Showing posts with label parenting. Show all posts

Oleh: Muhammad Husnan

Sekitar Empat tahun yang lalu tepatnya di awal Ramadhan 1433 H Saya mengikuti kuliah subuh di Masjid dekat rumah. Ustadz yang berceramah menceritakan kisah nyata dari seorang rektor salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia yang sedang mencari sistem pendidikan terbaik yang dapat menghasilkan dan mencetak generasi yang cerdas, bermartabat dan bisa bermanfaat bagi bangsa dan agama.

Untuk mencari sistem pendidikan terbaik, rektor tersebut pergi ke Timur Tengah untuk meminta nasihat dari seorang ulama terkemuka di sana. Ketika bertemu dengan ulama yang ingin ditemuinya, lalu dia menyampaikan maksudnya untuk meminta saran bagaimana menciptakan sistem pendidikan terbaik untuk kampus yang dipimpinnya saat ini.

Sebelum menjawab pertanyaan dari rektor, ulama tersebut bertanya bagaimana sistem pendidikan saat ini di Indonesia mulai dari tingkat bawah sampai paling atas?
Rektor menjawab, "paling bawah mulai dari SD selama  6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, D3 3 tahun atau S1 4 tahun, S2 sekitar 1.5 - 2 tahun, dan setelah itu S3 untuk yang paling tinggi.

Jadi untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun ya? Tanya Sang Ulama.
Iya, jawab rektor tersebut.
Lalu bagaimana jika hanya lulus sampai di SD saja selama 6 tahun, pekerjaan apa yang akan bisa didapat? Tanya kembali Sang Ulama.
Kalau hanya SD paling hanya buruh lepas atau tukang sapu jalanan, tukang kebun dan pekerjaan sejenisnya. Tidak ada pekerjaan yang bisa diharapkan jika hanya lulus SD di negeri Kami. Jawab si rektor.

Jika Lulus SMP bagaimana?
Untuk SMP mungkin jadi office boy (OB) atau cleaning service, jawab kembali si rektor. Kalau SMA bagaimana?
Kalau lulus SMA masih agak mending pekerjaan nya di negeri Kami, bisa sebagai operator di perusahaan-perusahaan, lanjut si rektor.

Kalau lulus D3 atau S1 bagaimana? Bertanya kembali Sang Ulama. Klo lulus D3 atau S1 bisa sebagai staff di kantor dan S2 bisa langsung jadi manager di sebuah perusahaan, kata si rektor.

Berarti untuk mendapatkan pekerjaan yang enak di negeri Anda minimal harus lulus D3/S1 atau menempuh pendidikan selama kurang lebih 15-16 tahun ya? Tanya kembali sang Ulama. Iya betul, jawab si rektor.

Sekarang coba bandingkan dengan pendidikan yang Islam ajarkan. Misal selama 6 tahun pertama (SD) hanya mempelajari dan menghapal Al-Qur'an, apakah bisa hapal 30 juz? Tanya Sang Ulama. Inshaa Alloh bisa, jawab si rektor dengan yakin. Apakah ada hafidz Qur'an di negeri Anda yang bekerja sebagai buruh lepas atau tukang sapu seperti yang Anda sebutkan tadi untuk orang yang hanya Lulus SD? Kembali tanya Sang Ulama. Tidak ada, jawab si rektor.

Jika dilanjut 3 tahun berikutnya mempelajari dan menghapal hadis apakah bisa menghapal ratusan hadis selama 3 tahun? Bisa, jawab si rektor. Apakah ada di negara Anda orang yang hapal Al-Qur'an 30 juz dan ratusan hadis menjadi OB atau cleaning service? Tidak ada, jawab kembali si rektor.

Lanjut 3 tahun setelah itu mempelajari tafsir Al-Qur'an, apakah ada di negara Anda orang yang hafidz Qur'an, hapal hadis dan bisa menguasai tafsir yang kerjanya sebagai operator di pabrik? Tanya kembali ulama tersebut. Tidak ada, jawab si rektor. Rektor tersebut mengangguk mulai mengerti maksud sang ulama.

Anda mulai paham maksud Saya? Ya, jawab si rektor.

Berapa lama pelajaran agama yang diberikan dalam seminggu? Kurang lebih 2-3 jam, jawab si rektor.

Sang ulama melanjutkan pesannya kepada si rektor, jika Anda ingin mencetak generasi yang cerdas, bermartabat, bermanfaat bagi bangsa dan agama, serta mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus nanti, Anda harus merubah sistem pendidikan Anda dari orientasi dunia menjadi mengutamakan orientasi akhirat karena jika Kita berfokus pada akhirat inshaa Alloh dunia akan didapat. Tapi jika sistem pendidikan Anda hanya berorientasi pada dunia, maka dunia dan akhirat belum tentu akan didapat.

Pelajari Al-Qur'an karena orang yang mempelajari Al-Qur'an, Alloh akan meninggikan derajat orang tersebut di mata hamba-hambaNya. Itulah sebabnya Anda tidak akan menemukan orang yang hafidz Qur'an di negara Anda atau di negara manapun yang berprofesi sebagai tukang sapu atau buruh lepas walaupun orang tersebut tidak belajar sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi karena Alloh yang memberikan pekerjaan langsung untuk para hafidz Qur'an. Hafidz Qur'an adalah salah satu karyawan Alloh dan Alloh sayang sama mereka dan akan menggajinya lewat cara-cara yang menakjubkan. Tidak perlu gaji bulanan tapi hidup berkecukupan.

Itulah pesan Sang Ulama kepada rektor tersebut. Mari kita didik diri dan keluarga kita agar senantiasa selalu membaca, mempelajari, dan menghapal Al-Qur'an agar hidup kita dimudahkan dan berkecukupan. Totalitas menjadi karyawan Alloh bukan hanya karyawan dari seorang manusia.

Semoga bermanfaat.

QS. Taha 25-28

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى

25. Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku.

وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى

26. dan mudahkanlah untukku urusanku,

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِى

27. dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,

يَفْقَهُوا قَوْلِي
ع
28. supaya mereka mengerti perkataanku.

     ----------®----------

🌱Seseorang yg meminta agar anaknya dididik oleh Ibnu Sahnun, berkata kepadanya :

"Sebelumnya aku sendiri yang mengurusi pendidikan anakku, dan mulai sekarang aku tidak mau lagi disibukan oleh urusan pendidikannya".

Ibnu Sahnun berkata kepadanya :

"Tahukah kamu bahwa pahala perbuatanmu (mendidik anak) itu sebenarnya LEBIH BESAR dari pada amalan haji, ribath, dan jihad?"
(Kitab Attarbiyah fi Al Islam, hal 250)...

🌱Ketika membaca hasil seminar Elly risman diatas, bgmana prasaan anda??

🌱Miris, takut, atau biasa saja??
Seberapa takut, seberapa prihatin, seberapa miris njngan semua dengan kabar diatas itu sesuai dengan kadar keimanan njngan semua...

