Showing posts with label Aqidah dan Shiroh. Show all posts

Sahabat Nabi
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai sosok yang gagah, kuat, dan tangguh.

Namun, hari itu tangisnya meledak saat utusan Aisyah radhiyallahu ‘anha mengantarkan seorang hamba sahaya dan seekor unta.

Bukan hamba sahaya dan unta itu yang membuat Umar menangis. Tetapi wasiat di baliknya.

Aisyah menceritakan, sebelum Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu wafat, ia menyampaikan wasiat kepadanya.

“Aisyah… tolong periksa seluruh hartaku. Jika ADA YG BERTAMBAH SETELAH AKU MENJABAT SEBAGAI KHALIFAH, KEMBALIKANLAH kepada kas negara melalui khalifah yang terpilih setelahku,” kata Abu Bakar menjelang detik-detik wafatnya.

Tentu saja Aisyah sedih mendengar wasiat itu. Bukan karena apa-apa, tetapi karena ia merasa akan ditinggal oleh sang ayah.

Belum tiga tahun Rasulullah meninggalkannya, kini ia akan ditinggal oleh Abu Bakar, ayahanda tercinta.

Dan benar. Abu Bakar wafat tak lama setelah itu. Kemudian Aisyah pun memeriksa seluruh harta ayahnya.

“Kami memeriksa seluruh harta Abu Bakar,” kata Aisyah. “Tidak ada yang bertambah dari hartanya kecuali unta yang biasa dipergunakan untuk menyirami kebun dan seorang hamba sahaya pengasuh yang menggendong bayinya.”

“Allah merahmati Abu Bakar,” kata Umar sambil sesenggukan, “Ia telah menyusahkan (membuat berat utk mencontoh) orang-orang setelahnya.”

Maksud menyusahkan orang-orang setelahnya adalah membuat khalifah sesudahnya tidak mampu mengungguli Abu Bakar, bahkan sulit mencontoh kualitasnya.

Seperti diketahui, Umar sangat terpacu dengan amal-amal Abu Bakar.

Sahabat bergelar Ash Shidiq itu selalu mengunggulinya dalam berbagai amal. Ketika dimutaba’ahi (dicek) Rasulullah sehabis shalat Shubuh, misalnya.

Rasulullah bertanya kepada jama'ah siapa yang tadi malam qiyamul lail, siapa yang tadi malam khatam Al Qur’an, siapa yang pagi ini sudah berinfaq dan siapa yang sudah menjenguk orang sakit, ternyata hanya Abu Bakar yang mengacungkan tangan terus-menerus. Sahabat lain ada yang mengacungkan tangan sesekali, lalu menurunkan tangannya sesekali. Sedangkan Abu Bakar, ia telah melakukan seluruh amal yang disebutkan Rasulullah itu.

Pernah pula Umar ingin mengungguli Abu Bakar dalam hal infaq. Maka saat menjelang perang Tabuk, ia menginfakkan separuh hartanya. Baru saja Umar selesai, Abu Bakar datang dengan menginfakkan seluruh hartanya. Umar hanya bisa berkomentar, “Sungguh, aku tak pernah bisa mengungguli Abu Bakar.”

Dan kini…
Abu Bakar mencontohkan kebijakan yang luar biasa. Benar-benar ANTI KORUPSI dan zuhud tingkat tinggi. Ia tidak mau mendapatkan kelebihan harta apapun selama menjabat sebagai khalifah. Padahal Abu Bakar adalah juga seorang saudagar yang sangat wajar jika hartanya bertambah. Ia tak mungkin korupsi.

Di kemudian hari, Umar berhasil mencontoh langkah zuhud Abu Bakar ini.

Adakah pemimpin zaman ini yang bisa mencontoh Abu Bakar dan Umar?

Wallaahu a'lam bish shawwab....


Diantara kita pasti sudah sering mendengar kemasyuran kitab tafsir yang dikatakan sebagai kitab tafsir terbaik abad ini, kita tafsir terlengkap, yg membahas tafsir dengan pendekatan usul fiqih...

