Showing posts with label dear God. Show all posts

Seorang Arab dusun bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Apakah amal yang paling utama?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Engkau meninggalkan dunia, sedang lisanmu dalam keadaan basah karena sering menyebut nama Allah.”

Ada pula yang bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya syariat-syariat Islam terlalu banyak bagiku. Maka perintahkanlah kepadaku suatu perkara yang dapat kujadikan gantungan.” Maka beliau bersabda, “Buatlah lisanmu senantiasa basah karena menyebut nama Allah.”

Dalam Musnad Ahmad disebutkan hadits dari Jabir, dia berkata, “Rasulullah ﷺ menemui kami seraya bersabda, “Wahai manusia, merumputlah kalian di kebun-kebun surga.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kebun-kebun surga itu?" Beliau menjawab, “Di majlis-majlis dzikir.”

Rasulullah ﷺ bersabda, “Pergilah kalian pada waktu pagi dan petang hari serta berdzikirlah. Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaklah dia melihat bagaimana kedudukan Allah di sisinya. Karena Allah menempatkan hamba di sisi-Nya sebagaimana dia menempatkan-Nya di sisinya.”

SEMOGA KITA SEMUA, TERMASUK AHLI DZIKIR. Aaamiiin

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" (Surah Al Baqarah (2) : 186)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengatakan, “Ibnu Juraij meriwayatkan dari Atha’, telah sampai kepata Atha’ bahwa ketika firman-Nya ini diturunkan: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu" (Surah Al  Mu’min (40) : 60).

Maka orang-orang bertanya, “Sekiranya kami mengetahui, saat manakah yang lebih tepat untuk melakukan doa bagi kami?” Maka turunlah firman-Nya surat Al Baqarah ayat 186 di atas.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Salman radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar malu bila ada seorang hamba mengangkat kedua tangannya memohon suatu kebaikan kepada-Nya, lalu Allah menolak permohonannya dengan kedua tangan yang hampa.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang memanjatkan do'a kepada Allah yang di dalamnya tidak mengandung permintaan yang berdosa dan tidak pula memutuskan silaturahim, melaikan Allah pasti memberinya berkat do'a itu salah satu dari tiga perkara berikut, yaitu : Adakalanya doa segera dikabulkan, Adakalanya permohonan itu disimpan oleh Allah untuknya kelak di hari kemudian, dan Adakalanya dihindarkan darinya suatu keburukan yang semisal dengan permohonannya itu. Mereka (para sahabat) berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa.” Nabi ﷺ menjawab, “Allah Maha Banyak (Mengabulkan doa).”

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki muslim pun di muka bumi ini berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala memohon sesuatu melainkan Allah pasti mengabulkan permintaanya itu atau mencegah darinya keburukan yang seimbang dengan permintaannya, selagi dia tidak meminta yang berdosa atau memutuskan hubungan silaturahim.” (Riwayat Imam At-Tirmidzi).

Wallaahu a'lam bish shawwab.

Ya Allah..
Ya Mujiib...
Mohon kabulkanlah do'a-do'a kami. Aamiin..
Yaa Mujiibas saailiin...
😭😭😭😭

Di antara nama Allah adalah Al Mujib, yaitu Allah mengabulkan setiap do'a.

Pengabulan doa ada dua macam :

(1). Pengabulan umum.

Yang dimaksud di sini adalah siapa saja yang berdo'a dengan do'a ibadah atau do'a mas'alah, akan diberi balasan dan akan dikabukan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Rabbmu berfirman, “Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir/ Al-Mu’min: 60)

Do'a mas’alah yang dimaksud adalah ketika seseorang berdo’a, “Ya Allah, berilah aku ini, atau jauhkanlah aku dari ini.”

Pengabulan do'a semacam ini bisa diberikan pada orang yang shalih dan orang yang tidak shalih. Ini tanda bagaimanakah kebaikan dari Allah yang masih berbuat baik pada yang shalih dan yang fajir (dosa).

Pengabulan do'a yang umum ini bukan berarti selalu menunjukkan baiknya orang yang diberi pengabulan.

(2). Pengabulan khusus

Pengabulan yang khusus di sini karena ada beberapa sebab yang didapati seperti :

(*) Do'a orang yang kepepet (darurat).
Mudahnya do'a dikabulkan ketika itu karena sangat berharapnya ia pada Allah dan ingin menjauhi dari bergantung pada makhluk. Rahmat Allah tentu begitu luas tergantung pada kebutuhan hamba pada-Nya, apalagi dalam keadaan darurat atau benar-benar butuh.
(*) Do'a ketika melakukan perjalanan jauh atau bersafar.
(*) Do'a dengan bertawassul (perantara) pada Allah dengan menyebut nama, sifat dan nikmat Allah.
(*) Do'a orang yang sakit.
(*) Do'a orang yang terzalimi.
(*) Do'a orang yang berpuasa.
(*) Do'a baik atau do'a buruk dari orang tua pada anaknya.
(*) Do'a di waktu mulia seperti di akhir shalat.
(*) Do'a di waktu sahur.
(*) D'oa antara azan dan iqamah.
(*) Do'a saat turun hujan.
(*) Do'a ketika ditimpa kesulitan yang berat.

Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita. Aamiin.

Wallaahu a'lam bish shawwab

(*) Diolah dari artikel : www.rumaysho.com

------------
(Faedah dari penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc – حفظه الله dalam kajian Mukhtashar Minhajul Qasidin)
----------

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan sebuah do’a, yang mana beliau senantiasa berdo’a dengan do’a ini setiap selesai shalat Shubuh.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha

(( اللهم إني أسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا ))

“Ya Allah, aku memohon kepadamu Ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, serta amal yang diterima” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Thabrani, dan yang lainnya, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah]

Hal ini merupakan sinyal yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu’ala­ihi wasallam, agar hari-hari kita tidak kosong dari 3 hal tersebut, yaitu :

✅Pertama:
Agar senantiasa kita MENAMBAH ILMU, bukan sekedar ilmu, akan tetapi yang diinginkan adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu agama, yang dengannya kita mengetahui apa-apa yang diinginkan Allah Ta’ala dan apa-apa yang telah disampaikan oleh RasulNya shallallahu’ala­ihi wasallam.

Ilmu hanya diperoleh dengan mempelajarinya.­ Maka dengan memanjatkan do’a ini, kita berharap agar Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita sehingga terdorong hati kita untuk menuntut ilmu, mempelajarinya demi mengangkat kebodohan dari diri kita. Terlebih lagi, segala bentuk sarana telah tersedia pada hari ini, yang memudahkan kita untuk mendapatkan ilmu agama,
kapan saja, dan dimana saja.

✅Kedua:
Agar kita juga MENCARI RIZKI, ekerja dan berkarya, tidak duduk-duduk menantikan uluran tangan dari org lain.

Islam menganjurkan mencari rizki demi untuk dapat melaksanakan ketaatan kepada Allah. Dengan rizki tersebut kita bisa menyempurnakan shalat kita, dgn rizki tersebut kita bisa bersedekah baik yg wajib maupun yg sunnah, dengan rizki tersebut mungkin mencukupi utk menunaikan umrah maupun haji, dan segala bentuk ketaatan lainnya.

Akan tetapi tidak berarti semua rizki, melainkan hanya yang halal. Karena hanya rizki yang halal yang akan memberikan keberkahan. Dan karena Allah Ta’ala tidak akan menerima kecuali dari yang halal dan baik.