🌱 bila dalam hati hanya menganggap paparan diatas biasa saja maka menjadi salah satu pertanda bahwa ada masalah dengan iman njngan semua...

Rasululullah bersabda:

"Barang siapa diantara kamu melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya; itulah selemah-lemahnya iman"
(Hadist riwayat Muslim).

🌱 Lalu bagaimana bila hati saja sudah tak lagi miris melihat kemungkaran??

  ------------®------------
🌱Dimulai dari perbaikan iman kita, barulah selanjutnya kita mencari bagaimanaa islam memandang zaman dan mendisik generasi hingga generasi menjadi istimewa....

🌱Ya awalnya adalah perbaikan iman, kemudian yakin bahwa perbaikan umat dimulai "salah satunya" dengan prbaikan generasi, dengannya menyadarkan diri bahwa MENDIDIK ANAK adalah lebih baik dibandingkan pahala haji, ribath dan jihad fisabilillah...

🌱Lalu mungkin diantara kita bertanya....

🌱Bagaimana islam mendidik anak hingga memiliki kebaikan akhlak dan ketinggian iman seperti imam ahmad, umar bin abdul azis, imam syafii dll?

🌱Mungkinkah generasi hari ini bisa segemilang dan seistimewa itu?

🌱Dimulai dari kapankah pendidikan anak itu diawali?

🌱Bagaimana tahapan pendidikan itu?

🌱Banyak orang mengatakan, tanamkan iman baru quran, ajarkan adab sebelum ilmu, lalu bagaimana sebenarnya menanamkan hal itu?dan apa materinya?

🌱Anakku umur 2 tahun, anakku umur 7 tahun, anakku umur 1 tahun, apakah pendidikannya sama?

🌱saya masih bujang, apakah perlunya membaca dan menyimak kajian "mukmin parenting" ini?

🌱 Anak saya "unik" (red: nakal) apa masih bisa dirubah, apa masih bisa djadikan soleh??bagaimana nabi memandu kita tentang itu?

🌱anak saya cerdas, saya tak hafal quran, bagaimana nabi menuntun orang tua mendidiknya?

🌱Semua insyaa allah akan terjawab pelan dalam diskusi kita kedepan....

🌱hingga kemudian yang bujang akan berkata:  saya kalau sudah menikah akan mendidik dengan baik anak sy takkan jadi seperti itu!!!

🌱yang sudah punya anak berkata:  menurut ilmu psikologi hari ini saya sudah faham bagaimana mendidik anak, dan anak saya tak akan jadi liar...

🌱Namun tolong dengarkan, kita butuh penyemangat, kita butuh komunitas yg sadar, kita butuh saudara yg saling mengingatkan, kita butuh pasangan yang tidak enggan, karena MENDIDIK ANAK bukan pekerjaan instan, mendidik anak untuk BAIK IMANNYA, MULIA ADABNYA, LUAS ILMU NYA tak sesederhana dalam pikiran kita...

🌱Tanyakan pada Ayah yg memiliki anak yg beranjak dewasa, tanyakan pada Ibu yang mengandung anak dan melahirkan kemudian mendampinginya tiap hari....

🌱Semua akan sepakat mengatakan...
"Kami sedikit tau bagaimana mendidik, tapi kami kehabisan energi, kami kurang istiqomah, dan kami blum cukup sadar untuk mencetak generasi istimewa itu"...

🌱 Maka berawal dari itu, setidaknya komunitas kecil dalam group ini jadikan tempat diskusi, ajang mencari, dan ladangnya semangat untuk mencetak generasi yang istimewa...

❗Terakhir...
Kembali kami sampaikan...
"Mendidik anak tak hanya butuh ilmu, namun semangat yang berkelanjutan, kesabaran yang panjang, dan keistiqomahan yang berjalan, iman yg menjulang lah yang insya allah bersama kita pupuk dalam komunitas kecil ini"...

Ya Rabb bimbinglah kami...

Selamat pagi....

#prolog mukmin parenting...
#KHTonline...

RESUME KAJIAN KELUARGA SAMARA Ust. TRI ASMORO KURNIAWAN Tadi Malam di Masjid Al Hidayah Wonokarto Wonogiri...

TEMA : VISI KELUARGA ISLAMI
        ****

Apa itu visi .?
(1). Kemampuan utk melihat inti persoalan
- Apa sih sebenarnya tujuan pernikahan itu  ?
(2). Pandangan atau wawasan ke depan
(3). Kemampuan utk merasakan sesuatu yg tdk nampak melalui kehalusan jiwa dan ketajaman penglihatan
(4). Penglihatan atau pengamatan.

Banyak org yg menikah.. tetapi tidak memiliki visi yg jelas. Jauh dari nilai-nilai perjuangan. Bahkan banyak yg hanya bervisi nafsu semata.

Jika kemapanan ekonomi menjadi syarat awal pernikahan. Maka visi keluarga Islami jauh panggang dr api.

Ali bin Abi Thalib ktka menikahi Fatimah, sama sekali tdk mempunyai kesiapan ekonomi yg mapan. Tp Rasulullah saw tetap menerima pinangannya.

"Demi Allah, aku tidak takut kalian menjadi org miskin. Tp justru aku takut kalian dimudahkan meraih dunia...."

Org yg sgt mencintai dunia, akan dihinggapi 3 penyakit (Ibnul Qayyim) :
(1). Keinginan yg tdk pernah terpuaskan
(2). Kecapaikan yg pasti terus menyertainya
(3). Penyesalan krn apa yg terjadi sering tidak sesuai dg yg diharapkan.

QS. 5 : 55
(Siksaan dunia utk org2 kaya...)

Menikah itu... SELALU BERHUBUNGAN DG AKHIRAT, SYURGA & NERAKA (QS. 66 : 6)

Menikah itu.. Utk menjaga agar tidak masuk neraka. Maka.. siapa yg akan kita nikahi? Merekalah yg bisa mendekatkan kt kpd taqwa. Cntk/tampan, kaya/miskin ; itu relatif.

Ibnu Abbas menafsirkan QS. 66 : 6 :
"Kerjakanlah keta'atan2 kpd Allah. Takutlah maksiyat kpd Allah. Perintahkanlah keluargamu utk berdzikir kpd Allah. Niscaya kalian akan selamat dr neraka"

Sedangkan Ali bin Abi Thalib menafsirkan : "Ajarkanlah kebaikan kpd dirimu sendiri dan keluargamu"

Dalil kedua :
QS. 39 : 15
"Org-org yg merugikan dirinya dan keluarganya di hari kiamat.

Keluarga yg merugi itu... Siapa mereka?
Yaitu keluarga yg tercerai berai di akhirat nanti. Sebagian di syurga... sebagian di neraka.

INDIKATOR KELUARGA SAKINAH :

(*) Keluarga Sakinah.. Keluarga yg memiliki Mizan Kebenaran (Timbangan sesuatu, berdasarkan kebenaran)

Keluarga yg jauh dr hidayah; ukurannya pada "SIAPA YG MEMBAWA UANG KE KELUARGA"

Ukuran benar dan salah hanya dinilai dr siapa yg bawa uang.