Kita pasti telah mendengarnya yg sering disebut "kitab Adhwa’ al-Bayan" ...
Dan kita juga akan sering dapati nama penulis kitab itu sebagai ulama yg jenius, fasih, faqih dalam hampir semua bidang ilmu...

Ya beliau Syeikh Muhammad Amin Asy Syinqithi...
Ulama besar yang menguasai 2 mahdzab sekaligus, Maliki dan Hambali secara detail, hingga bila beliau bicara tentang mahdzab maliki orang akan seakan mengira beliau adalah ulama terbaik mahdzab maliki, dan ketika beliau berbicara tentang mahdzab hambali, maka orang yg mendengarnya akan mengira bahwa beliaulah yg terbaik di mahdzab itu...

Namun disini kita tak membahas tentang beliau syeikh muhammad amin rahimallahu ta'ala...
Namun kita akan membahas tentang tempat asal beliau, yaitu daerah syinqhit, meuritania, seperti yang selalu menempel lekat dinama beliau..
Ya sebuah daerah yang setiap kita membaca tentang keutamaan orang2 didaerah itu makan yg muncul hanyalah rasa malu, dan hina dengan keadaan kita hari ini...dibanding mefeka orang2 didaerah syinqith yang Masya Allah ilmu, semangat, pengajaran...

Dan sedikit akan kita ceritakan disini tentang mereka ... benar...tentang daerah syinqith yang mungkin sebagian kita asing dengan kata itu, walau sebagian yang lain sudah terbiasa dengan lekatan nama asy syinqithy di beberapa ulama hari ini...

Inilah dia satu suku yang sangat disegani oleh masyaikh saudi, namun berasal dari luar As Su'udiyyah, yakni hampir setiap mereka mendengar seorang yang datang ke saudi dengan lekatan asy syinqithy maka seluruh ulama saudi akan menghormatinya...

Kenapa mereka segan dengan para ulama syinqith???
Itu karena kebiasaan mereka dalam menuntut 'ilmu yang sangat luar biasa... Jika ada seorang anak kecil disana berumur 7 tahun belum hafal qur'an itu akan sangat memalukan kedua orangtuanya, dia akan diolok-oleh teman-temannya..dan ketika kita dengarkan pendapat syeikh Fahd Alkhandari diepisode 6 beliau mengatakan, semua orang syinqith akan kita temui dengannya sebagai penghafal quran kecuali sedikit..
Berbeda dengan orang2 di negeri ini akan kita temui setiap umat dinegeri ini bukan seorang hafidz kecuali sedikit...
HEBATNYA...Mereka itu mendapatkan pendidikan Al Qur'an bukan hanya sejak kecil, tapi sejak BAYI...Ketika ada seorang ibu hamil, dia tidak akan menghabiskan waktu HANYA tidur di kasur. ibu tersebut akan MENYIBUKKAN DIRI untuk MUROJA'AH HAFALANNYA hingga ibu itu TERASA LETIH karenanya...
Setelah bayi itu lahir, keluarga yang akan muroja'ah, ayah, paman, kakek dan semua keluarganya....
Misalkan seorang anak akan muroja'ah kepada bapak atau ibunya, maka DIWAJIBKAN untuk dia muroja'ah di depan adiknya yang masih bayi pula. Jadi ketika ibunya sedang menggendong bayi tersebut, kakaknya muroja'ah kepada ibunya. Kalaupun suara tangis bayi mengganggu kakaknya ya itulah tantangan untuk anak tersebut...
Masya Allah...

Lalu bagaimana ketika mereka beranjak dewasa??
Ketika mereka mulai berusia 7 tahun ke atas, mereka akan pergi belajar ilmu pada masyaikh tentang ilmu din, fiqih, tafsir, dan ilmu dinn yang lain...
Namun hebatnya mereka TIDAK BELAJAR DI DALAM KELAS. Para ulama' disitu MEMBUAT TENDA DI TENGAH GURUN, dan di dalam tenda itulah proses belajar ilmu dilakaukan...
Mungkin hadir dalam fikiran kita menyakitkan karena panasnya. namun itulah NIKMAT untuk mereka karena RASA INGIN TAU YANG TINGGI pada diri mereka menjadikan SEDIKIT 'ILMU adalah NIKMAT DAN RIZQI YANG MELIMPAH UNTUK MEREKA, BUKAN HARTA...!!!

