Sementara itu Abu Aliyah berkata agar hendaklah mempergunakan sabar dan sholat untuk mencapai ridho Allah Ta’ala, yang dengan sabar dan sholat tersebut menjadi sebesar-besar alat untuk mampu melaksanakan sikap tabah dalam menjalankan ibadah, sebagaimana firman-Nya,

Artinya, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Ankabut, 29:45)

Ketahuilah bahwa sesungguhnya iman dan ujian merupakan kelaziman yang mesti berlaku bagi seorang mu’min, sementara kebenaran iman itu baru dapat diketahui melalui sampai seberapa jauhkah seseorang bersabar dalam menghadapi ujian dan penderitaan yang menimpanya. Allah Ta’ala berfirman,
Artinya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah, 2:155)

Dan firman-Nya,
Artinya, “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad, 47:31)


Allah Ta’ala menyiapkan bekalan bagi setiap hamba-Nya dengan ujian hidup. Ujian hidup yang dimaksud tersebut ada dua macam, yaitu ujian yang berupa kesenangan, seperti harta kekayaan yang banyak, kesehatan, popularitas yang melambung tinggi, pangkat dan kedudukan, kecantikan, atau kepandaian. Sementara ujian yang berupa keburukan misalnya seperti kesakitan, kemiskinan, penderitaan, kematian, dan sebagainya. Dua hal tersebut merupakan ujian keimanan, sampai batas mana kemampuan seseorang untuk senantiasa taat kepada Allah dan dalam menjauhi maksiat yang dibenci-Nya. Apakah seseorang tetap dalam keimanan dan ketaqwaan bilamana diberikan penderitaan dan kemiskinan, ataukah sebaliknya?

Pengalaman yang panjang dalam sirah mujahid membuktikan bahwa kesenangan hidup lebih cepat menjadikan seseorang itu menjadi kafir dan munafik, dibandingkan apabila ia diuji dengan kemiskinan, kesakitan dan penderitaan. Oleh karena itu kesabaran dalam menghadapi ujian merupakan barometer iman bagi seorang muslim dan mu’min.

Umar bin Khattab ra berkata,


ﺍﻟﺼَّﺒْﺮُ ﺻَﺒْﺮَﺍﻥِ : ﺻَﺒْﺮٌ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻤُﺼَﻴْﺒَﺔِ ﺣَﺴَﻦٌ ﻭَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﻟﺼَّﺒْﺮُ ﻋَﻦْ ﻣَﺤَﺎﺭِﻡِ ﺍﻟﻠﻪِ .

Artinya, “Sabar itu ada dua macam, sabar dalam menghadapi ujian adalah baik, tetapi yang lebih baik lagi adalah menahan diri dari perbuatan maksiat.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam Al-Jihad Sabiluna , Imam Ibnu Mubarak berkata,


ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺼِﻴْﺒَﺔَ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٌ , ﻓَﺈِﻥْ ﺟَﺰِﻉَ ﺻَﺎﺣِﺒَﻬَﺎ ﻓَﻬُﻤَﺎ ﺇِﻋْﻨَﺘَﺎﻥِ , ﻟِﺎَﻥَّ ﺇِﺣْﺪَﻫُﻤَﺎ ﺍﻟْﻤُﺼِﻴْﺒَﺔُ ﺑِﻌَﻴْﻨًﺎ , ﻭَﺍﺛَّﺎﻧِﻴَﺎﺓُ ﺫَﻫَﺎﺏُ ﺃَﺟْﺮِﻩِ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻈَﻢُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺼِﻴْﺒَﺔِ .

Artinya, “Sesungguhnya musibah itu satu, apabila mengeluh maka hal itu menjadi dua, karena salah-satu dari keduanya adalah musibah itu sendiri dan yang kedua adalah hilangnya pahala, dan ia lebih besar dari musibah tersebut.”

Dan dikatakan pula,


ﺍﻟﺼَّﺒْﺮُ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ ﺍﻟﻈُّﻔْﺮِ , ﻭَﺍﻟﺘَّﻮَﻛُّﻞِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻨَّﺠَﺎﺡِ , ﻭَ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻠْﻖَ ﻧَﻮَﺍﺇِﺏَ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِ ﺑِﺎﻟﺼَّﺒْﺮِ ﻃَﺎﻝَ ﻋَﺘْﺒُﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ .

Artinya, “Sabar adalah kunci kemenangan dan tawakal kepada Allah adalah penyebab kesuksesan; dan barangsiapa belum pernah menghadapi musibah dengan kesabaran, maka akan semakin lama gerutuan dia diatasnya.”