(*) Keluarga sakinah ... Memiliki Standard Capaian kesuksesan yg jelas...

Sukses itu : ketika semua capaian kita di dunia ini, mampu mengantarkan kita masuk syurga.

(*) Keluarga Sakinah ... Mempunyai Alasan Perjuangan...

Berbagai masalah dan penderitaan dlm rmh tngga.. mjd alasan utk tetap bertahan.. krn keluarga adala media dan sarana terlengkap meraih syurga...

(*) Keluarga Sakinah ... Punya energi utk bersabar...

Kisah Abu Utsman ra..(edisi membuat menangis...😭😭😭)

(*) Keluarga Sakinah... Memiliki Ikatan Hati Yang Kuat...

Ikatan hati yang dimaksud, Keluarga sakinah... bs saling memahami kondisi masing2. Saling memahami problem dan permasalahan yg dihadapi..

Cermin keluarga sakinah : QS. AL AHZAB (33) : 21. LIHAT KHUSUS : AYAT 28, 29.

KESIMPULAN :

Visi Keluarga Islami :
"Keluarga Yang Semua Aktivitasnya Selalu Berorientasi Akhirat, Agar Semua Anggota Keluarga Bisa Utuh Berkumpul Hingga Ke Syurga"

WALLAAHU A'LAM BISH SHAWWAB

Diresume oleh :
ABDULLAH RABBANI
Yayasan AR RAYYAN Wonogiri


(1). Jika melihat anak kita menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologis manusia saat menangis, adalah menunduk.

(2). Jika ingin anak-anak kita berhenti bermain, jangan berkata, "Ayo, sudah mainnya, stop sekarang!". Tapi katakan kepada mereka, "Mainnya 5 menit lagi yaaa". Kemudian ingatkan kembali, "Dua menit lagi yaaa". Kemudian barulah katakan, "Ayo, waktu main sudah habis". Mereka akan berhenti bermain.

(3). Jika kita berada di hadapan sekumpulan anak-anak dalam sebuah tempat, yang mereka berisik dan gaduh, dan engkau ingin memperingatkan mereka, maka katakanlah, "Ayoo.. Siapa yang mau mendengar cerita saya, angkat tangannya..". Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.

(4). Katakan kepada anak-anak menjelang tidur, "Ayo tidur sayang.. besok pagi kan kita sholat subuh", maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata, "Ayo tidur, besok kan sekolah", akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.

(5). Nikmati masa kecil anak-anak kita, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan.
Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, becandalah bersama mereka. Jadilah 'anak kecil' saat bersama mereka, ajarkan mereka dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.

(6). Tinggalkan HP sesaat kalau bisa, dan matikan juga TV. Jika ada teman yang menelpon urusan tak penting, katakan, "Maaf pak/bu, saat ini aku sedang sibuk mendampingi anak-anak". Semua ini tidak menyebabkan jatuhnya wibawamu, atau hilangnya kepribadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana cara menyeimbangkan segala sesuatu dan menguasai pendidikan anak.

Selain itu, jangan lupa berdo'a dan bermohon kepada Allah, agar anak-anak kita menjadi perhiasan yang menyenangkan.
بَارَكَ اللهُ فِيْك
Semoga bermanfa'at. Aamiiin

Oleh : Budi Ashari Lc.

Saya mengajak siapapun. Pasti yang paling senang anak-anak kita. Ayo nak, hujan-hujanan....

Hal ‘sepele’ ini perlu dibahas karena anak-anak pasti senang hujan-hujanan. Sementara para orangtua hari ini cenderung berkata: jangan, nanti sakit, nanti masuk angin, nanti demam, nanti pilek, dst...

Apakah itu konsep parenting yang benar?

Dengarkan kisah Anas bin Malik radhiallahu anhu berikut ini:
قَالَ أَنَسٌ: أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ، قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى»
Anas berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kehujanan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya: Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan ini?
Beliau menjawab, “Karena ia baru saja datang dari Tuhannya ta’ala.” (HR. Muslim)

An Nawawi menjelaskan hadits ini, “Maknanya bahwa hujan adalah rahmat, ia baru saja diciptakan Allah ta’ala. Maka kita ambil keberkahannya. Hadits ini juga menjadi dalil bagi pernyataan sahabat-sahabat kami bahwa dianjurkan saat hujan pertama untuk menyingkap –yang bukan aurat-, agar terkena hujan.” (Al Minhaj)

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para sahabat Nabi pun sengaja hujan-hujanan seperti Utsman bin Affan. Demikian juga Abdullah bin Abbas, jika hujan turun dia berkata: Wahai Ikrimah keluarkan pelana, keluarkan ini, keluarkan itu agar terkena hujan. Ibnu Rajab juga menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib jika sedang hujan, keluar untuk hujan-hujanan. Jika hujan mengenai kepalanya yang gundul itu, dia mengusapkan ke seluruh kepala, wajah dan badan kemudian berkata: Keberkahan turun dari langit yang belum tersentuh tangan juga bejana.

Abul Abbas Al Qurthubi juga menjelaskan, “Ini yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mencari keberkahan dengan hujan dan mencari obat. Karena Allah ta’ala telah menamainya rahmat, diberkahi, suci, sebab kehidupan dan menjauhkan dari hukuman. Diambil dari hadits: penghormatan terhadap hujan dan tidak boleh merendahkannya.” (Al Mufhim)

Bahkan para ulama; Al Bukhari dalam Shahihnya dan Al Adab Al Mufrod, Muslim dalam Shahihnya, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubro. Semuanya menuliskan bab khusus dalam kitab-kitab hadits mereka tentang anjuran hujan-hujanan.

Apa masih ada yang sangsi bahwa hujan-hujanan dianjurkan...?

Mengapa kita menuduh hujan yang berkah sebagai sumber malapetaka??
Kita sebagai orangtua tentu bisa mengamati kebugaran anak kita hari itu. Saat hujan turun. Kalau mereka tidak terlalu bugar kita bisa melarangnya. Tetapi kalau mereka sedang sehat dan bugar, mengapa kita larang. Tak usah khawatir. Hujan adalah keberkahan. Adalah kesucian. Hujan adalah pengirim ketenangan. Hujan bahkan penghilang kotornya gangguan syetan.

Selesai hujan-hujanan, silakan disuruh mandi, mengguyur kepalanya, minum madu, habbatus sauda’ dan lainnya. Agar kekhawatiran itu pergi. Dan keberkahan lah yang telah mengguyur kepala dan sekujur badan mereka.
Sudah siap?

Ayo...hujan hujanan 💦💦💦💦☔☔☔☔⚡☔☔☔

🔗 Anak-anak berbeda dengan orang tua. Apa yang menurut orang tua mudah, belum tentu bagi mereka mudah. Pun sebaliknya yang menurut orang tua susah, boleh jadi bagi mereka mudah. Nah, begitu juga dalam menghafal Al Qur'an, mungkin bagi kita susah, jangankan 30 juz, juz 30 saja masih belepotan. Namun, belum tentu bagi anak-anak..