ISTAMI'...!!!", itu kata pertama yang diucapkan syaikh mereka diawal pengajarannya...
maka dengannya semua menatap syaikh itu dan menyimak dengan seksama.
Namun bukan seperti kita yang kemudian menyimak dengan bersiap menulis, meresume paparan gurunya...
Namun disana Tidak ada yang berani menulis bahkan BERMAIN ALAT TULIS karena dengannya akan dimarahi...
Setelah syaikhnya menerangkan panjang lebar barulah mereka menulis. Mereka menulispun juga BUKAN di selembar kertas. Mereka menulis di batu, daun, kulit pohon atau sejenisnya yang mereka bawa dari rumah,

Pertanyaanya kenapa tidak pakai kertas?
karena memang itu dilarang, dan mereka hanya membawa selembar saja...Setelah mereka menulis maka tulisan mereka yang berasal dari ingatan mereka itu ditunjukkan ke syaikh, kalau ada kesalahan maka akan dikembalikan untuk dibetulkan hingga semua santrinya menuliskan semua yang diucapkan syaikh... Itu menunjukkan SYAIKH TERSEBUT HAFAL APA YANG DIUCAPKAN. Bahkan tak boleh ada kesalahan, saat jeda, kalimat berhenti dan tanda tanya nya...
Masya Allah...
Maka Ketika semua santrinya telah menuliskan dengan benar maka syaikh memerintahkan untuk diHAPUS..
Ya...dihapus... ketika semuanya sudah benar itu menunjukkan pelajaran yang disampaikan oleh syaikh sudah HAFAL DI LUAR KEPALA. Jadi catatan mereka ya ingatan mereka itu... Setelah semuanya benar dan telah dihapus, maka syaikh melanjutkan pelajarannya...Begitu seterusnya sampai pelajaran di hari itu habis. Setelah mereka pulang ke rumah, barulah apa yang mereka INGAT mereka tulis ulang dalam buku-buku mereka...

Dan ada yang tau kapan pelajaran ditiap hari berlangsung itu berhenti??
Itu adalah disaat umur mereka 16 atau 17 tahun.....
Dan taukah apa yg mereka dapat...
Di usiany yang 17 tahun itu, mereka sudah bisa mengeluarkan fatwa, yang berarti mereka sudah menjadi MUFTI..
Masyaa allah...

Pernah baca kisah dari ustadz abdullah saidi..saat beliau di LIPIA Jakarta...
Kata beliau...

Dulu ketika ana di LIPIA ada cerita menarik,dosen ana ketika ingin mencari atau mengingat-ingat sebuah hadits maka beliau bertanya kepada temannya yang masih berstatus mahasiswa S2 (orang syinqith), karena apa?
Karena ikhwan ini sudah hafal kutubus sittah, bulughul marom, shohihain, dan sekarang sedang menghafal musnad imam ahmad (60.000 matan hadits) dan sudah hafal 2/3 nya...
Anta tau kan kitab-kitab tersebut tebalnya seperti apa??? itu hanya masih tebalnya, belum isi dari kitab tersebut...
BERAPA BANYAK HADITS YANG TERDAPAT DI KITAB ITU? Masya Allah. Dan yang akan lebih mengherankan anta adalah :
"MEREKA BUKAN HANYA HAFAL MATAN HADITSNYA... NAMUN SAMPAI KE RIJALUL HADITS, PERAWI INI LAHIR TAHUN SEKIAN, MENINGGAL TAHUN SEKIAN, MENGAMBIL HADITS DARI SIAPA SAJA, DINYATAKAN TSIQAH ATAU TIDAK OLEH 'ULAMA, HINGGA DIA BISA MENENTUKAN SENDIRI SANAD HADITS TERSEBUT SHAHIH ATAU TIDAK TANPA MENCATUT PERKATAAN SEORANG MUHADDITS SEPERTI SYAIKH ALBANI KALAU HADITS TERSEBUT SHAHIH..."