✅Ketiga:
Agar kita banyak BERAMAL SHALIH.

Kita sangat butuh agar amalan kita diterima Allah Ta’ala. Setelah bersusah payah, mengorbankan waktu, tenaga, harta, tentu kita ingin agar semua itu diterima Allah Ta’ala sehingga mendapat balasan yang diinginkan.

Akan tetapi Allah hanya akan menerima amal yang shaleh, yaitu amal yang dilandasi 2 hal utama : IKHLAS (semata-mata mengharap Wajah Allah), serta MUTTABA'AH (beramal hanya dengan petunjuk yang telah dibawa oleh Muhammad shallallahu’ala­ihi wasallam).

Dan ketiga hal diatas saling berhubungan satu sama lain.

Dengan Ilmu yang bermanfaat kita dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, sehingga dalam mencari rizki pun kita mengetahui batasan-batasan­nya dan memastikan hanya mencari yang halal.

Dan hanya dengan ilmu lah suatu amal dapat ditegakkan dengan benar, sesuai yang diinginkan Allah dan RasulNya, sehingga amalan pun diterima. Karena amalan yang tidak dilandasai dengan ilmu, yaitu yang tidak berdasarkan petunjuk Allah dan RasulNya, maka amalan tersebut akan tertolak, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh A’isyah radhiyallahu’an­ha

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak” (Riwayat Muslim, shahih)

Wallaahu a'lam bish shawwab

Seorang musafir lewat di suatu kampung. Ia melihat penduduk kampung lagi berkumpul ramai sekali. Mereka sepertinya lagi mengadakan musyawarah besar.

Setelah mencari tahu, ternyata penduduk kampung itu lagi membicarakan siapa yang mau menjadi ketua kampung. Ia menjadi heran, kenapa orang-orang ini justru mencari siapa yang mau menjadi pemimpin, karena menurut kebiasaan orang malah rebutan untuk jadi pemimpin.

Rupanya ada suatu tradisi aneh di kampung itu. Setiap seorang pemimpin selesai menjalankan tugas, ia akan dibuang ke suatu tempat yang sangat berbahaya. Di padang pasir yang dipenuhi binatang buas dan berbisa. Setiap orang yang masuk ke sana mustahil bisa keluar lagi dengan selamat.

Setelah berpikir sejenak ia menawarkan diri untuk jadi pemimpin di kampung itu. Tentu saja penduduk kampung menjadi heran sekaligus senang. Dengan penuh yakin ia menanda tangani perjanjian untuk menjadi pemimpin dan siap dibuang setelah 10 tahun menjalankan tugas.

Namun musafir ini ternyata seorang yang sangat cerdas. Pantas sekali ia berani menawarkan diri jadi pemimpin negeri itu.

Di tahun pertama dan kedua ia mengumpulkan dana yang sangat besar. Pada tahun ketiga ia menugaskan orang untuk membuat jalan ke padang pasir tempat yang akan dijadikan tempat pembuangannya. Tahun keempat ia membersihkan tempat itu dari binatang buas dan berbisa. Tahun kelima ia memerintahkan orang untuk mengalirkan air dan menanaminya dengan berbagaimacam tumbuh-tumbuhan. Tahun keenam sampai kedelapan ia menyulap daerah itu menjadi kota yang sangat megah dan membuat istana yang indah untuk tempat ia ketika dibuang nanti.

Akhirnya pada tahun kesembilan ia justru merindukan jabatannya segera berakhir, karena ia tidak sabaran lagi untuk menempati rumah masa depannya.

Hikmah ;
Itulah gambaran dunia dan akhirat bagi orang yang sadar. Orang yang merasa cemas akan kematian karena ia membiarkan rumah masa depannya dipenuhi binatang buas dan berbisa. Rumahnya hancur berantakan, bahkan dipenuhi api. Tapi bila kita persiapkan dengan segala amal shaleh, justru akan membuat kerinduan untuk segera menuju ke sana. Ia malah merasa asing dan tidak betah di dunia yang fana ini, karena harap menempati kampung nan indah di seberang sana.

Orang yang cerdas adalah yang mempersiapkan diri untuk kehidupan yang tiada berakhir. Dan orang yang teramat bodoh adalah orang yang mengorbankan kehidupan yang abadi demi kesenangan yang hanya sekejap.

(Cuplikan khutbah jum’at DR. Jamal Abdus Sattar di mesjid as Salam Hayyul ‘Asyir – Nasr City Cairo).

Menurut dokter neorologi, perasaan stress sering menjadi musuh dalam selimut.Perasaan ini datang tiba-tiba dan sulit dikendalikan. Bila tidak, dapat memicu timbulnya berbagai penyakit, seperti jantung, darah tinggi dan stroke. Ibarat sedia payung sebelum hujan. Menghindari stress ada baiknya dilakukan cara berikut:

Pertama, Mengeluarkan energi positif, yaitu optimis dalam menghadapi setiap permasalahan. Jangan terlalu keras terhadap diri sendiri. Ketahuilah bahwa setiap rencana, ada hambatan Tapi ada juga solusi.Sebab itu, harus bersikap lebih fleksibel, sehingga dapat menikmati hidup.

Kedua, menjaga kesehatan. Dengan cara olahraga yang teratur, tidur yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Olahraga dapat membuat manusia nyaman. Makanan bergizi membangkitkan vitalitas hidup. Sebab itu Islam memerintahkan “ Mengkonsumsi halalan tayibah atau yang bergizi.
.
Ketiga, banyak minum air putih, terutama saat diambang kemarahan. Air putih, dapat menenangkan perasaan, dan berpikir lebih jernih. Rasulullah menganjurkan kalau marah, hendaklah berwudu dan mendinginkan badan (HR.Muslim).

Keempat, meluangkan waktu sedikit, untuk setiap minggu, keluar dari rutinitas, dengan berkumpul bersama keluarga. Atau berkunjung kepada teman-teman. Nabi mengajarkan Hubungkan silaturahim, sebab dapat menambah rezeki dan memperpanjang umur (HR.Muslim).

Kelima, meningkatkan rasa humor. Secara klinis humor dapat mengatasi stress. Tertawa ato senyum memang bisa mngatasi stress. namun ingat,banyak tertawa jg mematikan hati. Jd lakukan secukupny saja

Menurut Al-Quran ?.Menurut Al-Quran, kelima cara yang ditawarkan kesehatan diatas, tidak ada yang bertentangan dengan Al-Quran. . Namun Al-Quran lebih memfokuskan terutama kepada dua hal utama dimana Al-Quran sebagai Syifa’ (Penawar) :

Sabar :
Jika stress menghadapi masalah yang sukar diputuskan “ salah atau benarnya sesuatu “ maka Al-Quran memberi petunjuk “ FA SHABRUN JAMIL “ ( Maka bersabar itu lebih indah ). Dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan. (QS. Yusuf 18 ).

Ucapan itu disampaikan Nabi Ya’kub, ketika anak-anaknya datang membawa kemeja yang berlumuran darah kepunyaan Yusuf, sebagai bukti bahwa ia telah diterkam binatang buas. Daripada stress, karena darahnya meragukan, Nabi Ya’kub berkata “ Sabar itu lebih indah.” Demikian Sitti Maryam, ketika dituduh melacur karena melahirkan anak (Isa) tanpa ayah, juga sabar, untuk mengobati stres yang berkepanjangan. Bahkan Aisyah, isteri Rasul, ketika digossip, juga menjadikan Sabar sebagai pengobatan dalam stress.