📔 Sesuai dengan apa yang diriwayatkan Ath-Thabrani dari Ali ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Didiklah anak-anakmu dalam tiga perkara: Mencintai Nabimu, mencintai keluarganya, dan Membaca Al Qur'an, maka sesungguhnya orang-orang yang membawa Al Qur'an berada dalam naungan 'Arsy Allah ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, bersama para Nabi dan orang-orang Suci."

🎓 Menurut Ibnu Khaldun, sesungguhnya usia ideal bagi anak untuk menghafal Al Qur'an adalah mulai usia 5 tahun sampai menjelang baligh.

🎓 Ibnu Sina dalam bukunya 'As-Siyasah' menasehatkan agar dalam mempersiapkan anak dari segi fisik dan mental hendaknya dimulai dengan mengajarkan Al Qur'an kepada anak, agar sejak kecil ia sudah mulai mengenal bahasa arab yang asli, dan tertanam dalam jiwanya nilai-nilai keimanan.

🎓 Imam Al-Ghazali dalam Ihya'-nya mewasiatkan agar mengajarkan anak tentang Al Qur'an, hadits, dan cerita orang-orang shalih kemudian adalah bagian dari hukum-hukum agama, dimana anak-anak akan mudah sekali menghafal Al Qur'an.
〰〰〰

🔆 Untuk  mencapai prestasi anak tersebut (menghafal Al Qur'an), tentunya harus ada peran orang tua yang mengarahkan anak dalam menghafal Al Qur'an sehingga benar-benar berinteraksi dengan Al Qur'an.

👪💝Ada beberapa tips untuk mendidik anak-anak menghafal Al Qur'an, diantaranya:
🌷1. Perdengarkan Al Qur'an saat anak di dalam rahim ibu,
🌷2. Perdengarkan Al Qur'an saat anak sedang disusui,
🌷3. Bacakan Al Qur'an dihadapan anak,
🌷4. Perdengarkan Al Qur'an dimanapun (rumah, mobil, dll),
🌷5. Jauhkan dari musik, sesungguhnya musik adalah musuh Al Qur'an,
🌷6. Berikan 1 mushaf Al Qur'an,
🌷7. Berikan hadiah setiap menghafal 1 juz,
🌷8.Ceritakan kisah-kisah dalam Al Qur'an,
🌷9. Buat permainan ttg Al Qur'an.

🎁 Salah satu yang menjadi kebahagiaan bagi orang tua adalah memiliki anak yang menghafal Al Qur'an.

📓 Hadits Nabi Muhammad saw berbunyi:
"Disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu'alaihi Salam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, bacalah dengan hatimu "Siapa yang membaca Al Qur'an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan didunia. Keduanya bertanya, "Mengapa kami dipakaikan jubah ini?" Dijawab, "Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur'an."

👳🏻 Maa syaa Allah, orangtua yang memiliki anak Hafizh Al Qur'an akan mendapatkan jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia.
Semoga kita menjadi orang tua yang selalu mendidik anak kita untuk membaca Al Qur'an, mencintai Al Qur'an, dan memotivasi anak untuk menghafal Al Qur'an, aamiiin..

📚 Dirangkum dari Berbagai Sumber oleh Tim INC Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ

IBU, M.Si. = Magister Semua Ilmu
Tak terbayang bukan, jika menjadi seorang ibu rumah tangga itu harus banyak belajar dan selalu belajar. Long life education. Hal ini kadang tidak terpikirkan.

(1). Seorang ibu rumah tangga harus belajar ILMU AKUNTANSI, agar bisa mengurus pendapatan keluarga dan mengelolanya sedemikian rupa untuk kebutuhan, maupun tabungan, serta menata aspek pemasukan & pengeluaran yang seimbang.

(2). Seorang ibu rumah tangga harus belajar ILMU TATA BOGA, chef, atau perhotelan. Jurusan kuliah dimana harus belajar memasak untuk keluarga dengan kreatif supaya tidak bosan.

(3). Seorang ibu rumah tangga harus belajar ILMU KEGURUAN. Ia harus menguasai ilmu yg diajarkan di sekolah dasar agar bisa mengajari anaknya bila menemui kesulitan dengan PR nya.

(4). Seorang ibu rumah tangga harus belajar ILMU AGAMA, karena ibulah yang  pertama kali mengenalkan sang anak pada penciptanya dan membangun akhlak yang luhur.

(5). Seorang ibu rumah tangga harus belajar ILMU GIZI, agar bisa menyiapkan makanan bergizi bagi keluarga, setiap hari.

(6). Seorang ibu rumah tangga harus belajar ILMU FARMASI, agar dapat memberi pertolongan awal pada keluarga yang sakit. Ia harus sedia obat-obatan yang biasanya manjur digunakan ketika kondisi darurat.

(7). Seorang ibu rumah tangga harus belajar ILMU KEPERAWATAN, karena beliaulah satu-satunya yang akan pertama kali merawat buah cintanya ketika terbaring sakit. Yang akan menyeka tubuhnya ketika tidak diperbolehkan mandi, mengganti kompres, atau mengukur suhu badan sang anak ketika sakit. Seorang ibu rumah tangga adalah perawat yang handal.

(8). Seorang ibu rumah tangga harus belajar ILMU KESEHATAN, agar bisa menjaga kesehatan keluarganya, baik asupan makanan, kebersihan, sampai melindungi anggota keluarga dari gigitan nyamuk.

(9). Seorang ibu rumah tangga harus belajar ILMU PSIKOLOGI, agar bisa berkomunikasi dengan baik menghadapi anak2 di setiap jenjang usia juga suami sebagai menjadi teman curhat terbaik.

MAA SYAA ALLAH...
Seandainya seorang ibu rumah tangga harus kuliah dulu mempersiapkan dirinya, butuh berapa lama ia harus kuliah? Bisa jadi lebih dari 9 jurusan di atas.

Luar biasa seorang ibu, dengan multi talentanya, kesabarannya merawat, mendidik & menemani anak2nya.

PERTANYAANNYA SEKARANG....
Sudahkah kita memberikan yg terbaik untuk ibu kita..???

Seorang bijak berkata, "Seorang ibu bisa merawat 10 anak,  namun 10 anak belum tentu bisa merawat ibunya"

Terimakasih kasih untuk ibunda  tercinta. Sampai kapanpun, kami tak kan mampu membalas jasamu...

Ayah bunda yang mulia, biasanya sebelum berangkat ke sekolah, kita sering "BERPESAN" kpd anak-anak kita, "Nak, belajar yang rajin yah agar kamu pintar." 

Selanjutnya, dengan pesan tersebut, kita selaku orang tua pun sangat senang jika anak-anak kita mendapatkan nilai tinggi dan kecewa bhkan sedih jika anak-anak kita mendapatkan nilai yang rendah.