Masyaa Allah ilmu mereka...
Lebih mencengangkan lagi...
Ternyata hanya disanalah hari ini yang masih melestarikan ilmu sanad hadits...
Tiap keluarga disana punya banyak matan hadits tersendiri yang diturunkan turun temurun dalam keluarga...
Semisal satu hadits "inna a'malu bin niat" maka saat mereka mengucapkannya mereka mengatakan "dari ayahku fulan bin fulan, dari kakekku fulan bin fulan, dari kakek buyutku fulan bin fulan dst...sampai...dari rosulullah qola..."
Masya allah...

Semoga menjadi penyemangat belajar bahwa ilmu kita hari ini hanyalah seperti debu, bahkan lebih kecil dari itu bila dibanding mereka...

Mari belajar mendidik hati, menanam iman, memupuk ilmu, hingga cabang-cabang kefahaman itu tumbuh subur di setiap hati kita...karena ada orang2 dluar sana yang sampai detik ini tanpa lelah dan tanpa henti belajar...hingga kita tertinggal jauh dari mereka bila kita tak tersadar mulai sekarang...

Mencatut kalimat sang penulis digroup ini, mbak esti dyah im...
"Jadikan lelah kita Lillah"...
Semoga manfaat...semoga esok bisa menghadirkan kisah yang lebih menggugah lagi...
#kisah pengantar tidur
#adminKHTonline...

Pada suatu hari Rasulullah menjadi imam sholat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan beliau antara satu rukun ke rukun yang lain amatlah sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi kemerutuk seolah-olah sendi-sendi pada tubuh beliau yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Umar bin Khattab yang tidak tahan melihat keadaan beliau langsung bertanya setelah selesai sholat.

"Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, Apakah anda sakit Ya Rasulullah?"

Jawab beliau :"tidak Ya Umar, Alhamdulillah saya sehat dan segar".

"Ya Rasulullah, mengapa setiap kali baginda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh Anda?"

"Kami yakin, Anda sedang sakit", desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu kerikil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali beliau bergerak.

"Ya Rasulullah, adakah bila baginda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan memberikannya untuk Baginda?"

Lalu beliau menjawab dengan lembut dan senyum,"tidak paflra sahabatku. Saya tahu, apa pun akan kalian korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah yang akan saya jawab di hadapan Allah nanti, apabila saya sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah untukku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di aKhirat kelak." Jawab Rasul

Subhanallah... 😭😭

Betapa cintanya beliau kepada umatnya... Sedang cinta kita pada beliau?? Apakah kita sering mengingat beliau? Apakah kita sering membaca sholawat untuk beliau? Apakah akhlak Rasulullah yang lembut, santun, pemaaf, ikhlas, dan tawadhu' telah kita teladani?....

Mari kita renungkan kembali... Kita jadikan introspeksi diri?
Apakah kita benar-benar mencintai Rasulullah atau sekedar omongan saja?....








 
Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Akhir-akhir ini pendidikan disoroti terlalu intelektualistis. Terkadang juga dianggap terlalu job-oriented (berorientasi kerja). Sementara pendidikan agama dituduh sebagai terlampau spiritualistis sehingga nampak tidak rasional.

Sebenarnya pendidikan dalam Islam tidak demikian. Ia meliputi seluruh aspek dalam diri manusia. Tidak melulu spiritualistis dan tidak pula terlalu intelektualistis atau pragmatis dan praktis.

Pendidikan dalam Islam berkaitan dengan soal ilmu dan ilmu dalam Islam berdimensi iman dan amal. Oleh sebab itu pendidikan Islam mengharuskan pemahaman tentang dua hal: Pertama, Letak iman, ilmu dan amal tersebut dalam jiwa manusia. Kedua, Bagaimana menanamkan itu semua kedalam diri manusia.

Sistem apa yang cocok untuk pengembangan anak dalam berbagai aspek kejiwaannya dalam sebuah sistem pendidikan yang terpadu, perlu dipikirkan terus menerus dan seksama.