Zikrullah:
Mengingat Allah (Zikrullah) termasuk dapat mengatasi stres. Dengan mengingat dan mengembalikan segalanya dari dan untuk Allah, maka stres akan dapat diatasi. . Sesuai Al-Quran, “ TATHMAINN AL-QULUB “ ( Mengingat Allah, hati akan tenang ) ( QS. Al-Raad 28 ).

Menurut ulama Tafsir, Yang masuk Zikrullah, adalah melakukan salat, membaca Al-Quran dan langsung menjebut Lailaha ilallah sebanyak-bamnyaknya.

Diperkuat Al-Quran dengan ayat “ Dan carilah pertolongan, dengan berlaku Sabar dan mengerjakan Salat ( QS.2: 45).

Menurut Huzaifah, bila Nabi bersedih atau menghadapi masalah, Beliau langsung melakukan salat, sekalipun, sedang dalam perjalanan. Memperbanyak Zikrullah berupa salat sunnat, atau membaca Al-Quran, atau istigfar, atau membaca Lailaha Ilallah.

Istigfar yang sering dibaca Rasul “ Allahumma Anta rabbi. Lailaha illa Anta. Khalaqtani waana abduKa. Wa ana ala ahdiKa. Wa wa’diKa mastata’tu. Audzu biKa, min syarri ma shana’tu. Abuu laKa bini’ mati alayya. Waabuu bidzanbi. Fagfirli. fainnahu la yagfir al- dzunuba illa Anta.( Al-Azkar :347 ).

Disamping kedua hal tersebut, juga yang dapat mengatasi stres, adalah akidah dengan meyakini kebenaran ayat Al-Quran yang berbunyi “ INNA MA’AL USRI YUSRA ( Sesungguhnya setelah kesulitan, ada kemudahan. Setelah kesulitan, ada kemudahan).. ( 94: 5-6 ).( Disebutkan dua kali ).

Menurut ulama Tafsir, karena kata kesulitan (Al-usri ), menggunakan “al ” dan kemudahan (Yusra) tidak menggunakan “al “ , itu artinya kesulitan itu cuma satu macam, tapi ada beberapa solusi kemudahan. Berarti dua alternative kemudahan . dalam satu kesulitan. Ada dua. Misalnya berkonsultasi dengan dokter mencari pengobatan lahir dan batin ialah menggunakan petunjuk Al-Quiran sebagai Syifa’.
. .

Alhasil, dari uraian singkat diatas, dipahami mengatasi stres sesuai Al-Quran disamping mencari solusi berupa pengobatan lahir, juga diperlukan pengobatan batin, yaitu meyakini kesempurnaan Tuhan, dan meyakini kekurangan manusia, serta kaifiatnya, banyak bersabar, salat, istigfar dan zikir.

Tiada seorang muslim tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dari dosa. (HR Bukhari)

Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah) (HR Bukhari)

Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS.65:7)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS.2:286)

By mba Iput SL

Karyawan : “Selamat pagi, Tuan. Saya ingin bertanya mengenai tugas saya. Apa yang bisa saya kerjakan, wahai tuan?”

Bos : “Oh, selamat pagi. Tugas kamu: begini, di depan ruangan saya ini ada sebuah ruangan besar. Kamu jalan lurus saja, lalu langsung buka saja pintunya. Di depan kamu nanti ada sebuah meja panjang, disana ada berkas-berkas. Silakan kamu buka berkas-berkas itu, dan kamu akan menemukan tugasmu apa. Saya harap, tugas itu sudah selesai ketika saya datang.”

Karyawan itupun segera menyusuri koridor menuju ruangan yang ditunjuk oleh sang bos. Ketika menemui sebuah pintu, dia langsung membukanya sebagaimana yang bos perintahkan. Kemudian, dia mulai memasuki ruangan itu dan akhirnya menemukan meja besar seperti yang bos gambarkan.

“Itu dia berkas-berkasnya!” gumamnya, “Tapi ruangan ini gelap sekali”. Dia pun mencari stop kontak lampu dan menekannya. Lampu pun menyala.

Betapa takjubnya dia ketika melihat lampu itu bersinar terang dan indah, berhiaskan emas, permata, mutiara, perak, berlian, dan perhiasan lainnya.

“Wah.. indah sekali lampu ini..!”

Lama karyawan ini memandangi lampu indah yang padahal tadinya dia nyalakan hanya sebagai penerang ruangan agar dia dapat melaksanakan tugasnya. Tak henti-hentinya dia bergumam akan keindahan lampu ini dan terus-menerus memandanginya hingga akhirnya sang bos menghampirinya di ruangan itu.

“Sudah kamu kerjakan tugas dari saya?” “Maaf, tuan. Saya belum mengerjakan apa-apa.”

***

Nah, kita cut dulu, ya, teman-teman ilustrasi di atas tadi.

Adakah yang sudah bisa mengaitkannya dengan tujuan kita hidup di dunia ini?

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Begini teman, kita ibaratkan bos tadi adalah Allah -tak ada yang serupa dengannya- yang telah memberi kita perintah di dunia ini untuk beribadah, lalu kita ibaratkan karyawan tadi adalah kita yang diberi perintah, dan lampu indah tadi, kita ibaratkan adalah dunia.

Terkadang, kita begitu terpesona dengan indahnya dunia, sehingga terlupa dengan tugas utama kita.

Mari...segera berbenah.. mumpung masih ada waktu... Sebelum nafas berhenti di tenggorokan. Sebelum nyawa berpisah dari badan...

Wallaahul musta'aanu 'alaa kulli haalin.

copas
MENGAPA ALLOH TIDAK MENGHUKUM KITA?
======================

ﻗﺎﻝ ﺍﺣﺪ ﺍﻟﻄﻼﺏ ﻟﺸﻴﺨﻪ :
ﻛﻢ ﻧﻌﺼﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﻗﺒﻨﺎ ..
Seorang santri bertanya kepada Syaikhnya:
Berapa kali kita durhaka kepada Alloh dan Dia tidak menghukum kita?

ﻓﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ :
Maka Syaikh menjawab:
ﻛﻢ ﻳﻌﺎﻗﺒﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻧﺖ ﻻ ﺗﺪﺭﻱ .. ﺃﻟﻢ ﻳﺴﻠﺒﻚ ﺣﻼﻭﺓ ﻣﻨﺎﺟﺎﺗﻪ .. ﻭﻣﺎ ﺍﺑﺘﻠﻲ ﺍﺣﺪ ﺑﻤﺼﻴﺒﺔ ﺃﻋﻈﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻗﺴﻮﺓ ﻗﻠﺒﻪ ..
Berapakali Alloh menghukummu sedangkan kamu tidak mengetahuinya?
Bukankah dihilangkan darimu rasa manis munajah kepada-Nya?
Tidak ada cobaan yang lebih besar menimpa seseorang dari kerasnya hati...

ﺍﻥ ﺍﻋﻈﻢ ﻋﻘﺎﺏ ﻣﻤﻜﻦ ﺍﻥ ﺗﺘﻠﻘﺎﻩ ﻫﻮ ﻗﻠﺔ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﺍﻟﻰ ﺍﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺨﻴﺮ ..
Sesungguhnya hukuman yang paling besar dan mungkin kamu temui adalah sedikitnya taufik kepada perbuatan baik...

ﺍﻟﻢ ﺗﻤﺮ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻻﻳﺎﻡ ﺩﻭﻥ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﻟﻠﻘﺮﺍﻥ ..
Bukankah telah berlalu hari-harimu tanpa bacaan Al Quran?