Ayah bunda yang mulia, sadarkah kita, jika ternyata selama ini, dengan pesan seperti itu kita hanya melahirkan generasi-generasi pintar yang tidak berkarakter dan tidak berakhlak. Karena, memang yg kita harapkan melalui pesan itu, hanya sebatas pintar dgn isyarat nilai, juara kelas, dan lulus ujian.

Maka tidak heran jika anak kita pintar tapi suka membantah orang tua. Pintar tapi masih suka ngomong kasar. Pintar tapi sombong dan angkuh. Pintar tapi malas sholat. Pintar tapi suka melawan guru, dan segudang tapi tapi lainnya. Mengapa? ternyata "pesan" kita kurang tepat.

Perhatikanlah pesan orang tua salafus shalih kita kepada anak-anak mereka sebelum mereka pergi menuntut ilmu dibawah ini :

(1). Ibunda Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah berpesan kepada Sufyan Ats-Tsauri, beliau berkata, "Wahai anakku, ambillah 10 dirham ini, pelajarilah 10 hadits. Jika dengan mempelajarinya dapat merubah cara berjalan dan bicaramu kepada manusia, maka datanglah lagi kepadanya. Namun jika tidak, maka tinggalkanlah. Karena aku takut dgn ilmu itu akan menjadi malapetaka bagimu di akhirat kelak".

(2). Ibunda Imam Malik Rahimahullah berpesan kepada Imam Malik ketika Imam Malik meminta izin kepadanya utk menuntut ilmu. 

Ibunya berkata, "Kemarilah, pakailah baju ilmu, beliau memakaikan baju berkancing, peci dan sorban kepada Imam Malik seraya berkata berangkatlah, dan pergilah ke Rabi'ah, pelajarilah akhlaknya ( guru ) sebelum ilmunya".

Subhanallaah, betapa besar perhatian org tua para shalafus shalih kita terhadap pentingnya akhlak anak-anak mereka. Bukan sebatas pintar namun tidak berakhlak. 

Lihatlah, betapa akhlak adalah sesuatu yg sangat penting utk senantiasa dipesankan dan diingatkan kepada anak-anak kita sebelum mereka berangkat menuntut ilmu.

Mudah-mudahan kita mampu mentauladani orang tua para shalafus shalih dlm mendidik anak-anak kita menjadi generasi-generasi emas ummat ini, dengan senantiasa memperhatikan perkembangan ilmu dan akhlak mereka. -Aamiin

Wallahu Ta'alaa A'lam..

JIKA SUATU SAAT NANTI KAU JADI IBU..
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Jadilah seperti Nuwair binti Malik (Radhiyallahu 'Anha) yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya..
Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun..

Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.

Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.

Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) dengan potensinya yang lain..

Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an..
Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris pencatat wahyu..
Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: 

👉Zaid bin Tsabit (Radhiyallahu 'Anhu)..

☆☆☆

🌾Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..
jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah (Rahimahallah) yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah..

Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu..
Kelak, ia tumbuh menjadi jajaran Ulama Hadits dan Imam Madzhab.
Ia tidak lain adalah
👉Imam Ahmad bin Hanbal (Rahimahullah)..

☆☆

🌾Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..
Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya .
Seperti Ummu Habibah (Rahimahallah)..

Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya..
Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya,
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaan-Mu..

Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu.. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya..
Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”..

Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya:
👉Imam Syafi’i (Rahimahullah)..

🍄🍄🌰🌰🌳🌳🌳

🌾Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..
Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya 'Abdurrahman..

Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi Imam Masjidil Haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu..

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak..

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam Masjidil Haram…”, 

Sang Ibu tak bosan-bosannya mengingatkan..
Hingga akhirnya 'Abdurrahman benar-benar menjadi Imam Masjidil Haram dan termasuk deretan Ulama berkelas dunia yang disegani..

Kita pasti sering mendengar Murattal-nya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama:
👉'Abdurrahman As-Sudais (Hafizhahullahu ta'ala)..

🌼🌼🌼

Maa syaa'aAllaah.. 🌹
Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa min-dzuriyyatinaa Qurrata a'yun waj-'alnaa lil-Muttaqiinaa Imaamaa..
Aamiiin Allaahummay Aamiiin..
✒Dan masih banyak lagi kisah tentangnya...ya tentang ibu yg dari pangkuannya lahir generasi emas islam...
Tentu mereka bukan masa kita, tapi tentu dengan pasti kita bisa meneladani mereka....Insya Allah biidznillah...
😊😊😊

Yang langka itu...
Istri yang tunduk patuh pada suami.
Yang senantiasa berseri-seri saat dipandang.
Yang ridha terdiam saat suami marah.
Tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara.
Tercantik di hadapan suami.
Terharum saat menemani suami beristirahat.
Tak menuntut keduniaan yang tidak mampu diberikan suaminya.
Yang sadar bahwa ridhaNya ada pada ridha suaminya...

Yang langka itu...
Suami yang mengerti bahwa istrinya bukan pembantu.
Sadar tak melulu ingin dilayani.
Malu jika menyuruh ini itu karena tau istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah.
Yang tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang karena sadar itulah resiko hadirnya amanah-amanah yang masih kecil.
Yang sadar pekerjaan rumah tangga juga kewajibannya.
Yang rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena rasa sayangnya terhadap istrinya.

Barakallaahu fiikum..


Kajian ahad pagi ini di ma'had Isy Karima

Pertanyaan : bagaimana menjadikan anak menjadi hafal qur'an di usia dini?

Jawaban syaikh : salah satu rahasia bisa hafal qur'an pada usia 9 tahun dan adalah banyak anak2 dibawah 6 tahun selama 5 bulan menghafal sudah selesai 30 juz,ini dikarenakan sejak ibunya hamil ibunya selalu mengkhatamkan qur'an,seminggu sekali atau sesering mungkin sehingga pada saat lahir anak2 ini sudah menyimpan qur'an dan pada saat menghafal sudah tidak susah karena tinggal memurojaah,anak2 ini sudah curi start duluan pada saat masih di dalam kandungan ibunya.

Kalau tidak bisa membaca qur'an disetel murrotal,radio,televisi yang berisi qur'an.

Fase Paling penting adalah tahapan awal sebelum lahir - anak usia 10 th.
Ibu adalah madrasah pertama,jadi yg paling berperan di fase terpenting adalah IBU.

Metode menghafal paling efektif adalah sesering mungkin anak didengarkan qur'an.

Maka jagalah pendengaran anak dengan hal2 yang baik.
Peran ayah setelah anak lahir :
1. Mengajarkan kecintaan kepada qur'an,mengajak anak2 ke masjid.
2. Mengantarkan anak2 ke halaqoh qur'an.
3. Belajar qur'an sedikit demi sedikit dimulai dari surat2 pendek.

Dibutuhkan kedisiplinan.

Anak2 tidak dipaksa duduk diam selama satu jam untuk menghafal,main 10 menit ngaji 20 menit agar anak tidak bosan.