Namun, sebelum berpikir tentang metode atau sistem perlu dijelaskan terlebih dulu konsep jiwa manusia yang akan menjadi obyek pendidikan itu. Sebab jiwa manusia memiliki bagian-bagian penting yang saling berkaitan.

Hakim Tirmidhi seorang ulama abad ke 9 menulis buku berjudul Bayan al-Farq, Bayn al-Sadr wa al-Qalb wa al-Fuad wa al-Lub. (Penjelasan Tentang Perbedaan antara Sadr (sadar), Qalb (kalbu/hati), Fuad (nurani) dan Lubb (akal pikiran).
Istilah-istilah sadr yang dalam bahasa Indonesia menjadi sadar-kesadaran ternyata berbeda artinya dari istilah qalb, hati atau  kalbu. Fuad yang diIndonesiakan menjadi nurani berbeda lagi dari lubb yang arti sebenarnya adalah akal pikiran yang beriman. Ulul Albab adalah orang yang berakal pikiran tauhidi.

Namun itu semua merujuk kepada sesuatu yang bersifat batiniyah. Jika seseorang dibedah dadanya tentu sadr, qalb, fuad dan lub itu tidak akan ditemukan secara fisik. Maka dalam buku ini Hakim Tirmidhi menjelaskan bahwa hati atau qalb itu adalah nama yang komprehensif yang kesemuanya bersifat batiniyah alias tidak zahir alias tidak empiris.

Sadr ada di dalam qalb seperti kedudukan putihnya mata didalam mata. Sadr adalah pintu masuk segala sesuatu ke dalam diri manusia. Perasaan waswas, lalai, kebencian, kejahatan, kelapangan dan kesempitan masuk melalui sadr. Nafsu amarah, cita-cita, keinginan, nafsu birahi, itu pun masuk kedalam sadr dan bukan kedalam qalb.

Akan tetapi sadr itu juga tempat masuknya ilmu yang datang melalui pendengaran atau khabar. Maka dari itu pengajaran, hafalan, dan pendengaran itu berhubungan dengan sadr. Dinamakan sadr karena merujuk kepada kata sadara (muncul), atau sadr (pusat). Jadi kesadaran adalah inti atau pusat dari hati (qalb).

Jika sadr ada didalam qalb maka qalb itu ada dalam genggaman nafs atau jiwa. Namun, qalb itu adalah raja dan jiwa itu adalah kerajaannya. “Jika rajanya baik” seperti sabda Nabi, “Maka baiklah bala tentaranya dan jika rusak maka rusaklah bala tentaranya”. 

Demikian pula baik-buruknya jasad itu tergantung pada hati (qalb). Hati (qalb) itu bagaikan lampu dan baiknya suatu lampu itu terlihat dari cahaya. Dan baiknya hati terlihat dari cahaya ketaqwaan dan keyakinan. 

Sebagai raja, qalb adalah tempat bersemayamnya cahaya Iman, cahaya kekhusyu’an, ketaqwaan, kecintaan, keridhaan, keyakinan, ketakutan, harapan, kesabaran, kepuasan. Karena iman dalam Islam berasaskan pada ilmu, maka qalb juga merupakan sumber ilmu. Karena sadr itu tempat masuknya ilmu, sedangkan qalb itu tempat keimanan, maka didalam qalb itu pun terdapat ilmu.

Jika qalb (hati) itu adalah mata maka fuad itu adalah hitamnya pupil mata. Fuad ini adalah tempat bersemayamnya ma’rifah, ide, pemikiran, konsep, pandangan. Ketika seseorang berpikir maka fuadnya lebih dulu yang bekerja baru kemudian hatinya. Fuad itu ada di tengah-tengah hati, sedangkan hati di tengah-tengah sadar.
Jika qalb adalah mata, sadr adalah putih mata, fuad adalah hitamnya pupil mata, maka lubb adalah cahaya mata. Jika qalb adalah tempat bersemayamnya cahaya keimanan dan sadr tempat cahaya keislaman, dan fuad adalah tempat cahaya ma’rifah maka lubb berkaitan dengan cahaya ketauhidan.
Gambaran diatas mungkin nampak terlalu spiritual atau dalam bahasa Kant transcendent. Tapi memang proses berpikir demikian adanya. Hanya saja yang ditekankan disini bukan bagaimana ilmu didapat akan tetapi bagaimana ia berproses menuju dari ilmu menjadi iman.