ﺍﻟﻢ ﺗﻤﺮ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻠﻴﺎﻟﻲ ﺍﻟﻄﻮﺍﻝ ﻭﺃﻧﺖ ﻣﺤﺮﻭﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ..
Bukankah telah berlalu malam malam yang panjang sedangkan engkau terhalang dari shalat malam?

ﺍﻟﻢ ﺗﻤﺮ ﻋﻠﻴﻚ ﻣﻮﺍﺳﻢ ﺍﻟﺨﻴﺮ .. ﺭﻣﻀﺎﻥ .. ﺳﺖ ﺷﻮﺍﻝ .. ﻋﺸﺮ ﺫﻱ ﺍﻟﺤﺠﺔ .. ﺍﻟﺦ ﻭﻟﻢ ﺗﻮﻓﻖ ﺍﻟﻰ ﺍﺳﺘﻐﻼﻟﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﻳﻨﺒﻐﻲ .. ﺍﻱ ﻋﻘﺎﺏ ﺍﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ؟
Bukankah telah berlalu musim-musim kebaikan, Ramadhan, enam hari syawwal, sepuluh hari dzulhijjah, dan lainnya..., sedangkan engkau tidak mendapatkan taufik untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya... hukuman manalagi yang lebih banyak dari ini...?

ﺍﻻ ﺗﺤﺲ ﺑﺜﻘﻞ ﺍﻟﻄﺎﻋﺎﺕ ..
Tidakkah engkau merasakan beratnya ketaatan?

ﺍﻻ ﺗﺤﺲ ﺑﻀﻌﻒ ﺍﻣﺎﻡ ﺍﻟﻬﻮﻯ ﻭﺍﻟﺸﻬﻮﺍﺕ ..
Tidakkah engkau merasa lemah dihadapan hawa nafsu dan syahwat?

ﺍﻟﻢ ﺗﺒﺘﻠﻰ ﺑﺤﺐ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﺠﺎﻩ ﻭﺍﻟﺸﻬﺮﻩ ..
Bukankah engkau diuji dengan cinta harta, kedudukan, dan popularitas..?

ﺃﻱ ﻋﻘﺎﺏ ﺍﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ..
Hukuman mana yang lebih banyak dari itu?
ﺍﻟﻢ ﺗﺴﻬﻞ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻐﻴﺒﺔ ﻭﺍﻟﻨﻤﻴﻤﺔ ﻭﺍﻟﻜﺬﺏ ..
Bukankah engkau merasa ringan untuk berghibah, namimah dan dusta..?

ﺍﻟﻢ ﻳﺸﻐﻠﻚ ﺑﺎﻟﻔﻀﻮﻝ ﻭﺍﻟﺘﺪﺧﻞ ﻓﻴﻤﺎ ﻻ ﻳﻌﻨﻴﻚ ..
Bukankah engkau tersibukkan untuk campur tangan pada hal yang tidak bermanfaat untukmu..?

ﺍﻟﻢ ﻳﻨﺴﻴﻚ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﻳﺠﻌﻞ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺍﻛﺒﺮ ﻫﻤﻚ ..
Bukankah akhirat dilupakan dan dunia dijadikan sebagai tujuan utama?

ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﺬﻻﻥ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺍﻻ ﺻﻮﺭ ﻣﻦ ﻋﻘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ..
Ini adalah tipuan,,, tidaklah itu semua kecuali bentuk hukuman dari Alloh...

# ﺇﺣﺬﺭ ﻳﺎ ﺑﻨﻲ ﻓﺎﻥ ﺍﻫﻮﻥ ﻋﻘﺎﺏ ﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺤﺴﻮﺳﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﺃﻭ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﺼﺤﺔ ..
Hati-hatilah anakku, sesungguhnya hukuman Alloh yang paling ringan adalah yang terletak pada materi, harta, anak, kesehatan ...
ﻭﺍﻥ ﺍﻋﻈﻢ ﻋﻘﺎﺏ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﺐ ..
Sesungguhnya hukuman terbesar adalah yang ada pada hati...
ﻓﺎﺳﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ ﻭﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﻟﺬﻧﺒﻚ ..
Maka, mintalah keselamatan kepada Alloh, dan mintalah ampunan untuk dosamu...

ﻓﺎﻥ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻟﻠﻄﺎﻋﺎﺕ ﺑﺴﺒﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻳﺼﻴﺒﻪ
Sesungguhnya seorang hamba diharamkan taufik untuk melakukan ketaatan karena semangkok  dosa yang menimpanya.
#nasihatdiri


Menangis bukan hanya sekedar naluri manusiawi yang Allah berikan kepada manusia, tapi ia akan menjadi karunia yang sangat besar dari-Nya jika disertai dengan rasa takut, cinta atau berharap kepada-Nya...

Menangis merupakan bukti yang menunjukkan ketakwaan hati, ketinggian jiwa, kesucian sanubari dan kelembutan perasaan...

Menangis karena Allah terjadi manakala melihat kelalaian pada dirinya atau merasa takut akan kesudahannya yang buruk...

Menangis manakala hamba yang bersangkutan ingat kepada Rabbnya dan takut akan dosa-dosa yang telah dilakukannya...

Menangis karena takut kepada Allah adalah menangis yang paling benar, paling jujur dan paling mulia yang bergetar di dalam jiwa serta penerjemah paling kuat bagi hati yang takut...

Menangis karena takut kepada Allah adalah sifat dari hamba-hamba Allah yang bertaqwa dari para Nabi dan orang-orang shalih serta sifat dari orang-orang yang selalu mengikuti langkah-langkah mereka...

Lihatlah perilaku orang shalih di bawah ini :
Abu Sa'id berkata : "Pada suatu hari, aku melihat Manshur bin Zadzan berwudhu. Usai berwudhu, kedua matanya mengucurkan air mata. Ia menangis terus hingga suaranya semakin keras. Aku berkata kepadanya : "Ada apa denganmu, semoga Allah merahmatimu".
Manshur bin Zadzan berkata : "Adakah sesuatu yang lebih besar dari urusanku? Aku ingin berdiri di depan Dzat yang tidak tidur dan mengantuk. Tapi aku khawatir Dia memalingkan muka dariku". Demi Allah, aku menangis karena perkataannya itu"
(Shifatu Ash-Shafwah II/12).

Muhammad bin Naahiah berkata :
"Aku shalat shubuh bermakmum di belakang al-Fudhail, dia membaca surat al-Haqqah. Ketika tiba pada bacaan : "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya" (Qs.69:30). Al-Fudhail tidak bisa membendung tangisannya"
(Siyar A'laam an-Nubalaa' VIII/444).

Dari Ali bin Zaid, dia berkata : 
"Suatu malam al-Hasan ada di rumah kami. Pada tengah malam dia menangis. "Wahai Abu Sa'id, semalam engkau telah membuat keluargaku menangis semua", kataku. Dia berkata : "Wahai Ali, sesungguhnya aku berkata kepada diriku sendiri : "Wahai Hasan, boleh jadi Allah melihatmu karena sebagian musibah yang menimpamu, lalu Dia berfirman : "Berbuatlah sesukamu, karena Aku tidak menerima sedikit pun dari amalmu"
(Az-Zuhd no.1608 oleh Imam Ahmad).

Masya Allah, mereka adalah orang yang dekat kepada Allah tapi sangat takut kepada-Nya, lalu bagaimana dengan KITA yang sangat sedikit dalam iman, ilmu dan amal...?