Oleh karena itu sudah sewajarnya bagi seorang mujahid yang sholeh untuk bersungguh-sungguh dan rajin di dalam ketaatannya serta menggunakan seluruh waktu luangnya untuk berdzikir kepada Allah, berdo’a kepadanya, membaca al-qur’an, memahami dien, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang kemungkaran. Lalu wajib juga bagi seorang mujahid menjauhi maksiat, menghindari dan lari daripadanya, karena maksiat itu dapat menghitamkan wajah, menggelapkan hati, membebalkan akal dan akan menjauhkan dari Allah Yang Maha Suci, serta menyebabkan kemarahan-Nya. 

Seorang mujahid juga diutamakan supaya senantiasa sabar dalam menghadapi bala’ atau ujian, serta mampu menahan penderitaan, kesakitan, dan kesempitan hidup. Juga agar memiliki keteguhan di medan jihad, berani dan tangkas di depan pasukan musuh yang banyak, tanpa ada perasaan takut yang berlebihan.

Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata,

ﺍﻟﺼَّﺒْﺮُ ﺛَﻼَﺛَﺔٌ : ﻓَﺼَﺒْﺮٌ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟْﻤُﺼِﻴْﺒَﺔِ , ﻭَ ﺻَﺒْﺮٌ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ , ﻭَ ﺻَﺒْﺮٌ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻌْﺼِﻴَﺔِ , ﻓَﻤِﻦْ ﺻَﺒَﺮَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺼِﻴْﺒَﺔِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮُﺩُّﻫَﺎ ﺑِﺤُﺴْﻦِ ﻋَﺰَﺍﺋِﻪِ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﺛَﻠَﺎﺛَﻤِﺎ ﺋَﺔِ ﺩَﺭَﺟَﺔً , ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺪَّﺭَﺟَﺔِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺪَّﺭَﺟِﺔِ ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺴْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺎَﺭْﺽِ , ﻭَ ﻣَﻦْ ﺻَﺒَﺮَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﺳِﺖَّ ﻣِﺎﺋَﺔِ ﺩَﺭَﺟَﺔً , ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺪَّﺭَﺟَﺔِ ﻛَﻤَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺗَﺨُﻮْﻡُ ﺍْﻷَﺭَﺿِﻴْﻦَ ﺇِﻟَﻰ ﻣُﻨْﺘَﻬَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﻣَﺮَّﺗَﻴْﻦِ .
Artinya, “Sabar itu ada tiga yaitu sabar dalam musibah, sabar dalam taat, dan sabar dalam menjauhi maksiat. Barangsiapa bersabar dalam musibah sehingga dikembalikannya dalam keadaan baik atas apa yang menimpa dirinya (ia ridho atas bala’ yang diberikan-Nya), maka Allah akan menulis baginya 300 derajat yang tiap-tiap derajat jaraknya antara langit dengan bumi. Dan barangsiapa bersabar dalam melaksanakan taat, maka Allah akan menuliskannya 600 derajat, tiap dua derajat jaraknya antara langit dunia dengan Sidratul Muntaha. Dan barangsiapa yang bersabar dalam menjauhi maksiat, maka Allah tulis baginya 900 derajat yang jarak dua derajatnya seperti ‘Arasy dua kali.” (HR. Abu Dunya dan Abu Syaikh, Al-Firdaus bi Ma’tsuur al-Khittab )
Rasulullah saw bersabda,

ﻭَ ﻣَﻦْ ﻳَﺘَﺼَﺒَّﺮْ ﻳُﺼَﺒِّﺮْﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ , ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻋْﺘِﻲَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻋَﻄَﺎﺀً ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻭَ ﺃَﻭْﺳَﻊَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﺒْﺮِ .


Artinya, “Barangsiapa yang sabar akan disabarkan Allah, dan tidak ada pemberian Allah yang paling luas dan lebih baik daripada kesabaran.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Malik, Ad-Darimi)

Rasulullah saw juga pernah bersabda,


ﻋَﺠَﺒًﺎ ﻟِﺄَﻣْﺮِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺇِﻥَّ ﺃَﻣْﺮَﻩُ ﻛُﻠَّﻪُ ﺧَﻴْﺮٌ ﻭَ ﻟَﻴْﺲَ ﺫَﺍﻙَ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﺇِﻻَّ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻦِ , ﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﺳَﺮَّﺍﺀُ ﺷَﻜَﺮَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ , ﻭَ ﺇِﻥْ ﺍَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﺿَﺮَّﺍﺀُ ﺻَﺒَﺮَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ .

Artinya, “Menakjubkan semua urusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya serba baik, hal ini tidak dimiliki oleh seorangpun, kecuali orang yang beriman. Apabila ia memperoleh kebaikan ia bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya. Jika ditimpa kesusahan ia sabar, maka ini baik pula baginya.” (HR. Muslim)

Mensyukuri nikmat Allah Ta’ala itu bermaksud mengakui bahwa nikmat itu datangnya dari Allah dan menggunakannya pada jalan yang juga diridhoi oleh-Nya. Dengan demikian, Allah akan mendatangkan nikmat yang lebih banyak dari apa yang telah diberikan-Nya tersebut. Di segi lain, Allah akan memberikan pahala yang besar di akhirat dan inilah sebesar-besarnya kenikmatan. Tetapi jika seseorang tidak mampu mensyukuri nikmat Allah yang sedikit, maka kemungkinan besar dipastikan ia tidak akan dapat mensyukuri nikmat Allah yang banyak. Dan kalau hal ini terjadi, maka Allah akan mendatangkan bala’ dan cobaan-Nya.

Bila seseorang bersabar dalam menghadapi bala’ yang ditimpakan Allah kepadanya, maka hal itu adalah lebih baik baginya, sebab pahala kesabaran adalah lebih besar dari penderitaan yang dihadapi. Maka mensyukuri nikmat yang ada, kenyataannya jauh lebih berat dan lebih susah daripada bersabar tatkala seseorang ditimpa musibah dan ujian. Oleh karena itu perkataan sabar disebutkan setelah syukur, sebagai gambaran bahwa pelaksanaan syukur lebih berat daripada sabar. Tetapi bagi seorang mu’min kedua hal tersebut akan mampu dilaksanakannya dan keduanya itu mendatangkan kebaikan baginya. 

Wallahu a’lam .

Rasulullah bersabda,


ﺇِﻥَّ ﻋِﻈَﻢَ ﺍﻟْﺠَﺰَﺍﺀِ ﻣَﻊَ ﻋِﻈَﻢِ ﺍﻟْﺒَﻼَﺀِ , ﻭَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺣَﺐَّ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﺍﺑْﺘَﻼَﻫُﻢْ , ﻓَﻤَﻦْ ﺭَﺿِﻲَ ﻓَﻠَﻪُ ﺍﻟﺮِّﺿَﺎ ﻭَ ﻣَﻦْ ﺳَﺨِﻂَ ﻓَﻠَﻪُ ﺍﻟﺴَّﺨَﻂُ .

Artinya, “Sesungguhnya besarnya pahala itu bergantung daripada besarnya ujian. Barangsiapa yang ridho, mendapat keridhoan Allah dan barangsiapa yang murka, maka mendapat kemurkaan Allah.” ( HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah bersabda,


ﻣَﺎ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﺍﻝﺀﺑَﻼَﺀُ ﺑِﺎﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺔِ ﻓِﻲْ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻭَ ﻭَﻟَﺪِﻩِ ﻭَ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻠْﻘَﻰ ﺍﻟﻠﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَ ﺟَﻞَّ ﻭَ ﻣَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺧَﻄِﻴْﺌَﺔٌ .

Artinya, “Tidak henti-hentinya bala’ menimpa kepada seorang mu’min laki-laki dan wanita, baik mengenai dirinya maupun mengenai keluarganya atau harta kekayaannnya, hingga ia menghadap kepada Allah sudah bersih daripadanya dosa.” (HR. Tirmidzi, Ahmad)

Abu Abdullah bin al-Art berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah ketika beliau sedang berbaring di bawah sebuah naungan dengan berbantalkan sorbannya. Maka kami berkata, “Tidakkah engkau mendo’akan dan memintakan bantuan serta pertolongan untuk kami?” Maka Rasulullah bersabda,


ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻦْ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ ﻟَﻴُﻤْﺸَﻂُ ﺑِﻤِﺸَﺎﻁِ ﺍﻟﺤَﺪِﻳْﺪِ ﻣَﺎ ﺩُﻳْﻦَ ﻋِﻈَﺎﻣِﻪِ ﻣِﻦْ ﻟَﺤِﻢٍ ﺃَﻭْ ﻋَﺼَﺐٍ ﻣَﺎ ﻳَﺼْﺮِﻓُﻪُ َﺫَﺍﻟِﻚَ ﻋَﻦْ ﺩِﻳْﻨِﻪِ , ﻭَ ﻳُﻮْﺿَﻊُ ﺍﻟْﻤِﻨْﺸَﺎﺭُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻔْﺮِﻕِ ﺭَﺃْﺳِﻪِ ﻓَﻴُﺸَﻖُّ ﺑِﺎﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻣَﺎ ﻳَﺼْﺮِﻓُﻪُ ﺫَﺍﻟِﻚَ ﻋَﻦْ ﺩِﻳْﻨِﻪِ , ﻭَ ﻟَﻴُﺘِﻤَّﻦَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺎَﻣْﺮَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺴِﻴْﺮَ ﺍﻟﺮَّﺍﻛِﺐُ ﻣِﻦْ ﺻَﻨْﻌَﺎﺀَ ﺇِﻟَﻰ ﺣَﻀْﺮَﻣَﻮْﺕَ ﻣَﺎ ﻳَﺨَﺎﻑُ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺯَﺍﺩَ ﺑَﻴَﺎﻥٌ ﻭَﺍﻟﺬِّﺋْﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻨَﻤِﻪِ .

Artinya, “Dahulu orang-orang yang sebelum kamu adakalanya ditanam hidup-hidup dan digergaji dari atas kepalanya sehingga terbelah menjadi dua. Dan adakalanya dikupas kulitnya dengan sisir dari besi yang mengenai tulang dan daging, tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan iman dan diennya. Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan dien Islam ini hingga merata keamanan, orang dapat berjalan dari Shan’a (Yaman) ke Hadramaut tanpa ada yang ditakutkannya, kecuali kemurkaan Allah, atau serigala yang dikhawatirkan menerkam kambingnya, tetapi kamu terburu-buru.” (HR. Bukhari)

Rasulullah juga bersabda,
ﻣَﻦْ ﻳُﺮِﺩْ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻪِ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻳُﺼِﺐْ ﻣِﻨْﻪُ .

Artinya, “Barangsiapa yang dikehendaki Allah padanya suatu kebaikan, maka diberinya penderitaan.” (HR. Bukhari, Ahmad, Malik)

Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah bersabda,


ﻣَﺎ ﻳُﺼِﻴْﺐُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَ ﻣِﻦْ ﻧَﺼَﺐٍ ﻭَ ﻻَ ﻭَﺻَﺐٍ ﻭَ ﻻَ ﻫَﻢِّ ﻭَ ﻻَ ﺣُﺰْﻥٍ ﻭَ ﻻَ ﺃَﺫًﺍ ﻭَ ﻻَ ﻏَﻢِّ ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟﺸَّﻮْﻛَﺔِ ﻳُﺸَﺎﻛُﻬَﺎ ﺇِﻻَّ ﻛَﻔَّﺮَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺧَﻄَﺎﻳَﺎﻩُ 

Artinya, “Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan atau kesusahan hati, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu akan menjadi penebus dosa.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)

Demikian besar karunia Allah kepada seorang muslim yang menderita kelelahan atau penyakit, bahwa Allah Ta’ala bersedia menjadikannya sebagai penebus dosa asalkan disambut dengan jiwa iman dan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,
Artinya, “Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. az-Zumar, 39:10)

Dan firman-Nya,
Artinya, “… dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah, 2:177)


Demikian semoga bermanfaat, wallahu a’lam bisshowwab.


Bersabarlah untuk engkau yang disana..
Lelah dan jauhmu, jadikan ia ladang untuk melatih keikhlasan dan kesabaran..
Tak perlu membandingkan penderitaan, pun kebaikan yang telah dilakukan..
Biarlah Allah yang menilai semuanya..

Doakan dia, dan beristighfarlah, mungkin kealpaan juga ada pada diri..
Menangkan hatimu dari ego dan prasangka. Sesungguhnya ada hikmah yang besar dibalik kesabaranmu, yang ketika kita berhasil melewatinya, maka kesyukuran tak kan henti terucap.

Barakallahulanaa :)

Ia merasa sedih, bukan bahagia.. saat saudaranya mengalami masalah
Ia merasa gembira, bukan dengki.. saat saudaranya mendapatkan yang diinginkannya
Ia mendoakan kebaikan, bukan keburukan.. saat hati mungkin tersakiti

hati itu kompleks ya..
*pusatnya tetep di pikiran sih*
Allah memerintahkan kita untuk menjauhi prasangka. Ya, prasangka. Terlebih prasangka buruk. Prasangka baik tentu boleh, tapi prasangka itu sebaiknya diganti dengan dzikrullah dan doa untuk dia yang "diprasangkai".