Konsep yang harus dibenarkan adalah sekolah anak yang sebenarnya adalah dirumah, jangan menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah.

Pengawasan orangtua sangat penting.

Kesimpulan : ajari anak anakmu qur'an maka qur'an akan mengajari anak anda semua ilmu.

(Syekh Ashron Al Hafidz, dari Mesir, usia 9 tahun hafal Qur'an, usia 15 tahun selesai Qiro'ah 'Asyaroh)

Orang tua tentunya menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang shalih dan shalehah. Maka, -wahai para orang tua- lakukanlah kiat berikut ini, niscaya dengan izin Allah, putra putri Anda akan menjadi seorang anak yang shalih dan shalihah.

��� Ajarkan al-Quran dan sunnah NabiNya

�� Tumbuhkan kecintaaan kepada Allah dan RasulNya

�� Perintahkan mereka shalat di awal waktu

�� Ajak mereka (anak laki-laki) untuk shalat berjama’ah di masjid

�� Ajarkan kepada mereka tata cara ibadah yang benar

�� Didik, latih, dan arahkan serta biasakan mereka untuk senantiasa berdzikir, selalu merasa diawasi oleh Allah dan selalu tumbuh rasa takut kepadaNya

�� Biasakan mereka membaca doa sehari-hari

�� Biasakan mereka untuk melakukan adab-adab yang baik

�� Biasakan mereka untuk mengucapkan salam ketika masuk rumah

�� Pilihlah sekolah atau lembaga pendidikan yang baik untuk mereka

�� Bila mereka salah nasehatilah dengan penuh kelembutan dan sekali-kali dengan ketegasan dalam rangka mendidik, dan usahakan dengan rahasia (berdua), tidak di depan orang lain serta pilihlah waktu yang tepat. Janganlah segera memberi hukuman, tanyalah dulu sebab dan berilah solusi terbaik. Jika terpaksa memberikan hukuman pilihlah hukuman yang mendidik.  Ajarkan agar ia meminta maaf, dan berilah kesempatan untuk memperbaiki diri.

�� Latihlah mereka untuk bisa mandiri dan bertanggung jawab dengan cara memberi tugas yang mungkin bisa dilakukannya.

�� Hindarkan mereka dari teman yang buruk dan sarana-sarana yang dapat mengantarkan mereka terjerembab ke dalam keburukan.

�� Biasakan mengajak mereka untuk bersilaturrahim

�� Ajarkan mereka untuk saling tolong menolong sesamanya dalam kebaikan

�� Jadilah diri Anda teladan yang baik bagi mereka.

�� Berilah mereka nafkah dari sumber yang halal dan baik
_________________

(Sumber: Pesan ini disebarluaskan oleh BB Dakwah Al-Sofwa PIN 24C805BD)

Oleh: Ustadz Budi Ashari



Lelah mendidik anak? Itu adalah bukti bahwa anda belum menikmati proses dan hasil mendidik anak. Apakah kita bahagia setelah anak kita sukses (sarjana, dapat kerja, dll)? Itu terlalu lama. Apalagi kalo anaknya banyak.

Anak2 itu aset. Bukan beban. Anak sholeh yang bisa mendoakan orangtuanya, itu aset. Ketika kita meninggal, maka yang paling berhak mensholatkan kita adalah anak kta. Itu aset. Sholat jenazah itu isinya doa semua. Anak itu kekayaan di dunia dan akhirat.

Rasululloh bersabda, "Kamu (anak laki-laki) dan hartamu milik orang tuamu." artinya, walaupun sudah menikah, orang tua punya hak atas harta kita.

Anak-anak yang kita dorong untuk menghafal quran 30 juz kelak dihari kiamat yang mendapat keistimewaan bukan hanya anak itu, tapi juga orang tuanya (mahkota).

Hilangkan anggapan bahwa anak-anak itu beban. Anak-anak tidak numpang hidup pada kita. Numpang? Anda sombong. Bayi lahir sudah membawa rezekinya. Yang menjadi masalah, kita ga percaya sama Alloh. Tidak ingin punya anak banyak karena biaya pendidikan mahal? Logis. Tapi iman belum berperan. Kalo anak adalah aset, kita pengen punya sedikit atau banyak?

Apa fungsinya sabar dan syukur kalo bukan untuk bahagia? Tawakal.
Petani itu bahagia saat tanamannya tumbuh baik, padahal belum panen. Saat hujan turun, padahal belum nanem. Jadi bahagia itu jangan tunggu panen, jangan tunggu sampai anak besar. Asal prosesnya baik. Kalo seperti ini maka orang tua akan bahagia sepanjang usia anaknya. Ada masanya ketika orang tua panen raya. Syaratnya, hanya dengan cara islam.
Mendidik anak itu persis seperti menanam tanaman.
Alloh berfirman dalam surat 3 ayat 35-37, didik anak dengan pertumbuhan yang baik. Di akhir surat Al Fath, berbicara tentang proses pertumbuhan tanaman hingga ia kokoh. Tapi dalam ayat ini Alloh tidak membahas hingga tanaman tersebut berbuah. Namun hingga tahap ini sudah menyenangkan hati penanamnya. Alloh berbicara ini (tanaman) ketika Rasul mendidik sahabat-sahabatnya. Dalam surat ini, belum panen saja Alloh sudah memberikan kebahagiaan.

Anak kita yang menanam siapa? Kita. Setiap proses pertumbuhannya kita merasakan bahagia. Kapan Alloh bicara buahnya? Di surat ibrohim ayat 24-25. 
Baiknya anak kita nanti, maka itu adalah hak Alloh. Tugas kita adalah menanamnya dengan baik. Semoga kelak Alloh mengizinkan agar hasilnya baik pula. Tapi ingat, pohon itu kan yang kita konsumsi ga cuma buah. Didik anak juga sama. Tetap itu dengan izin Alloh. Maka didiklah anak kita dengan maksimal. Ikuti caranya.
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw menyampaikan bahwa ada sebuah pohon. Dimana Keberkahan pohon itu seperti keberkahan seorang mukmin. Pohon apa itu? Pohon kurma.
Pelajari pohon kurma untuk mendidik anak kita. Pohon kurma itu berkah, kata Rosul. Kurma itu berbuahnya perlu waktu lama, 8 tahun. Tapi hasilnya juga sesuai dengan kesabaran kita memetik buahnya. Sama seperti pohon zaitun yang bisa menopang perekonomian spanyol. Jika pohon ini baik, maka ia akan lebih panjang dari usia kita.

Pohon ini usianya ratusan tahun. Teruuss berbuah. Nutrisi kurma berbeda dengan nasi. Sesuai dengan kesabaran menunggunya berbuah. Yang tumbuh pertama dari pohon kurma adalah thol/mayang/bakal buah, tapi perlu dikawinkan dulu. Berdasarkan hasil penelitian, mayang jantan kurma, memiliki warna, aroma, dan fungsi yang mirip seperti sperma manusia. Mayang, akan tumbuh berwarna hijau (kholal), menyenangkan dari segi pemandangan walau rasanya belum manis.