Wahai saudaraku, air mata apakah yang selalu menetes dari mata ini…?

Apakah air mata yang menetes karena kehilangan hal-hal dunia semata…?

Atau air mata yang menetes karena kehilangan harta…?

Atau air mata yang menetes karena harta yang haram…?

Atau air mata yang menetes karena kehilangan kekuasaan…?

Atau air mata yang menetes karena mendapatkan kekuasaan…?

Maka cobalah perhatikan, air mata manakah yang paling sering menetes dari air mata ini…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut dan harap kepada Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena sangat rindu ingin bertemu dengan Rasulullah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena dosa-dosa dan maksiat yang telah dilakukan…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut orang tua nantinya diazab Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut akan su’ul khatimah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan alam kubur…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan nasib di akhirat kelak…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan surga dan neraka Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya hilang pahala akhirat…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya waktu yang terbuang sia-sia…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diketahui…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diamalkan…?

Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya harta dikeluarkan untuk sedekah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya hadir di majelis taklim…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat tahajjud di malam hari…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat dua raka’at sebelum subuh…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat berjamaah di masjid…?

Pernahkah air mata ini menetes karena melihat penderitaan kaum muslimin di tempat lain…?

Pernah jugakah air mata ini menetes karena takut tidak mendapatkan rahmat dan ridha Allah…?

Renungkanlah wahai saudaraku…!
Menangislah sebelum menyesal, sebab perjalanan sangatlah jauh dan bekal hanya sedikit...!

Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu berkata :

"Menangislah kalian...karena sesungguhnya para penghuni neraka itu menangis padahal tidak ada yang merasa kasihan dengan tangisan mereka, maka menangislah sekarang...karena tangisan kalian saat ini masih dikasihani"
(Az-Zuhd no.1101 oleh Imam Ahmad).

Datangilah majelis tangis, yaitu majelis yang mengingatkan akan negeri akhirat, majelis yang dapat menyuburkan iman dan taqwa, majelis yang didalamnya dibacakan ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah, yang dengan itu semua menyebabkan air mata ini berlinang dan hati ini tunduk, bergetar serta takut kepada-Nya...

Imam Ibnul Jauzi berkata : "Suatu hari aku duduk. Di sekelilingku terdapat lebih dari 10rb orang. Dan tidak ada seorang pun dari mereka kecuali hatinya tergetar dan melembut, hingga air mata mereka mengalir. Aku berkata kepada diriku sendiri : "Bagaimana keadaanmu, jika mereka selamat, tapi engkau sendiri celaka ?". Lalu ia pun menangis...

Dari al-Mughirah bin Muhawisy, dia pernah bertanya kepada al-Hasan : "Wahai Abu Sa'id, kami sudah bertemu dengan para ulama yang mengingatkan kami dan membuat kami ketakutan, sehingga hampir saja jantung kami berhenti berdetak. Sementara perkataan ulama lain biasa-biasa saja". Al-Hasan berkata : "Wahai Abdullah, sesungguhnya orang yang membuatmu takut hingga engkau mendapatkan keamanan lebih baik daripada orang yang membuatmu merasa aman hingga kemudian engkau menuai ketakutan"
(Az-Zuhd no.1458 oleh Imam Ahmad).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa TAKUT KEPADA ALLAH......"
(HR.At-Tirmidzi, an-Nasaa'i dan al-Hakim, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3324, hadits dari Abu Hurairah).

Ya Allah, lindungilah kami dari kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena takut kepada-Mu...!

Ya Allah, lindungilah kami dari kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena mengharap ampunan-Mu...!

Ya Allah, lindungilah kami dari kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena bertaubat kepada-Mu...!

Ya Allah, gantikan air mata kami yang menetes karena-Mu dengan air penyejuk yang akan menyejukkan kami dari panasnya api neraka-Mu...!

Ya Allah...
tidak ada satupun yang tersembunyi di mata-Mu...
Engkau Maha Mengetahui siapa kami sebenarnya...
terlalu banyak dosa yang telah kami kerjakan...
terlalu banyak maksiat yang telah kami lakukan...
terlalu banyak waktu yang telah kami lalaikan...
terlalu banyak nikmat yang tidak kami syukuri...
terlalu banyak orang yang telah kami zhalimi...
alangkah malunya kami yang banyak dosa...
alangkah hinanya kami yang banyak maksiat...
alangkah kotornya kami yang banyak berbuat kesalahan...
tapi...
Engkau masih memberikan kami kesempatan untuk menengadahkan tangan kepada-Mu...
Engkau masih memberikan kami kesempatan untuk memohon rahmat dan ampunan-Mu...
bersihkanlah dosa-dosa kami...
angkatlah dosa-dosa kami...

Berilah kesempatan pada sisa umur yang Engkau berikan kepada kami...
jangan Engkau cabut hidayah yang telah Engkau berikan kepada kami...
berilah kesempatan taubat sebelum kami wafat...
dapat rahmat-Mu saat kami wafat...
dapat ampunan-Mu setelah kami wafat...
Kami orang yang malang yang membutuhkan...
yang minta pertolongan dan perlindungan...
yang gemetar dan takut...
yang mengakui dosa-dosa...
Kami meminta kepada-Mu seperti orang miskin...
berdoa sepenuh hati kepada-Mu seperti pendosa yang hina...
memohon kepada-Mu dengan permohonan orang yang takut lagi buta...
air matanya tumpah karena-Mu...
tubuhnya merendah kepada-Mu...
hidungnya menghinakan diri kepada-Mu...

Ya Allah...
Apabila telah tiba masa kematian kami
maka wafatkanlah kami
dalam keadaan beriman...
dalam keadaan islam...
dalam keadaan berdzikir...
dalam kelezatan beribadah...
dalam kerinduan berjumpa dengan-Mu...
dalam keadaan husnul khatimah...
Alangkah bahagianya…
seandainya maut menjemput sedang berurai air mata merasakan manisnya iman dalam sujud penghambaan dan rindu akan perjumpaan dengan-Nya…
Wallahul Muwaffiq (NUB)
Semoga bermanfa'at. Aamiiin
facebook