Apabila pendidikan Islam memperhatikan potensi batiniyah manusia seperti digambarkan Hakim Tirmidhi diatas maka yang akan lahir adalah manusia-manusia tinggi ilmu dan imannya sekaligus banyak amalnya. Yaitu manusia-manusia yang  hati (qalb), kesadaran (sadr), nurani (fuad) dan pikirannya (lubb) berjalan seimbang.

Kenabian 1. Nabi Muhammad SAW (12 H) Khulafaurasyidin 2. Abu bakar (13 H) 3. Ummar bin khatab (23 H) 4. Usman bin afan (35H) 5. Ali bin abi tholib ( 40 H) 6. Hasan bin Ali ( 50 H) Bani Umayah 7. Muawiyah bin abu sufyan (60 H) 8. Yazid bin muawiyah (64 H) 9. Muawiyah bin Yazid ( 64 H) Khalifah terpisah
10. Abdullah bin Zubair ( 73 H) 11. Abdul Malik bin Marwan ( 86 H) 12. Al walid bin abdul malik ( 96 H) 13. Sulaiman bin abdul malik ( 99 H) Khalifah terpisah
14. Ummar Bin abdul Azis ( 101 H) 15. Yazid Bin Abdul Malik (105 H) 16. Hisyam Bin abdul malik (125 H) 17. Walid bin Yazid (126 H) 18. Yazid bin Walid (127H) 19. Ibrahim bin Walid (127 H) 20. Marwan bin Muhammad (132H) Sampai disini adalah khalifah terakhir Bani Ummayah, yang kemudian dikudeta oleh pasukan yang di pimpin Abu muslim al khurasani, dan bergantilah menjadi Daulah Abasiyah. Ada banyak kisah menarik disini, karena di masa inilah sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin kubra hidup... Dengan kegemilangan mereka mengantarkan kita berislam seperti hari ini...
PART 1

Tawadu' kepada gurunya Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang murid mengetahui bahwa rendah dirinya kepada seorang guru adalah kemuliaan, dan tunduknya adalah kebanggaan.” (Tadzkirah Sami’hal. 88) Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan kemuliaan dan kedudukannya yang agung, beliau mengambil tali kekang unta Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu seraya berkata: “Demikianlah kita diperintah untuk berbuat baik kepada ulama.” 