Jika hati merasakan sebaliknya, yang seharusnya bahagia jika mereka berbahagia, tapi malah sebaliknya.. dst
Coba periksa hati, pasti ada yang salah. Segeralah beristighfar, lalu mendoakan kebaikan padanya.

Jangan pernah mencela, selalu tampakkan senyum pada mereka. Karena menunjukkan kecintaan kepada sesama muslim itu sunnah :)

Lebih baik menyibukkan diri dengan menjahui perkara-perkara yang menimbulkan prasangka. Ya, diri kita sendiri yang bisa membentenginya..

Faghfirlanaa..

Bukan diri ini merasa paling sempurna..
Tapi hanya ingin senantiasa berbenah diri..
Dosa yang lalu tidaklah terkira..
Waktu yang ada ini semoga bisa menutupi..

Teriring maaf dan doa..
untukmu saudariku..
Bismillah.. lagi latihan ngelola hati nih, latian bersabar, menghindari segala prasangka. Semoga hati & pikiran ini senantiasa tak lepas dari mengingatNya. Keep smile :)

Sesungguhnya, kehidupan dunia ini tak lain hanyalah ruang ujian bagi ummat manusia. Bersedia ataupun tidak, setiap manusia akan selalu dihadapkan dengan tantangan hidup yang silih berganti, dari tantangan yang sederhana hingga yang tampak terlalu berat untuk dilalui. Dan tiada satu manusia pun yang akan dapat bersembunyi atau menghindar dari ujian hidup yang telah digariskan oleh Allah SWT tersebut.

Bagi kita orang-orang yang beriman, sesungguhnya tiada ujian hidup yang tidak memiliki jalan keluar. Dan solusi utama bagi kita dalam menghadapi setiap ujian hidup adalah berserah diri atau bertawakkal kepada Allah SWT, dengan sungguh-sungguh meyakini bahwa apa yang ada pada diri kita, bahkan segala sesuatu yang ada di dunia ini, sesungguhnya hanyalah milik Allah SWT semata, dan tak pernah benar-benar menjadi milik kita atau manusia lainnya. Semuanya hanyalah pemberian, dan bukan pencapaian atau hasil kerja keras kita sendiri. Sehingga, dengan meyakini bahwa apa yang ada pada diri kita sebenarnya hanyalah milik Allah SWT, maka kita pun akan tak pantas untuk melarang Allah SWT atau memprotes-Nya jika memang Dia berkehendak untuk mencabut sesuatu dari kita. Karena memang pada hakikatnya, tidak pernah ada sesuatu yang tercabut dari kita atau menimpa kita kecuali itu semua telah ditetapkan oleh Allah SWT dan telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuudz). Segala musibah dengan ragam bentuknya hanya akan terjadi jika memang Allah SWT mengizinkannya, dan hanya Dia sendirilah yang akan mampu menghentikan musibah tersebut jika Dia menghendaki, dengan cara dan rencana-Nya sendiri. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya:
“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah atas kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.’”(At-Taubah: 51)
“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”(Al-Hadiid: 22)
“Jika Allah menimpakan suatu marabahaya (musibah) kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)

Dan keyakinan yang demikian inilah yang akan dapat membantu kita dalam usaha bersabar ketika kita diuji dengan suatu musibah. Dan tanpa keyakinan yang semacam itu, kita pasti akan sangat sulit untuk merelakan sesuatu yang telah hilang dari kita, sehingga akan banyak mengeluhkan keadaan dan akan sulit bersikap positif.
Keyakinan yang kuat bahwa semuanya hanyalah milik Allah SWT akan mempermudah kita dalam usaha bersabar dan berfikir positif dalam menghadapi segala bentuk ujian hidup. Di samping itu, kita juga akan menyadari bahwa memang ujian hidup adalah sebuah ketentuan dari Allah SWT yang pasti terlaksana atas setiap hamba-Nya yang telah mengaku beriman, untuk menguji kebenaran imannya. Dan Allah SWT sendiri juga telah menjanjikan kabar gembira bagi siapapun yang mau bersabar dalam menghadapi setiap ujian yang telah digariskan-Nya tersebut. Di dalam al-Qur’an disebutkan yang artinya:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?; Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-‘Ankabuut: 2-3)
“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar; (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kita kembali); Mereka itulah yang mendapatkan shalawat dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh petunjuk.”(Al-Baqarah: 155-157)
Demikianlah janji Allah SWT yang telah disampaikan-Nya kepada kita, bahwa jika kita mau bersabar dalam setiap ujian hidup yang ditetapkan-Nya atas kita, bahkan kita tidak berprasangka buruk kepada-Nya sedikitpun, melainkan menyadari bahwa semuanya hanyalah milik-Nya, dan bukan milik kita sendiri, maka Allah SWT pasti akan memberikan balasan terbaik bagi kita sebagaimana kita telah berprasangka baik kepada-Nya.