Semua orang pasti pernah merasakan sesuatu yang tidak diinginkan. Semua orang juga pasti mempunyai masalah dan problem kehidupan. Di saat tertentu orang hidup bahagia dan senang, di saat yang lain pula boleh jadi sedih dan pilu. Dan ini adalah sunnatullah.
Dalam menyikapi masalah kehidupannya, orang memiliki beragam tindakan untuk memecahkannya. Ada yang mencurahkan perasaan dan uneg-unegnya kepada keluarga, teman, atau bahkan kepada benda-benda mati. Apalagi sering dijumpai tidak sedikit orang yang apabila mempunyai problem, selalu ia curhatkan di jejaring sosial seperti facebook atau twitter sehingga semua manusia mengetahuinya.
Ada pula seseorang yang status upated-nya adalah kegalauan hidup, seakan-akan tiada hari tanpa kebahagiaan. Semua yang ditulisnya adalah situasi mengerikan dalam hidupnya. Masalah-masalah kepada teman, guru, orangtua, atau bahkan masalah rumah tangga pun diceritakannya di sana. Tak peduli apakah itu aib atau bukan.
Yang paling menyedihkan adalah tidak sedikit di antara kaum muslimin yang masih saja percaya kepada dukun dan peramal. Sehingga tatkala ia memiliki masalah, yang pertama kali terbetik dalam hatinya adalah segera mendatangi dukun untuk mencari solusi. Sungguh ini adalah kelemahan dan kebodohan. Tidakkah mereka tahu bahwa orang yang mendatangi dukun itu bisa menyebabkan kekafiran?!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافاً أوْكَاهِنافَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Siapa yang mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” [Riwayat Imam Ahmad dalam Al Musnad, Al Hakim dalam Al Mustadrak dan menilainya shahih, dan Al Baihaqi]
Sesungguhnya semua masalah itu tidak sepantasnya disebar dan diceritakan kepada setiap orang yang diadukannya. Cukup semua perkara yang dihadapi seorang muslim hanya dicurhatkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Seorang muslim hanya akan menampakkan kelemahannya di hadapan Allah, tidak kepada makhluk yang sama-sama lemah. Oleh karena itu kita memiliki dzikir لَا حَوْلَ وَ لَا قوَّةّ إِلَّا بِا الله yang maknanya adalah tidak ada daya untuk menghindari kemaksiatan dan upaya untuk melakukan ketaatan kecuali kekuatan dari Allah.
Lihatlah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam ketika menghadapi kesedihan berupa kehilangan putranya, Yusuf, sehingga anak-anaknya yang lain mengiranya akan bertambah sakit dan sedih. Maka dengarlah jawaban Nabi Ya’qub yang perlu diteladani setiap muslim,
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُوْ بثّيْ وَ حُزْنِيْ إِلَى اللهِ
Dia (Ya’qub) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86)
Benar saja. Jika seseorang menampakkan dan mengadukan kesedihan serta kesulitan kepada manusia, maka hal itu tidak meringankan kesedihan terdebut. Namun apabila seseorang mengadukan kesedihan itu kepada Allah, itu lah yang akan bermanfaat baginya. Bagaimana tidak? Sedangkan Allah Ta’ala telah menjanjikan hal itu dalam sejumlah firman-Nya. Jika Anda berkehendak, bacalah dan renungkanlah beberapa firman Allah ini,
وَ إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” [QS Al Baqarah: 186]
Perhatikanlah ayat ini. Di dalam Al Quran yang biasa memakai uslub soal-jawab, biasanya setelah disebutkan pertanyaan akan diikuti dengan kata-kata قُلْ (katakanlah), seperti dalam Al Baqarah: 189, 215, 217, dan banyak lagi. Namun dalam ayat ini, Allah tidak menggunakan kata-kata قُل (katakanlah), namun langusung menjawabnya, “فَإِنِّى قَرِيْبٌ أُجِيْبُ …إلخ.” Ini menunjukkan bahwa kedekatan dan janji Allah itu benar-benar haq. Allah berfirman :
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الوَرِيْدِ
Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS Qaf: 16]
Tentu saja kedekatan di sini adalah kedekatan ilmu, bukan Dzat Allah. Sebagaimana kesepakan Ahlussunnah wal Jama’ah. Sedangkan kedekatan Allah itu ada dua, yaitu (1) kedekatan ilmu-Nya, dan (2) kedekatan-Nya dengan orang yang beribadah dan berdoa kepada-Nya dengan pengkabulan, pertolongan, dan taufik (lihat Taisirul Karimir Rahman). Maka, sesungguhnya ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang samar baginya.
Jika Allah saja dekatnya sedemikian, maka tidak perlu lagi mencari tempat-tempat curhat dan mengeluhkan problem kepada selain-Nya. Karena, “Bukankah Allah itu cukup untuk hamba-Nya.” [QS Az Zumar: 36]
Diriwayatkan bahwa dahulu di zaman salaf, segala perkara yang mereka hadapi, kecil atau besar, selalu diadukan kepada Allah. Sampai garam dapur pun, mereka meminta kepada Allah. Atau sebagian riwayat, sampai tali sandal yang terpuus pun, diadukan kepada Allah.
Rasulullah sendiri mengajarkan kepada keponakannya yang masih kecil agar hanya meminta dan memohon kepada Allah, “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah” [Riwayat At Tirmidzi. Beliau berkomentar, “(Hadits ini) hasan shahih.”] Jika anak kecil saja diajarkan seperti itu, bagaimana yang lainnya? Tentu lebih lagi.
Inilah potret pendidikan Rasulullah, yaitu menanamkan akidah yang benar kepada umatnya sejak kecil agar terpatri kuat di sanubari orang tersebut. Dan pendidikan macam inilah yang seharusnya ditiru oleh para orangtua mana pun.
Demikian juga dengan orang yang dirundung bingung antara dua pilihan, jika ia harus memilih.Seluruh ajaran Islam adalah penyeraad diri kepada Allah. Segala masalah harus diserahkan kepada Allah, tidak kepada selain-Nya.
Ketika Anda tertimpa sakit, hendaknya yang pertama kali terbetik dalam hati Anda adalah segera kembali kepada Allah ‘Azza wa Jall.
أَمِنْ يُجِيْبُ المُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَ يَكْشِفُ السُّوْءَ
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” [QS. An Naml: 62]
Ini semua bukan berarti tidak boleh sama sekali meminta pendapat kepada orang lain. Karena Allah sendiri juga berfirman yang artinya, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam perkara itu.” [QS Ali ‘Imran: 159] Akan tetapi, mana yang ia dahulukan. Datang mengadu kepada Allah dahulu, atau mendatangi manusia untuk berkeluh kesah.
Berikut saya kutipkan beberapa hadits beserta sedikit penjelasannya yang berkaitan dengan doa, agar Anda menjadi semakin yakin bahwa kekuatan itu ada pada doa. Dan sesungguhnya seluruh makhluk itu lemah, kecuali orang yang mau berdoa. Bahkan benda-benda mati pun berdoa dan berdzikir, sebagaiman pernyataan Allah dalam surat Al Isra’ ayat 44. Maka jika benda yang tidak berakal saja terus bertasbih dan mengingat-Nya, bagaimana pula dengan manusia yang berakal?!
لا يَرُدُّ القَضَاء إلا الدُّعَاء
Tidak ada yang dapat menolak qadha’ kecuali doa.” [Riwayat At Tirmidzi, Ibnu Hibban, dari hadits Salman Al Farisi. Dinilai shahih oleh Ibnu Hibban. Dikeluarkan juga Al Hakim, dinilainya shahih. At Tirmidzi mengatakan, “Hasan gharib.” Dan tidak menilanya shahih, karena dalam sanadnya terdapat Abu Maudud Al Bashri yang namany adalah Fidhdhah. Abu Hatim berkata,”Dha’if.” Juga ditakhrij oleh Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kubra dan Adh Dhiya’  dalam Al Mukhtarah. Lihat Tuhfatudz Dzakirin hal. 29]
Al Qadhi Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Di dalamnya terdapat dalil bahwa AllahSubahanahu wa Ta’ala menolak dengan doa sesuatu yang telah Dia tetapkan atas seorang hamba. Dalam mas-alah ini telah diriwayatkan banyak hadits. Dan yang menguatkan adalah firman Allah yang artinya, ‘Allah menghapus apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan (apa yang dikehendaki-Nya). Dan di sisi-Nya terdapat ummul kitab.
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ
Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia di sisi Allah dari doa” [Direkam oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Al Bukhari dalam Tarikh-nya,  At Tirmidzi dalam Jami’-nya,  dan Ibnu Majah, Al Hakim dalam Mustadrak-nya, dari hadits Ibunda ‘Aisyah. Al Hakim menilainya shahih, dan disepakati oleh Adz Dzahabi]
Al ‘Allamah Abul ‘Ula Muhammad bin ‘Abdurrahman Al Mubarakfuri rahimahullah mengatakan dalam syarahnya, Tuhfatul Ahwadzi [2421], “Karena di dalamnya (yaitu doa) terdapat penampakkan kefakiran, ketidakmampuan, penghinaan (diri), dan pengakuan terhadap kekuatan dan kemampuan (kudrat) Allah.”
Oleh karena doa itu sesuatu yang mulia di sisi Allah, maka tidak heran jika Rasulullah juga bersabda:
مَنْ لَمْ يَسْأَلِ الله يَغْضَبْ عَلَيْه
Siapa yang tidak meminta kepada Allah, Dia akan murka kepadanya” [Riwayat At Tirmidzi dan Al Hakim, dari hadits Abu Hurairah]
Hadits ini senada dengan firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS Ghafir: 60]
Rasulullah shalawaturrabbi wa salamuh ‘alaih juga pernah bersabda:
لَا تَعْجِزُوْ فِي الدُّعَاءِ فَإِنّهُ لَنْ يَهْلِكَ مَعَ الدُّعَاءِ أَحَدٌ
Jangan kalian lemah (sedikit) dalam berdoa. Karena tidak akan binasa orang yang selalu berdoa.” [Direkam oleh Ibnu Hibban dalam Ash Shahih, Al Hakim dalam Al Mustadrak, Adh Dhiya’ dalam Al Mukhtarah. Ketiganya menilainya shahih. Lihat Tuhfatudz Dzakirinhal. 31]
Allahu a’lam.
Semoga shalawat beriringan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, shahabat, dan siapa saja yang senantiasa mengikuti mereka dengan baik hingga kiamat kelak.