Anak kita pun demikian. Susui dengan cara yang benar. Tiga hingga enam tahun adalah usia yang sangat pentig mendapatkan sentuhan dari orangtuanya karena sedang pandai untuk meniru. Konsep pendidikan yang paling tepat disaat itu adalah keteladanan. Memang belum manis. Tapi kalo anak berperilaku baik dan lucu akan menyenangkan.

Setelah kholal kemudian akan menjadi berwarna kuning. Mulai ada sedikit rasa manisnya. Setiap fase ada warna-warna indah pada anak-anak kita. Kemudian berwarna merah (balah). Rasanya sudah mulai enak. Kalo sudah usia 7 tahun Nabi perintahkan untuk sholat. Dijaga hingga 10 tahun. Evaluasi. Bacaannya. Masih disuruh-suruh atau ga. Bahkan Nabi memerintahkan untuk memukul dengan pukulan pendidikan. Jika sholatnya baik, yang lainnya akan baik. Dan perjelas status dia laki-laki dan perempuan. Pisahkan tempat tidur mereka. Apalgi dengan orang lain. Usia 10 tahun seharusnya sudah tidak boleh cium tangan dengan gurunya. Sebaiknya pendidikan dipisah mulai usia 10 tahun. Pelanggaran ditahap ini akan buruk di usia berikutnya.

Tanamkan ilmu agama terlebih dahulu. Bukan ilmu umum dulu. Bacakan ayat-ayat quran. Sucikan hati mereka. Ajari Ilmu Tafsir dan ilmu hadits nabi. Sesuai dengan surat Al Jumu'ah ayat 2. Lalu kemana ilmu eksak? Itu nanti. Ada di surat Al Baqoroh.

Fase rusyda. Usia baligh. Bicara masalah harta. Annisa ayat 5-6. Kemampuan menyimpan dan mengembangkan uang dengan baik, dll.

Kemudian kurma itu dari berwarna merah menjadi ruthob. Warnanya coklat. Rasanya manis sekali. Pada saat inilah anak akan berprilaku baik dengan sendirinya karena telah ditanamkan nilai-nilai kebaikan pada fase-fase sebelumnya.

Semoga kelak anak kita menjadi anak yang sholih dan sholihah..
Aamiin..

by Bendri Jaisyurrahman

Untuk kali ini, ijinkan saya bicara kepada ayah dari hati ke hati. Dalam konteks pengasuhan, sekolah pertama bagi anak adalah Ibu. Ibu adalah sekolah pertama dan terbaik bagi anak, karena secara psikologis: Ibu memberikan rasa nyaman bagi anak agar betah berlama-lama di dekatnya, menjadi tempat untuk curhat dan diskusi tentang banyak hal terutama menanamkan nilai-nilai agar anak menjadi tangguh menghadapi tantangan kehidupan.

Sulit bagi Ibu untuk fokus mendidik anak dan membuat mereka nyaman secara psikologis jika ia tidak mendapat dukungan, apalagi jika hanyut dalam perasaannya sendiri dan mudah stress.

Ibu yang stress akan mudah emosi dan kurang sabar menghadapi anak-anak. Inilah gejala awal munculnya mother distrust di mana anak jadi tidak betah di rumah dan merasa bahwa Ibu adalah sosok yang tidak mengenakkan.

Semua fungsi dan tugas Ibu sebagai guru pertama dan utama akan dapat dipenuhi jika peran sebagai Kepala Sekolah yang dipikul Ayah berjalan maksimal.

Mother distrust muncul lagi-lagi karena peran ayah sebagai Kepala Sekolah; hilang atau sangat kurang. Ayah lah yang seharusnya berpikir untuk membuat anak menjadi betah bersama ibunya, dalam hal ini: apakah kebutuhan psikologis Ibu. Ibu akan bisa memberikan rasa nyaman kepada keluarga jika ruang bathin nya nyaman. Dan.... Ayah-lah yang berkewajiban menyamankan ruang bathin Ibu. Ada ruang dan waktu bagi Ibu untuk mencurahkan isi hatinya, misalnya: tidak hanya dibebani oleh pusingnya kenaikan harga-harga di luar.

Menurut penelitian, perempuan (makhluk berkromosom XX) yang jiwanya sehat butuh mengeluarkan 20 ribu kata per hari. Ibu yang jarang diajak ngobrol santai oleh suaminya, maka bahasa tubuh dan nada bicaranya tidak mengenakkan. Menyusui anak akan resah, tak sabar dgn kelakuan anak, bahkan cenderung menjadikan anak sebagai sasaran pelimpahan emosi yang tdk semestinya. Jadi, endapan permasalahan dgn sang ayah dimanifestasikan dlm bentuk amarah yang tidak jelas kepada anak-anak.

Terkadang, ada Ibu yang tetap sabar kepada anak-anaknya meskipun Ayah tak memberi ruang bagi jiwanya..., tapi manifestasi ekstrim nya dalam bentuk penyakit fisik yang sulit sembuh.

Maka tugas wajib ayah adalah memberikan ruang, waktu dan suasana setiap hari bagi Ibu untuk bicara sebagai upaya untuk selalu menyehatkan jiwanya, mendengar keluh kesahnya. Rangkul Ibu untuk marah dan menangis kepada Ayah saja agar sehat jiwanya, agar Ibu bisa selalu memberikan bunga cinta untuk anak-anaknya.

Ibu yang sehat jiwanya dapat menjalankan tugasnya sebagai sekolah terbaik bagi putra-putri nya. Ia bisa tahan berjam-jam mendengar keluhan anak-anaknya. Ia mudah memaafkan anaknya. Ia menjadi madrasah yang baik untuk menanamkan nilai-nilai Robbany..., dan hal ini harus didukung oleh ayah yang memperhatikan bathinnya, disamping kesehatan fisiknya. Ibu harus sehat luar dalam.