Dan tentu sebuah kesabaran itu akan memerlukan latihan dan pembiasaan. Seseorang tak akan bisa merubah kebiasaan mengeluhnya menjadi kebiasaan bersyukur dalam sekejap, melainkan akan butuh latihan dan pembiasaan tersebut.

Dan sebagai contoh dari usaha melatih kesabaran dalam diri kita adalah, misalnya, ketika kita sangat kecewa terhadap seseorang karena merasa telah dikelabui olehnya, sedangkan kita tak mampu berbuat apapun untuk menuntut orang tersebut, maka di sinilah kita bisa berusaha untuk belajar bersabar, sambil menyerahkan hakikat urusannya kepada Allah SWT. Karena bagaimanapun juga, seseorang yang telah berusaha memalsukan kebenaran untuk menipu kita, bahkan berusaha menipu Allah SWT, pada dasarnya tak akan pernah menipu siapapun kecuali dirinya sendiri.

Seseorang yang menyibukkan diri merekayasa cerita untuk merugikan kita, insyaa’Allaah hanya akan merugi dengan sendirinya, dan akan justru mempertanggungjawabkan semua rekayasanya itu di hadapan Allah SWT, di mana saat itu kita sendirilah yang akan menjadi salah satu saksinya. Jadi, dalam menghadapi permasalahan semacam itu, mungkin akan lebih baik jika kita bersabar saja sambil tetap bersikap tenang, dan tak perlu sering-sering menciptakan ungkapan negatif tentang masalah tersebut yang justru akan menyebabkan keresahan, karena Allah SWT sendiri telah berjanji bahwa kebenaran pasti akan menang pada akhirnya, baik kemenangan tersebut didahulukan di dunia ini, ataupun diakhirkan di akhirat kelak. Sesungguhnya tidak akan pernah ada istilah rugi bagi mereka yang mencari kebenaran dengan penuh kesabaran.
Dan sebagai contoh lainnya juga dari usaha melatih kesabaran tersebut adalah misalnya dengan bersabar menahan prasangka yang sering muncul tanpa terkendali dalam benak kita. Kita tentu ingat bahwa Allah SWT telah melarang kita dari banyak berprasangka, apalagi hingga mengumumkannya tanpa kebenaran. Dan larangan itu pasti telah kita fahami dan kita mengerti dengan baik, bahwa prasangka adalah bibit dosa yang sangat banyak merugikan diri sendiri dan orang lain.
Namun kesabaran dalam usaha menjauhi larangan tersebut itulah yang tampaknya tidak cukup mudah. Kita terkadang kurang bersedia untuk bersabar menyimpan prasangka terhadap seseorang, hingga akhirnya menceritakannya di hadapan orang lain, meskipun yang kita prasangkakan tersebut adalah perkara batin, seperti isi hati, niat, dan semacamnya, yang tentunya itu semua adalah perkara gaib yang hanya pemilik hati itu sendiri dan Allah SWT sajalah yang tahu persis. Padahal, kita juga tak pernah diperintahkan untuk mengukur niat dan amal orang lain lalu memberikan pahala sesuai ukurannya, bahkan kita sendiri pun juga tak pernah mampu memberikan pahala atas niat dan amal kita sendiri. Maka dari itu, kita mungkin akan perlu mengingat kembali bahwa perkara batin berupa isi hati, niat, keimanan, ketaqwaan, dan yang semacamnya, sebenarnya hanyalah menjadi wilayah Allah SWT semata. Dan kita tak pernah dibebani perintah untuk menghukumi perkara batin orang lain. 
Lagipula, jika memang seseorang memiliki niat yang buruk yang disembunyikannya dari kita, pada akhirnya dia pun tak akan mendapatkan balasan apapun melainkan sesuai dengan yang telah diniatkannya itu sendiri. Maka sebaiknyalah kita menjauhi perkara yang telah jelas dibenci oleh Allah SWT tersebut, yaitu banyak berprasangka. Dan jika banyak berprasangka saja telah dibenci oleh Allah SWT, maka terlebih lagi jika sampai mengumumkan prasangka. Dan semoga kita diberi kesabaran dalam usaha menjauhi bentuk dosa semacam itu.
Dan mungkin, beberapa usaha untuk dapat menjauhi sifat banyak berprasangka tersebut adalah di antaranya dengan banyak mengingat nikmat yang telah ada pada diri kita sendiri; menyadari bahwa segala kemampuan, apapun bentuknya, sebenarnya hanyalah milik Allah SWT, dan bukan milik makhluq-Nya; sering melihat keadaan orang lain yang lebih susah dan lebih tidak mampu dari kita; menghilangkan kecenderungan membanding-bandingkan nasib; tidak cenderung tertarik merendahkan orang lain yang lemah; tidak menganggap bahwa orang lain mampu meraih sesuatu dengan kekuatannya sendiri, melainkan meyakini keberhasilan mereka sebagai pemberian dari Allah SWT semata; berusaha untuk turut berbahagia ketika orang lain sedang berbahagia; dan segala bentuk usaha lainnya yang berkaitan dengan upaya melembutkan hati. Dan Insyaa’Allah, jika Allah SWT telah berkehendak memberi kita kemudahan dalam menempuh usaha-usaha tersebut, niscaya kita pun akan selalu hidup tentram dalam keadaan apapun.