Apa saja tanda-tanda gangguan syetan dalam shalat? Ini dia ulasannya berdasarkan hadits Rasulullah :

(1) Ragu ketika wudhu

Diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dari Ubay bin Ka’ab bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya didalam wudhu ada setan yang dikenal dengan al-Walhan. Karena itu berhati-hatilah kalian dari bisikkan air” (dalam riwayat Ibnu Majah dan al Hakim dengan lafadz “Sesungguhnya dalam wudhu itu ada setan yang dinamakan al Walhan karena itu waspadailah dia”)

Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata, “Termasuk tipu daya syetan yang banyak mengganggu mereka adalah was-was dalam bersuci (berwudhu) dan niat atau saat takbiratul ihram dalam sholat”. Was-was itu membuat mereka tersiksa dan tidak tenteram.

Abu Dawud, Tirmidzi, dan an Nasa’I meriwayatkan dari Abdullah bin Mughofal, Rosulullah bersabda, “Janganlah kamu kencing di air pemandian karena umumnya bisikan itu berasal dari tempat itu”. (Riwayat Abu Dawud dengan lafadz “Janganlah kamu kencing ditempat pemandian lalu mandi di tempat itu”.). Imam Ahmad menambahkan “Kemudian ia berwudhu, karena sesungguhnya was-was itu pada umumnya berasal dari situ”.

(2) Salah Bacaan

‘Utsman bin Abil ‘Ash datang kepada Rasulullah dan mengadu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syetan telah hadir dalam sholatku dan membuat bacaanku salah dan rancu”. Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menjawab, “Itulah syaitan yang disebut dengan Khinzib. Apabila kamu merasakan kehadirannya, maka meludahlah ke kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah Subhaanahu wa ta’aala Akupun melakukan hal itu dan Allah Subhaanahu wa ta’aala menghilangkan gangguan itu dariku” (HR. Muslim)

(3) Lupa Rakaat Shalat

Al Bazzar dan At Thabroni mengkisahkan riwayat dari bapak Abi al Malih bahwa ada seseorang lelaki yang bertanya kepada Rosulullah, “Wahai Rosulullah, aku mengadu padamu tentang bisikkan, yang menimpa dalam sholatku sehingga aku tidak mengetahui apakah bilangan sholatku genap atau ganjil”. Lalu Rosulullah bersabda “Andaikan kamu mengalami seperti itu angkatlah jemari jempol tangan kananmu lalu tusukkan pada paha kiri kamu dan ucapkan ‘Bismillah’, karena itu merupakan pisau setan".

"Jika salah seorang dari kalian sholat, syetan akan datang kepadanya untuk menggodanya sampai ia tidak tahu berapa rakaat yang ia telah kerjakan. Apabila salah seorang dari kalian mengalami hal itu, hendaklah ia sujud dua kali (sujud sahwi) saat ia masih duduk dan sebelum salam, setelah itu baru mengucapkan salam” (HR. Bukhari dan Muslim)

(4) Membuat Ragu Apakah Telah Kentut/ berhadats

Abdurrozaq dan Ibnu ad Dunya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Sesungguhnya setan berputar kepada salah seorang kamu di dalam sholatnya untuk mengganggu sholatnya dan apabila ia tidak berhasil maka setan meniup duburnya hingga ia ragu apakah ia hadas atau tidak. Maka janganlah seseorang kamu berpaling hingga ia mencium bau atau mendengarkan suara”.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan ia berkata, “Sesungguhnya setan-setan mengalir pada peredaran darah manusia hingga ia datang pada salah seorang kamu dalam sholatnya maka ia meniup pada duburnya dan ia membasahi saluran kencingnya kemudian ia berkata ‘engkau telah berhadas’. Maka janganlah berpaling salah seorang kamu hingga ia mencium bau atau mendengar suara atau mendapatkan basah”.

(5) Merasa mengantuk

Ath Thobroni meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Mengantuk ketika berperang adalah ketentraman dari Allah dan mengantuk ketika sholat adalah dari setan”.

(6) Menguap, Bersin, Muntah, Mimisan

Meriwayatkan oleh Ibnu Syaibah dan ath Thobroni ia berkata “Menguap dan bersin dalam sholat adalah dari setan”.

At Tirmidzi dari Dinar ia berkata “Bersabda Rosulullah, "Bersin, mengantuk, menguap dalam sholat, haid, muntah dan mimisan adalah dari setan”.

“Adapun menguap itu datangnya dari syetan, maka hendaklah seseorang mencegahnya (menahannya) selagi bisa. Apabila ia berkata ha… berarti syaitan tertawa dalam mulutnya” (HR Bukhari dan Muslim)

“Apabila salah seorang dari kalian bimbang atas apa yang dirasakan di perutnya apakah telah keluar sesuatu darinya atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid sampai ia yakin telah mendengar suara (keluarnya angin) atau mencium baunya” (HR Muslim).

(7) Mengingat sesuatu yang tadinya terlupa

“Rasulullah saw bersabda, “Apabila dikumandangkan azan sholat, syetan akan berlari seraya terkentut-kentut sampai ia tidak mendengar suara azan tersebut. Apabila muadzin telah selesai azan, ia kembali lagi. Dan jika iqamat dikumandangkan, ia berlari. Apabila telah selesai iqamat, dia kembali lagi. Ia akan selalu bersama orang yang sholat seraya berkata kepadanya: “Ingatlah apa yang tadinya tidak kamu ingat!”, sehingga orang tersebut tidak tahu berapa rakaat ia sholat” (HR Bukhari)

(8) Menoleh kanan kiri ketika shalat

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallaah ‘anhaa, ia berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam tentang hukum menengok ketika sholat”. Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menjawab, “Itu adalah curian syetan atas sholat seorang hamba”. (HR Bukhari)

Wallaahu a'lam bish shawwab. 

Semoga bermanfa'at. Aamiiin..