(As-Syifa,2/608) Memuliakan gurunya Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang murid memperhatikan gurunya dengan pandangan penghormatan. Hendaklah ia meyakini keahlian gurunya dibandingkan yang lain. Karena hal itu akan menghantarkan seorang murid untuk banyak mengambil manfaat darinya, dan lebih bisa membekas dalam hati terhadap apa yang ia dengar dari gurunya tersebut” Kisah- kisah dibawah ini mungkin akan membuat kita takjub dengan penghormatan para ulama terhadap para guru mereka. Imam Asy-Syafi’i misalnya, ia berkata: “Aku senantiasa membuka kertas kitab di hadapan Malik dengan lembut agar ia tidak mendengarnya, karena hormat kepada beliau.” Ar-Rabi’, sahabat asy-Syafi’i sekaligus muridnya, mengatakan: “Aku tidak berani minum air sedangkan Asy-Syafi’i melihatku, karena menghormatinya.” Imam An-Nawawi, suatu hari ia dipanggil oleh gurunya, Al-Kamal Al-Irbili, untuk makan bersamanya. Maka ia mengatakan: “Wahai Tuanku, maafkan aku. Aku tidak dapat memenuhinya, karena aku mempunyai uzur syar’i.” Dan ia pun meninggalkannya. Kemudian seorang kawannya bertanya kepadanya: "Uzur apa itu?’ "Ia menjawab: "Aku takut bila guruku lebih dahulu memandang suatu suapan tetapi aku yang memakannya sedangkan aku tidak menyadarinya." Itulah gambaran ulama kita yg memang sangat menghormati orang yang lebih berilmu dan dianggapnya sebagai guru (walau sebenarnya mereka sendiri jg orang yg sangat berilmu). Kisah lagi,
Pada suatu hari seorang kerabat Sufyan ats-Tsauri wafat,dan orang orang berkumpul menemuinya untuk berta’ziyah.
Lalu datanglah Abu Hanifah. Maka bangkitlah Sufyan kearahnya, memeluknya, mendudukkan di tempatnya, dan ia duduk dihadapannya. Ketika orang orang telah bubar, para sahabat Sufyan mengatakan: “Kami melihatmu melakukan sesuatu yang mengherankan.” Sufyan menjawab: “Orang ini adalah orang yang memiliki kedudukan dalam ilmu.Seandainya aku tidak bangun karena ilmunya, aku tetap akan bangun karena usianya. Sendainya aku tidak bangun karena usianya, aku tetap akan bangun karena kefaqihannya. Dan seandainya aku tidak bangun karena kefaqihannya, aku akan tetap bangun karena sifat wara’nya.” Masya allah... Mendoakan gurunya Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: وَمَنْ أَتَى إِليْكُم مَعْروفاً فَكَافِئُوه فَإِنْ لَمْ تَجِدوا فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى يَعلَمَ أن قَد كَافَئْتُمُوه “Apabila ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah dengan balasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia hingga engkau memandang telah mencukupi untuk membalas dengan balasan yang setimpal.” (HR. Bukhori dalamal-Adab al-Mufrodno. 216, lihatas-Shohihah 254) Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang penuntut ilmu mendoakan gurunya sepanjang masa. Memperhatikan anak-anaknya, kerabatnya dan menunaikan haknya apabila telah wafat” (Tadzkirah Sami’hal. 91). Abu Yusuf, murid Abu Hanifah sangat mencintai gurunya itu: “Sesungguhnya aku mendoakan Abu Hanifah sebelum mendoakan ayahku, dan aku pernah mendengar Abu Hanifah ,mengatakan, "Sesungguhnya aku mendoakan Hammad bersama kedua orang tuaku’.” Sabar dalam menuntutnya Imam Yahya Bin Abi Katsir berkata : “Ilmu tidak diperoleh dengan jiwa yang enak (santai)”. ( Al-Jami’ : 1/91) Imam As-Syafi’I berkata: "Seseorang Tidak akan sampai pada ilmu ini sampai ia ditimpa kefakiran (kemiskinan), dan kefaqiran tersebut lebih ia utamakan dari pada yang lainnya”. (Siyar:10/89) Imam Abu Ahmad Nasr Bin Ahmad Bin Abbas Al-‘Iyadhi berkata: “Tidak akan memperoleh ilmuini kecuali orang yang menutup warungnya, menghancurkan sawahnya, meninggalkan teman-temannya, dan meninggal dunia (wafat) salah satu diantara keluarganya tetapi ia tidak bisa menghadiri jenazahnya”. (Al-Jami’ Li AdabirRowi no:1571)

Yusuf bin Husain rahimahullah berkata:
“Dengan (memahami dan mengamalkan) adab engkau dapat memahami ilmu (dengan baik dan benar).” (Lihat Iqtidho’ul ‘Ilmi Al-‘Amal karya Al-Khothib Al-Baghdadi hal.170) Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata kepada seorang pemuda dari suku Quraisy: “Wahai anak saudaraku, pelajarilah olehmu adab-adab (islami) sebelum engkau mempelajari ilmu agama.” (Lihat Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani VI/330) Zakariya Al-‘Anbary rahimahullah berkata: “Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar. Dan adab tanpa ilmu bagaikan ruh tanpa jasad.” Disebutkan bahwa jumlah jama’ah yang hadir di majlis ta’limnya imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mencapai 5000 (lima ribu) orang. Akan tetapi yg mencatat ilmu (hadits yang disampaikan oleh imam Ahmad, pent) hanya 500 (lima ratus) orang. Sedangkan yang lainnya hanya mempelajari akhlak dan adab (sopan santun) yang baik dari beliau.” Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata: “Mereka (para sahabat dan tabi’in) mempelajari adab-adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu syar’i.” Muhanna (salah seorang murid imam Ahmad) rahimahullah berkata: “Aku pernah berguru kepada imam Ahmad bin Hanbal, dan aku telah belajar dari beliau tentang adab dan ilmu beliau.” Ibnu Wahb rahimahullah berkata: “Apa yg telah kami pelajari dari Adab (sopan santun)nya imam Malik lebih banyak drpd apa yg telah kami pelajari dari ilmunya.” (Lihat Siyar alam wa nubala)