Adapun usaha bersabar dalam kaitannya dengan keadaan negara kita yang masih banyak bermasalah karena belum bersyari’at Islam, maka kita bisa bersabar dalam keadaan tersebut dengan cara melaksanakan syari’at Islam semampu kita, sesuai keterbatasan dan pengetahuan kita tentang syari’at itu sendiri. Dan jika memang masing-masing orang beriman di dalam negara kita telah terpanggil untuk mentaati syari’at Islam dalam kapasitas masing-masing, maka niscaya suatu saat nanti syari’at Islam pun akan dapat ditegakkan di negara kita, insyaa’Allaah. Karena sesungguhnya syari’at Islam itu hanya akan mudah terwujud dalam suatu negara jika ia telah terlebih dahulu terwujud dalam diri masing-masing orang beriman di dalam negara itu sendiri. Mungkin akan perlahan dan bertahap, sedikit demi sedikit, namun tentu kita juga ingat bahwa pohon yang kita manfaatkan kayunya saat ini adalah hasil dari menanam bertahun-tahun sebelumnya.
Oleh karena itu, mungkin akan lebih baik jika kita memulai itu semua dengan bersama-sama belajar mengamalkan syari’at dalam lingkup dan kapasitas kita masing-masing; dari kesadaran bersyari’at kita sendiri sesuai keterbatasan kita, kemudian disusul oleh orang lain, lalu menular ke beberapa orang, dan menular lagi ke beberapa orang lainnya, kemudian generasi-generasi selanjutnya, dan demikianlah seterusnya; hingga beberapa tahun kemudian, tanpa terasa pun jalan kemudahan akan semakin lebar bagi tegakkannya syari’at Islam di negara kita, karena penduduknya telah semakin banyak yang menyadari maslahat, kebaikan, serta manfaat dari syari’at Islam itu sendiri. Setidaknya, sebagai usaha awal, kita dapat menjelaskan bahwa sesungguhnya syari’at Islam itu tidak pernah menawarkan kerugian bagi manusia, melainkan justru akan menghindarkan mereka dari kerugian individual maupun sosial. Dan ketika semua orang telah tertarik akan indahnya hukum Allah SWT tersebut, maka sesungguhnya tiada yang tidak mungkin bagi Allah SWT; jika memang Allah SWT berkehendak bahwa syari’at Islam akan tegak di negara kita, maka niscaya ketentuan itu pun tidak akan ada yang dapat menghalanginya.
Dan mungkin di antara usaha yang saat ini terjangkau untuk dapat memulai mewujudkan hal tersebut, yaitu adalah dengan mentaati aturan sederhana yang telah kita ketahui, seperti melengkapi penutup aurat ketika ada keperluan untuk mendatangi tempat-tempat umum. Dan tujuan diperintahkannya kita untuk menutup aurat adalah untuk menghindari potensi negatif yang dapat muncul pada diri orang lain karena keberadaan kita. Adapun ketika kita telah berusaha mentaati syari’at dengan usaha menutup aurat di tempat yang harus kita kunjungi, namun ternyata orang lain masih merasa terganggu, maka pada dasarnya itu sudah bukan menjadi tanggung jawab kita lagi, melainkan tanggung jawab batin mereka masing-masing. Karena syari’at Islam itu memerintahkan pelaksanaan sesuatu yang sifatnya dzahir justru untuk menghindari munculnya bahaya batin, yang mana dapat berakibat bahaya dzahir yang lebih besar. Dan syari’at tidak sampai mampu mengendalikan urusan batin dari para pelaksana syari’at itu sendiri, melainkan mereka sendirilah yang bertanggung jawab atas urusan batin mereka masing-masing. Sebagaimana misal lainnya, bahwa shalat fardhu berjama’ah tentu adalah sebuah ritual di mana seorang pelaksananya akan pasti dapat disaksikan oleh orang lain yang ikut berjama’ah juga, dan akan justru tidak mungkin jika dia harus melaksanakannya dengan cara menyendiri atau menghindar dari penglihatan orang lain, hanya karena berusaha menjaga perkara batin orang lain. Oleh karena itu, mungkin kita akan lebih selamat jika menghindari tuduhan-tuduhan atas perkara batin yang mana hanya Allah SWT sajalah yang lebih berhak menilainya.