SUATU saat nanti pasti akan tiba waktunya di mana kita tak lagi bisa lagi berucap dan berbuat karena jasad kita telah ditinggalkan ruh kita.
Saat itu, kita menjadi KENANGAN. Yang dikenang dari kita adalah apa yang telah kita ucapkan dan kita perbuat. Karena itu, mumpung masih ada waktu, ucapkan dan lakukan segala sesuatu yang baik dengan cara terbaik untuk kebaikan diri dan orang lain.

Salah satu teladan baik yang dikenang kebaikannya adalah Nabi Ibrahim AS.
Begitu kuat doa dan usaha beliau untuk mempersembahkan yang terbaik.
Mari kita baca dan renungkan doa yang dipanjatkannya kepada Allah :
"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan pertemukanlah aku dengan orang-orang yang shalih, serta jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang yang datang kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang mewarisi sorga yang penuh nikmat." (QS Al-Syu'ara: 83-85)
Mari kita perhatikan kata "Dan jadikanlah aku buah tutur yang
baik bagi orang yang datang kemudian."
Do'a itu bermakna bahwa nabi Ibrahim as. berkehendak bahwa kebaikan-keaikan yang dilakukannya menjadi kebaikan yang tak pernah mati walau sang pelakunya telah mati. Kebaikan yang menjadi kenangan indah untuk orang - orang yang hidup setelahnya.

Maka...
Jangan biarkan umur kita hanya menjadi angka dari jumlah tahun yang dilalui semasa hidup.
Mari jadikan umur kita adalah kebaikan-kebaikan yang terus berlanjut walau jasad kita telah terbaring di alam kubur.
Para nabi, sahabat, ulama' dan orang orang baik terdahulu telah banyak meninggalkan kenangan indah.
Mari kita tanyakan pada diri kita "Apa yang telah kita lakukan untuk kehidupan pasca kematian kita dan apa yang akan dikenang dari saya andai saat ini kematian menjemput kita ?"
Katakanlah, "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Allah kamu akan dikembalikan." (QS As-Sajdah:11)

Dari megahnya istana istana menuju gelapnya kubur.
Begitulah akhir kisah para raja yang pernah menginjakkan kaki di muka bumi ini. Tak ada bedanya antara yang adil maupun yang dzolim. Semuanya sama di hadapan takdir.

Semasa hidup, mereka mampu membangun istana yang megah. Akan tetapi tak ada daya sedkitpun saat ajal menjemput.
Mereka bahkan harus ditandu menuju gerbang kehidupan yang baru.

Sebenarnya kematian adalah sebuah tabir yang kita tahu bersama, tapi kita tak pernah mau menyikapinya dengan bijak.

Sahabat...
Mari lihat istana itu. Tahukan Anda, kemana perginya pemilik istana itu..?
Iya. Dia baru saja pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Mendekatlah kesini. Coba kita perhatikan pemakaman itu. Di bawah tanah berpasir yang tak istimewa itulah sang pemilik istana terbaring.

Di pemakaman itu dia tak sendiri. Tercatat sejumlah raja dan ratusan keluarga kerajaan dimakamkan di sana. Makam mereka saling berdampingan dengan makam rakyat biasa. Semua tampak sama.

Tak ada bangunan megah bertahbiskan karangan bunga. Tidak juga tulisan Raja Fulan Ibnu Fulan. Bukan karena mereka tak mampu membuatnya. Tapi ini murni soal konsekuensi beragama yang mereka pilih.

Hidup dan mati di atas kemurnian islaam. Lagipula, keindahan makam bukan jaminan sebuah akhir yang indah.

Saya dan anda mungkin bukan raja. Namun, dalam perlombaan menuju Firdaus, saya, anda dan mereka sama di mata Allaah.

Hanya taqwa yang membuat kita berbeda.

Selamat berkumpul bersama keluarga. SEMOGA SELALU BAHAGIA HINGGA KE SYURGA. Aaamiiin..

Saudaraku...
Pernahkah kita merasakan penatnya hidup ?
Ketika air mata tak sanggup lagi melukiskan beban...
Ketika saudara tak lagi mampu jadi teman berbagi...
Seolah bumi tak lagi bersahabat dengan suasana hati...

Ingatlah saudaraku...
Saat itu Allah sedang menunjukkan cinta-Nya pada kita..
Cinta yang pernah Allah letakkan pada Nabi Ibrahim as. saat mengujinya dengan api.
Cinta yang pernah Allah lukiskan di hati Nabi Ayyub as. dengan ujian penyakit
Cinta yang pernah Allah hujamkan pada Rasulullah Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ dengan ujian dari kaum kafir.
Cinta yang sama, yang pernah Allah tanamkan di hati para nabi melalui ujian.
Meski kadarnya tak sama, tapi itu adalah bagian dari Cinta Allah.

Saudaraku...
Allah bebankan masalah di pundak kita ..
Agar kita menunduk Sujud pada-Nya.
Allah teteskan kepedihan di qalbu kita..
Agar air mata kita mengalir mengingat-Nya.
Allah letakkan kesempitan di hati kita..
Agar kita mengingat-Nya, melapangkan hati.
Semua, karena Allah mencintai do'a dan sujud kita, memohon pada-Nya.

Saudaraku...
Bukankah mereka yang beriman pasti Allah uji?
Sebagai pembuktian bahwa kita orang yang beriman.
Beriman pada Allah saat lapang dan sempit.
Lalu, pantaskah kita memohon syurga tanpa ujian?
Ya, Orang beriman pasti mendapat ujian.

Saudaraku...
Jika hari ini pundak kita terlalu berat menahan masalah..
Saat itu, sajadah menunggu kita untuk bermunajat.
Saat itu juga Allah sedang menanti kita untuk memohon.
Memohon belas kasih dan cinta-Nya.                          
Wallaahu a'lam bish shawwab..
Semoga Bermanfaat
OASE DAKWAH
Senin, 2 November 2015
Oleh: Fahriah


Aku temui seseorang yang tutur bahasanya indah.
Aku turut mencari tau keberadaannya.
Hingga aku hanya ingin berhenti menangis, melihat bahwa ternyata ia seorang ahli tahajud.

Aku dapati beberapa orang yang cukup angkuh kepada diriku.
Aku tersenyum dan ingin berhenti menangis. Sebab mereka selalu memberi aku kabar pekerjaan dunia baginya sudah terlalu banyak, jangan coba mengajaknya berbicara.

Aku pandang satu persatu wajah sahabat-sahabatku.
Aku hanya ingin berhenti menangis, benar adanya mereka cermin bagiku.
Semampunya aku bersyukur juga berupaya memohon kebaikan dariMU bagi mereka.

Aku lalui hari demi hari, dan selalu mengingat hari kemarin aku ingin berhenti menangis kenapa begitu banyak penyesalan dalam hidupku.

Karena kini aku mampu bertilawah dalam keseharian hidupku.
Aku mampu menemui sebuah nama yang aku ingin jumpai.
Namun aku tak berhenti menangis sebab aku lupa merangkai ibroh yang Engkau titip kan pada mereka.

Rabbi, aku ingin menanam cinta atas kehendakMU, walau aku tak tau bagaimana bisa berhenti menangis.
Tak ada tawar menawar, bosan pada diri agar segera berbenah, sepanjang ruang waktu mengakui keberkahan itu ada pada RidhoMU.

Divisi Tarqiyah Imaniyah PSDM ODOJ
DTI/80/02/11/2015
oaseodoj@gmail.com