Ayah yang hebat, berawal dari suami yang hebat, yang mengerti jiwa dan kebutuhan pasangan. Singkatnya, bahagiakan pasangan kita, karena ia adalah madrasah utama bagi anak-anak kita.
Ringkasan Talk Show Parenting Nubuwwah di Gedung Saba Buana Solo, 19 Februari 2015
Oleh: UST. SYIHABUDDIN - Kenapa harus kembali kepada Al-Qur'an
Kita Mulia dengan Qur'an dan Hina dengan Qur'an - Output adanya kebudayaan islam
Munculnya para tokoh mulia - Para gubernur pada Dinasti Umayyah rata-rata mereka bekas budak yang dipilih karena mereka adalah para haamilul qur'an
Menghafal qur'an saja sudah cukup... 1. Mendapat janji-janji dari Alloh 2. Akan muncul metamorfase pada dirinya 4 faktor: - diliputi sifat penyayang - dijaga Malaikat - diliputi ketenangan - Alloh dan Malaikat akan selalu menyebut mereka 3. Menghilangkan sifat / unsur Syaithoniyyah (fungsi ruqyah) 4. Pembebasan diri dari syetan 5. Memiliki sifat Sabar 6. Memiliki sifat Teliti 7. Memiliki Manjemen waktu bagus 8. Murah Senyum 9. Mudah berperan di Masyarakat, 10. Disenangi masyarakat 11. Muncul sifat kepemimpinan 12. Ditolong wali-wali Alloh Oleh: UST. BUDI ASHARI Cara mendidik pendikan ekonomi untuk anak-anak - Range bawah : Usia 10 tahun Rasululloh sudah mendapat upah dari pengembala kambing. - Range atas : Sebulan setelah menikah 'Ashim Ibnu Umar bin Khottob (kibaru tabi'in) sebelumnya sebulan pertama disubsidi umar, bulan berikutnya diperintah umar untuk menjual kebunnya, uangnya kemudian diinvestasikan ke pamannya yang berdagang hasilnya untuk membiayai keluarga.
Dimana masalah pendidikan kita - Sejak literatur / Maroji' awalnya salah
Lihat profil guru besar dunia, lihat profi bapak pendidikan modern kapan lahirnya, lalu sebelumnya kira-kira dinamakan pendidikan apa? Padahal di Andalusia peradaban Islam sangat maju terutama di pendidikannya..

Hati-hati jika mengaggap pendidikan saat ini lebih maju dengan pendidikan orang tua dulu, bahwasanya pendidikan dulu lebih sesuai dengan syariat islam. Anak-anak pendidikan saat ini akhlaqnya jauh lebih buruk daripada anak-anak zaman dulu, justru anak-anak dulu sangat menghormati gurunya dan para ahli ilmu. Lihat mereka para pendiri lembaga pendidikan, apa agama mereka?

Contoh kerusakan temuan bapak pendidikan dunia : 1. Segala ilmu harap diteliti dengan ilmiah 2. Jika belum ketemu jawabannya difikir secara rasional 3. Jika belum ketem jawabannya lihat ayat-ayat Allah (Lihat menempakan ayat Allah di nomor berapa)
Ada juga mengajarkan al-qur'an dengan cara yahudi, misal tepuk surat al-kautsar..(lantaran pendidikan mau dibuat fun/fun learning)
Contoh pendidikan zaman nabi yang diteliti dari alqur'an dimana dalam ayat mengapa sam'a lebih didahulukan dari bashor, jawabnya: Karena Karakter ilmu Qur'an Sima'iyyah (Audio) / konsep talaqqi - Tahfidhul Qur'an di anak-anak layaknya daud dengan besi, anak-anak sudah siap dengan al qur'an umur 3 tahun
- Sebagaimana kisah nabi yahya "maa li la'ib khuliqtu", ini jika anak-anak belum cenderung suka bermain, jika masih cenderung bermain maka umur 7 tahun (sebagaimana imam syafi'i) - 14 tahun (sebagaimana para ulama' sudah hafal qur'an usia belum baligh), atau 5 tahun sampai 12 tahun (versi kuttab alfatih👉konsep percepatan) Metode pembelajaran anak 1. Belajar Iman 2. Belajar Tazkiyah An-Nafs 3 Belajar Al-Qur'an 4. Belajar Hadits Setelah anak sudah hafal Qur'an, menambah pendalaman anak dengan alqur'an terhadap ilmu-ilmu kekinian. Perlu diketahui pula: 1. Umur anak sekarang banyak yang mubadzir karena mempelajari ilmu yang kurang bermanfaat. 2. Dalam islam tidak mengenal belajar sambil bermain, justru ketika belajar tentang akhirat dan ayat-ayat azab seharusnya menangis, kalau guru ga bisa menangis usahakan semaksimal mungkin menangis. 3. Metode pembelajaran dalam islam lebih sederhana daripada yang dikembangkan dari barat saat ini, dan semuanya sudah ditulis, didokumentasikan dan diamalkan oleh para ulama.
TIPS AGAR ANAK HAFAL AL-QUR'AN SEBELUM BALIGH Tips Pertama: Cara Menghafal Perumpamaan anak dalam menghafal itu bagaikan menulis di sebuah batu yang ketika sudah tertulis / terukir di sebuah batu maka sulitlah hilang dan lenyap, oleh karena itu suruh dan didk mereka dengan menghafal. Caranya sebagi ibu/bapak/kaka/tante/paman/saudara-saudara lainnya bacakan kepada anak dalam satu hari 1 ayat al qur'an dan suruh anak-anak untuk menglangnya. Teruskan sampai 20x kali baca dan anak menirukan, sebagai contoh: seorang ibu/bapak membaca surat An-nas ayat pertama "qul a'udu birabbinas" dan anak menirukan apa yang bapak dan ibu bacakan. Diusakan 20x atau 50x, semakin banyak pengulangan semakin lama pula hafalan merekat di otak. Dan setelah itu suruh anak membaca tanpa mendengarkan drai ibu / bapak dan suruh anak mengulang 5 kali. Dan begitu setiap hari sampai ketika kita orang tua mengetahui bahwa anak kita mampu menghafal lebih dari 1 ayat. Maka di tambah dengan 2 ayat, 3 ayat sampai 1/2 halaman 1 halamman dan seterusnya. Tapi bagusnya sedikit demi sedikit jangan terburu -buru. Waktu yang paling bagus dalam menghafal adalah di pagi hari. Tips Kedua: Cara Murajaah / Mengulang Hafalan Cara mura ja'ah setelah anak sudah hafal satu atau beberapa ayat yang di hafalkan adalah dengan menyuruh anak-anak menyetorkan pada bapa/ibu atau tante /paman dan ini dilakukan setiap habis menghafal dan setiap sore, terus sampai seterusnya. Dan yang istiqamah setiap hari dan berikan hari libur padanya 1 hari misal hari jum'at. Tips Ketiga: Cara Murajaah Hafalan yang Banyak Ketika anak hafal satu surat, maka dia harus murajaah/mengulang hafalan yang baru di hafal dan satu surat yang telah di hafal. Bagaimana kalo 5 surat jangan paksa anak-anak untuk murajaah yang banyak kalo belum terbiasa. Usahakan murajaah hafalan yang baru dan 3 surat atau 2 surat sehari. Bagaimana kalo hafalan anak sudah 1 juz? disuahakan suruh anak murajaah hafalan yang baru dan 1/4 juz 1 hari. Bagaimana kalo hafalan anak 3 juz? Biasakan anak murajaah setiap hari 1 juz dan hafalan yang baru.Yang Istiqamah sedikit demi sedikit "bukankah gunung terdiri dari butiran batu yang kecil" sedikit-sedikit akan menjadi bukit..Kita selalu perbaiki ibadah, semoga apa saja yang kita inginkan bukanlah sebuah mimpi belaka, kita berdo’a bersama semoga Allah benar benar mewujudkan. Aamiin Ya rabbal 'alamiin..