Imam Sufyan ats-Tsauri (wafat th, 161 H) berkata “Mereka tidak menyuruh/mengirimkan anak-anak mereka untuk menuntut ilmu, hingga mereka mempelajari adab dan beribadah selama 20 tahun”
Beliau juga mengatakan, “Adab itu 2/3 ilmu.” Hiyatul ‘Auliyaa’ (VI/361), dinukil dari Min Hadyis Salaf fii Thalabil ‘Ilmi (hal.23) Imam Muhammad bin Sirin (wafat th.110 H) berkata, “ Mereka (Salafush Shalih) mempelajari petunjuk Nabi ( tentang Adab) sebagaimana mereka belajar ilmu.” Al-Jaami’ Li Akhlaaqir Raawi wa Adaabis Saami’ (1/79)

Yusuf bin Al Husain berkata, بالأدب تفهم العلم “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”

Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya. Ibnul Mubarok berkata, تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” Ibnu Sirin berkata, كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم “Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.” Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok, نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث “Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari. Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata: “Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.”
Imam Malik juga pernah berkata: “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata: “Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.” Imam Abu Hanifah berkata, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Al Madkhol, 1: 164)


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : :خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ. “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitumasa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).” (HR. Bukhari )

Siapakah sahabat itu??
Imam ibnu katsir berkata:
"Sahabat adalah orang yang melihat Rosulullahshallallahu ‘alaihi was sallamdan ia dalam keadaan islam, walaupun masa kebersamaannya dengan Nabishallallahu ‘alaihi was sallamtidak dalam jangka waktu yang lama, walaupun ia tidak meriwayatkan satu haditspun. Inilah pengertian sahabat menurut mayoritas ulama terdahulu maupun belakangan" (Ba’itsul Hatsits oleh Ibnu Katsir)

Ibnu hajar asqolani mengatakan:
“Orang yang bertemu Nabi Shallallahu Ta’ala ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallam dalam keadaan berimman kepadanya dan mati dalam keadaan islam walau diantarai dengan kemurtadan (yaitu diantara bertemu Nabi dan kematiannya dalam islam) menurut pendapat yang paling kuat.”
(An Nukat ‘ala Nuzhatun Nadzor oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy) Siapakah generasi tabiin itu??
Ibnu Hibban mengemukakan:
"Bahwa seseorang dapat disebut tabi’in apabila saat bertemu dengan sahabat, ia sudah cukup umur".

Menurut Imam Khatib: "Tabi’in adalah seorang yang bertemu dan melakukan interaksi dengan sahabat. Dalam definisinya ini, Imam Khatib menambahkan syarat harus adanya interaksi yang terjadi antara sahabat dan orang yang bertemu dengannya, karenainteraksi dapat memberi pengaruh yang besar dalam perubahan perilaku." Siapakah tabi'ut tabiin itu? Atbaut Tabi'in adalah generasi setelah Tabi'in, artinya pengikut Tabi'in, adalah orang Islam teman sepergaulan dengan para Tabi'in dan tidakmengalami masa hidup Sahabat Nabi. Tab'ut Tabi'in adalah orang Islam dewasa yang pernah bertemu atau berguru pada Tabi'in dan sampai wafatnya beragama Islam. Dan ada juga yang menulis bahwa Tabi'in yangditemui harus masih dalam keadaan sehat ingatannya. Karena Tabi'in yang terahir wafat sekitar 110-120 Hijriah.