Dan inti dari semua itu adalah agar kita bersabar dalam usaha menghindari perkara-perkara yang merugikan, baik yang merugikan bagi diri sendiri ataupun orang lain. Dan dengan semakin berkurangnya perkara-perkara yang merugikan tersebut, maka niscaya apa yang kita cita-citakan berupa perdamaian di bawah naungan hukum Allah SWT pun akan dapat terwujud suatu saat nanti, insyaa’Allaah. Adapun dalam keadaan di mana kita dihadapkan oleh hanya dua buah pilihan perkara yang sama-sama mengandung kerugian, yang mana perkara tersebut tidak mungkin dihindari demi sebuah maslahat yang lebih besar, maka kita bisa memilih salah satu yang mengandung kerugian lebih sedikit. Karena menempuh kerugian yang lebih ringan demi menghindari kerugian yang lebih besar itu terkadang memang diperlukan dalam perkara tertentu.
Demikianlah. Dan semoga Allah SWT menganugerahi kita kesabaran dalam segala keadaan, kesabaran dalam usaha mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya, sesuai kemampuan dan keterbatasan kita masing-masing. Setiap orang dari kita harus mengetahui kelemahannya masing-masing, dan tak perlu ragu untuk mengakuinya, karena justru di situlah titik di mana orang lain akan dapat berperan untuk mengisi dan melengkapi. Seorang pengusaha tulen tentu tak akan mampu mengerjakan tugas seorang petani tulen, begitu juga sebaliknya. Semuanya memiliki kapasitas dan kecenderungan masing-masing yang berbeda, yang justru itulah bentuk keindahan rencana Allah SWT dalam mengatur dan membagikan rahmat-Nya di antara ummat manusia. Kita tak perlu memaksa orang lain untuk menjadi seperti diri kita, melainkan cukup saling menyemangati untuk menjadi diri masing-masing yang lebih baik. Setiap orang hanya diharuskan untuk bersabar dalam menjalankan peran dan fungsinya, selama bukan peran dan fungsi yang melanggar aturan Allah SWT. Yang turun di medan perang tetap dapat berperang dalam keadaannya masing-masing, dan yang mempelajari agama Allah SWT juga tetap dapat mempelajarinya dengan cara masing-masing. Ukuran keberhasilan orang-orang yang beriman tak pernah wajib berhubungan dengan sesuatu yang bersifat materi dan kasat mata, melainkan hanya Allah SWT sajalah yang lebih tahu tentang keberhasilan mereka, karena hanya Dia sendirilah yang lebih tahu kepada siapa saja ridha-Nya Dia anugerahkan.
Dan sesungguhnya, tiada manusia yang benar-benar mampu menjaga dirinya sendiri dari keburukan, baik keburukan dzahir maupun batin, keburukan sikap maupun niat. Kita hanya bisa berlindung kepada Allah SWT dalam segala keadaan kita, dan selamanya tak pernah mampu berlindung kepada diri kita sendiri. Maka semoga Allah SWT berkenan untuk senantiasa menjaga hati kita dari keburukan batin, semenjak kita sendiri tak pernah benar-benar mampu menjaga hati kita sendiri. Hanya kepada Allah SWT sajalah kita berserah diri dan bertawakkal. Dan hanya Dialah yang mampu mendatangkan kesabaran dalam diri kita. Sesungguhnya hanya dari dan milik-Nya sajalah segala kebenaran, hidayah dan taufiq.